Yaku menghembuskan napas panjang seraya menatap gadis yang saat ini terbaring lemah dengan tangan terpasang infus.
Setelah kejadian menggemparkan kemarin, (Name) belum juga sadar, hal itu membuat teman-temannya semakin khawatir. Bahkan sampai sekarang Yaku belum berani memberi tahu orang tua sang gadis karena takut menambah kekhawatiran mereka.
"Kapan lo bangun, (Name)?" Yaku berbisik pelan.
Matanya kemudian beralih pada televisi yang menayangkan penangkapan seorang pengusaha.
BERITA TERKINI: PENGUSAHA TAMBANG BERINISIAL (AH) DIDUGA MELAKUKAN PENGGELAPAN UANG DAN KORUPSI. ASET SEPERTI RUMAH, MOBIL, DAN TANAH YANG DIMILIKINYA BERHASIL DISITA PIHAK KEPOLISIAN.
Saat Yaku fokus menonton, telinganya menangkap suara derit pintu yang terbuka diiringi langkah kaki mendekat. Tanpa menoleh, Yaku sudah tahu siapa yang datang.
"Lo yang ngelakuin ini?" Yaku melirik cowok sipit di sebelahnya. "Bukannya udah disepakati kalau kita bakal nunggu (Name) sadar?" tanyanya, menuntut dengan menunjuk televisi dan (Name) secara bergantian.
Suna melepas topi yang dipakainya sebelum duduk di samping ranjang (Name). Tangannya menyangga dagu, mata sipitnya ikut melirik televisi yang masih menayangkan berita tersebut.
"Kelamaan." Satu kata itu keluar dari bibirnya, membuat Yaku mendengus.
"Lo yang gak sabaran!" Yaku menunjuk Suna dengan remote yang dipegangnya. Meski kesal, ia tak bisa berbuat banyak karena tahu Suna memang sulit dihentikan.
"Sakusa ke mana?" tanyanya lagi ketika melihat Suna malah iseng menusuk-nusuk pipi (Name) dengan telunjuk.
"Mati," ceplos Suna.
"Sembarangan!" Yaku menepis tangan Suna dan mendelik tajam agar tidak mengganggu adik sepupunya.
Suna nyengir. "Mati for makan hati. Sakusa dari kemarin lagi sensi karena jadi saksi. Dia udah kayak singa kelaparan, semuanya dimarahin." Ia meluruskan, kemudian menghela napas panjang dengan nada dibuat-buat seolah pura-pura lelah.
Yaku mengernyit. "Masih di kantor polisi, emangnya?"
"Enggak. Dia di depan sama Akaashi," jawab Suna santai, lalu kembali beralih pada (Name) dan mencolek lengannya. "Kapan bangun, sih? Tanggung jawab dong sama kekacauan yang lo bikin. Enak banget tidurnya."
"Kuroo gimana? Masih kekeuh mau masukin Cheryl ke penjara?" Yaku kembali bertanya. Ia memang hanya menjaga (Name) di rumah sakit, sementara Suna dan Sakusa yang mengurus sisanya.
"Masih, tapi udah gue kasih tau, Cheryl ada di pusat rehabilitasi," sahut Suna.
Yaku melongo. "Hah? Gak jadi dibawa ke psikiater?"
"Enggak. Dia teridentifikasi pake obat-obatan terlarang."
Wajah Yaku tampak terkejut, berbeda dengan Suna yang justru terlihat santai, seolah kabar itu bukan hal baru baginya.
"Orang sakit! Gue bener-bener nggak bisa kasihan lagi," geram Yaku.
Suna melirik jahil. "Kan aku dah katee~," ujarnya dengan nada ala Mail.
Yaku mencibir. "Lo udah makan belum?"
"Belum, kenapa? Mau suapin aku kah?" Suna terkikik geli.
"Najis!" Yaku menendang kaki cowok sipit itu dengan kesal.
Sebenarnya Yaku malas dengan kehadiran Suna di sini. Tapi mau diusir dengan cara apa pun, Suna tetap bandel menunggu (Name) sadar. Katanya, kalau sewaktu-waktu (Name) bangun, ia bisa langsung mengagetkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
Fanfiction(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
