Part 18

86 10 2
                                        

Pintu kamar dibuka. Amadhea keluar dari kamarnya. Ia melihat ke sekeliling. Seseorang mengintip di balik dinding samping kamarnya. Amadhea berlari ke arah sana yang menuju ke kamar orang tuanya. Terdengar suara tawa anak kecil yang menggema di lantai dua itu

Amadhea melihat sosok anak kecil itu berlari masuk ke kamar orang tuanya. Kini Amadhea berdiri di depan pintu kamar mendiang ayah dan ibunya yang setengah terbuka. Tangannya bergerak menyentuh knop lalu mendorong pintu tersebut. Namun, niatnya urung. Ia memilih menarik pintu kamar tersebut untuk menutupinya.

Tetapi, Amadhea merasakan pintu itu ditarik dari dalam oleh seseorang. Ia melepaskan pegangannya pada knop pintu kemudian ia berlalu untuk kembali ke kamarnya.

Kreeeeeekk, pintu kamar orang tua Amadhea perlahan terbuka. Sosok anak kecil itu berdiri di ambang pintu.

Amadhea mendengar jelas suara pintu yang terbuka itu, tapi ia pura-pura tidak mendengarnya.

Tiba-tiba Amadhea mendengar suara teriakan anak kecil yang memekakkan telinga dari kamar orang tuanya. Gadis itu sampai berjongkok sembari menutupi telinganya dengan kedua tangan.

Suara teriakan anak kecil itu masih menggema di dalam rumah tua bertingkat dua itu. Amadhea berbalik melihat bukunya dilempar dari kamar tersebut disertai bantingan pintu yang keras.

Amadhea menelan saliva kemudian ia bangkit. Perlahan gadis itu berjalan dan mengambil bukunya. Ia melihat bukunya yang sudah dicoret-coret dengan krayon merah.

Mau marah, tapi marahnya sama siapa? Mau kesal, ya... nggak bisa.

Amadhea merogoh sakunya dan mengambil ponsel dari dalam sana. Ia menelepon seseorang.

"Zahra?"

"Iya, Dhea?" Zahra menjawab setelah panggilan mereka tersambung.

"Boleh aku meminjam buku Kimia punya kamu? Buku Kimia punyaku basah jatuh ke air pel," ucap Amadhea.

"Iya, boleh. Besok, ya."

"Tolong fotoin tugas Kimia yang minggu lalu. Soalnya aku belum sempet ngerjain," pinta Amadhea.

"Oh, yang minggu kemarin. Sebentar, ya. Aku fotoin dulu. Nanti aku kirim ke chat," kata Zahra.

"Okay, aku matiin teleponnya, ya."

"Iya."

Panggilan pun berakhir. Amadhea melihat bukunya yang sudah merah semua isinya. Gadis itu membuka lembar demi lembar buku tersebut berharap masih ada catatan yang bisa ia selamatkan. Setidaknya ia bisa mencatat sebagian catatan Kimia kalau masih ada catatan yang aman.

Namun, ada hal lain yang membuatnya sangat terkejut, yaitu dimulai dari lembar tengah ada tulisannya. Amadhea membacanya dalam hati.

AKU PIKIR AKU SUDAH BESAR.

Amadhea membuka lembar selanjutnya. Semuanya ditulis dengan krayon merah.

TERNYATA AKU MASIH KECIL.

Amadhea menelan saliva. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Ia melanjutkan membuka lembar selanjutnya.

KENAPA MAMA DAN PAPA MENGURUNGKU DI RUANGAN ITU SAMPAI MATI? APA KALIAN MEMBENCIKU?

Amadhea semakin cepat membuka lembarannya dan membacanya.

AKU TIDAK SALAH!

KENAPA MEMBENCIKU?! AKU TIDAK PERNAH INGIN DILAHIRKAN!

KALIAN YANG MEMBUATKU LAHIR KE DUNIA, KALIAN JUGA ALASANKU BERAKHIR TRAGIS DALAM KEMATIAN YANG MENAKUTKAN!

BUKA PINTUNYA! BUKA!

Amadhea mendengar suara gedoran pintu kamarnya. Tangannya yang memegang buku gemetar. Ia membuka halaman berikutnya

SURREPTITIOUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang