Part 33

65 8 0
                                        

Amadhea melihat ibunya memeluk anak laki-laki itu.

"Mama, Papa," panggil Amadhea.

Tampaknya Sudarman dan Ayuni tidak bisa melihat Amadhea. Bahkan saat Amadhea menyentuh orang tuanya, tangannya menembus tubuh mereka.

Ayuni menuangkan nasi dan lauk untuk anak laki-laki itu. Amadhea merasa cemburu melihat itu, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain melihat mereka.

Anak laki-laki itu tertawa senang.

Deg!

Suara tawa anak kecil itu sangat familiar. Itu adalah suara yang sama yang sering terdengar saat hantu anak kecil penunggu ruang tersembunyi di dekat tangga muncul.

Amadhea menelan saliva. "Jadi, anak itu... anak Mama dan Papa? Lalu... lalu aku siapa?"

"Nino, makan yang banyak, ya. Biar kamu kuat dan bisa melindungi Mama kelak," kata Ayuni lembut.

Anak laki-laki yang memiliki nama Nino itu menganggukkan kepalanya semangat. Ia pun makan.

Amadhea memperhatikan anak laki-laki itu. Ia membatin, dia memang mirip Papa. Bahkan sangat mirip. Kalau dipikir-pikir, aku tidak ada miripnya sama sekali dengan orang tuaku. Tapi, kalau aku anak angkat, kenapa test DNA itu sangat cocok?

Sudarman meletakkan garpu dan sendoknya dengan agak kasar membuat suara berdeting karena berbenturan dengan piring. Ayuni dan Nino terkejut. Mereka berdua menatap Sudarman, tak terkecuali Amadhea.

"Selera makanku hilang." Setelah mengatakan itu, Sudarman beranjak dari kursinya kemudian berlalu.

Amadhea menatap punggung ayahnya yang menghilang di balik pintu. Ia tidak mengira ayahnya akan bersikap seperti itu. Amadhea kembali menoleh pada Ayuni dan Nino.

Nino menangis. Suara tangisannya juga mengingatkan Amadhea dengan suara tangisan hantu anak kecil di ruangan itu.

Ayuni mengusap rambut Nino. "Nino lanjutkan makannya, ya. Mama harus bicara dulu dengan Papa."

Nino hanya mengangguk. Ia menunduk sepeninggal Ayuni yang berlalu keluar dari dapur.

Amadhea masih berdiri memperhatikan Nino yang melamun dan tidak melanjutkan makannya. Gadis itu menyusul ibunya. Ia melihat Ayuni dan Sudarman sedang bertengkar. Seumur hidup, baru kali ini Amadhea melihat pertengkaran orang tuanya.

"Mas, kalau kamu begini terus, Nino jadi takut sama kamu. Mau bagaimana pun Nino anak kandung kita," kata Ayuni.

Amadhea mendengarkan.

"Aku benar-benar tidak menyukai anak itu. Setiap aku melihatnya, aku aku benar-benar kesal," gerutu Sudarman.

"Mas...."

"Kenapa, Ayuni? Kenapa kamu melahirkan anak cacat seperti itu?!" teriak Sudarman memotong ucapan Ayuni.

Amadhea menutup mulutnya. Ia tidak mengira ayahnya akan bicara kasar seperti itu. Amadhea melihat Nino yang mengintip di ambang pintu dapur. Amadhea yang awalnya kesal dan cemburu menjadi iba pada Nino.

"Mas, jangan keras-keras, nanti Nino dengar," kata Ayuni.

Sudarman mengusap kasar wajahnya. "Sudah aku bilang, buang saja anak itu ke panti asuhan. Merlin benar, Nino seharusnya tidak lahir ke dunia ini."

Amadhea menautkan alisnya. Tante Merlin selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang tuaku... bahkan ternyata sejak dulu. Jadi, Tante Merlin tahu tentang Nino? Itulah sebabnya dia menganggapku bukan anak kandung Papa dan Mama.

Ayuni tidak bisa menahan air matanya yang kini mengalir membasahi pipinya. "Mas menyalahkanku?"

"Kalau bukan salahmu, salah siapa lagi?! Kamu memaksaku untuk mempertahankan anak itu!" bentak Sudarman.

SURREPTITIOUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang