[64] Kesaksian (Name)

4.8K 492 164
                                        

Seminggu sudah berlalu sejak (Name) dirawat di rumah sakit. Kini, setelah pulih, ia akhirnya diizinkan untuk pulang.

"Dah, habis ini jangan cari penyakit lagi, ya." Yaku mengingatkan ketika mereka melangkah ke luar rumah sakit.

(Name) manyun mendengar itu. Mana ada hari sial di kalender? Mana dia tahu kalau kejadian tempo hari bakal bikin dirinya terluka separah itu sampai harus opname?

Dalam hati ia ngomel, tapi bibirnya hanya mampu menjawab singkat, "Iyaa."

Suna yang sedari tadi ikut berjalan di sebelahnya malah cekikikan, jelas terhibur melihat wajah sebal (Name). Senyumnya lebar, terkesan meledek.

"Makanya, jangan bandel. Lain kali dengerin temen lo." Suna senggol pelan lengannya. "Habis ini istirahat di asrama, jangan macem-macem dulu. Deal?"

"Bawel!" (Name) melotot, membuat Suna makin geli.

"Yeh, dibilangin malah nyolot. Dikasih kesempatan sama Tuhan jangan disia-siain. Pake otak lo, jangan cuma positive thinking apalagi sama orang kayak Cheryl. Udah nyakitin lo berkali-kali masih aja lo percaya." Nada suaranya berubah serius. "Yang sayang sama lo tuh banyak. Orang tua lo, Yaku, temen-temen lo. Lo sadar gak kalo udah bikin banyak orang khawatir?"

(Name) tercekat, lalu menjawab lesu. "Iya... maaf."

"Jangan iya-iya doang!" Suna mencubit pipinya.

"Sakit, anjir!" (Name) mengaduh.

"Gak usah cari kesempatan!" Yaku menabok lengan Suna, lalu beralih menatap (Name). "Walaupun Suna dablek, gue setuju sama dia. Banyak yang sayang sama lo. Jadi lo gak boleh gegabah lagi, oke?"

Suna mencibir ketika Yaku mengatainya dablek. Memang susah ya jadi dirinya. Ngomong benar pun masih kena hujat. Apa ini karma karena dirinya selalu menyebarkan gosip hingga membuat orang-orang dihujat?

"Iyaa, Yaku. Gue kali ini bakalan ekstra hati-hati!"

"Bagus." Yaku mengusap puncak kepalanya lembut. "Ayo pulang."

Namun—

"(NAME)!!"

Suara familiar itu membuatnya refleks menoleh. Begitu berbalik, tubuhnya langsung disergap dalam pelukan hangat. Tubuhnya bahkan sempat terdorong ke belakang karena begitu tiba-tiba.

"Astaga... Ayah khawatir banget sampe rasanya mau mati!" Pria paruh baya itu menghela napas berat, lalu mengecek tubuh putrinya, memastikan keadaannya. "Kamu beneran gapapa, kan? Ada yang sakit gak? Lukanya parah gak?"

(Name) melotot kaget, lalu menoleh ke arah Yaku yang hanya mengangguk samar. Jelas sudah: pasti Yaku yang memberitahu Ayahnya.

Meringis kecil, (Name) menepuk punggung sang ayah yang jantungnya masih berpacu cepat. "Tenang, Yah... Aku dah gapapa kok."

"Tenang gimana?! Ayah hampir kena serangan jantung waktu Yaku bilang kamu di rumah sakit!" Nada suara ayahnya meninggi, penuh cemas. "Kenapa ayah baru tau setelah seminggu kamu di sini?! Harusnya ayah jadi orang pertama yang tau!" Tangannya menggenggam bahu anaknya erat, seakan tak percaya ia masih berdiri di depannya.

Helaan napas panjang lolos dari bibir sang Ayah. Jemarinya menekan pelipisnya dengan lelah. "Gimana ayah bisa tenang kalau dapet kabar putri ayah dicelakai orang?" Tatapannya melembut, penuh sayang.

(Name) menunduk, merasa bersalah. "Maaf, Yah..."

Ayahnya mengusap rambut sang anak lalu kembali memeluknya erat. "Ayah lega kamu masih ada di sini. Tapi, tolong... jangan taruh diri kamu di situasi berbahaya lagi, ya?"

HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang