"Aduh, saatnya kita berbaring di kasur empuk kita!" Mai meregangkan badannya dengan senyum merekah. "Abis ini gue langsung tidur!" Ia bersorak gembira seiring dengan langkah kakinya yang berjalan keluar sekolah.
(Name) tersenyum, geleng-geleng kepala. "Tidurlah. Gue ada urusan bentar, nanti gue nyusul."
Mai berbalik-menatap (Name) heran. "Loh? Gak langsung ke asrama?"
"Enggak, mau ngobrol sesuatu sama Cheryl dulu."
"Hah, Cheryl?! Mau ngomong apaan lo?" Mai berseru kaget.
(Name) mengangkat bahu santai. "Entah. Kayaknya soal yang tadi, mungkin sekalian minta maaf juga?"
Mai terdiam sesaat. Entah mengapa dia merasa janggal dan gelisah mengenai Cheryl yang tiba-tiba ingin membicarakan sesuatu berdua saja dengan (Name).
"Aneh banget sih tuh orang." Mai menggumam. Keningnya mengerut seolah sedang berpikir sebelum menatap (Name) dengan harap. "Gue ikut, gimana?" Ia meminta.
"Gak usah. Takutnya ada yang dia pengen omongin berdua. Privasi gitu." (Name) menolak lembut. "Kalo lo mau, tunggu aja di sini. Gak lama kok, paling sepuluh menitan."
"Seriusan lo?" Mai menatap (Name) ragu. "Perasaan gue kayak gak enak gini ya. Gue temenin aja deh, yuk!"
(Name) menepuk pundaknya, berusaha menenangkan. "Santai. Gue cuma bentar. Nih, kalo sepuluh-dua puluh menit gue gak balik, lo susulin aja ke rooftop."
Mai masih diam, pandangannya sulit lepas dari wajah (Name). "Tapi-"
Tatapan yakin dari (Name) langsung memotong keraguannya.
"Hah... yaudah deh." Mai akhirnya menghela napas. "Jangan lama-lama, ya?"
Senyum (Name) mengembang. "Siap, bos!" Ia memberi gestur hormat. "Gue cabut dulu, ya! I'll be back, oke?"
Mai mengangguk pelan, meski hatinya masih berat. Ia berdiri di tempat, menatap punggung (Name) yang menjauh. Perasaan gak enak terus mengganggu pikirannya.
Ia hanya bisa berharap Cheryl gak akan ngelakuin macam-macam.
Lagian ini masih di kawasan sekolah, kan? Harusnya aman.
... Harusnya.
>><<
(Name) menemui Cheryl sesuai dengan tempat yang telah mereka sepakati tadi. Matanya mengedar begitu menginjakkan kakinya di rooftop. Ia tidak melihat tanda-tanda kehadiran gadis itu di sana.
"Cheryl?" panggilnya.
"(Name)."
Ia menoleh. Cheryl berdiri di belakangnya, kepala sedikit tertunduk, bahunya bergetar halus. Dari sela rambut yang tergerai, masih terlihat jejak air mata di pipinya.
"Lo.. gapapa?" tanyanya hati-hati.
Cheryl menggeleng cepat, lalu memaksa senyum tipis. "Gapapa."
(Name) mengernyit. Ia bisa saja mendesak, tapi memilih tidak. "Oke... jadi, lo mau ngomong apa?"
Cheryl berjalan melewatinya, lalu berdiri di dekat pembatas rooftop. Ia memejamkan mata, menghirup angin sore dalam-dalam. Sesaat kemudian, ia berbalik menatap (Name).
"Gue mau minta maaf," ucap Cheryl lirih. "Gue tau yang gue lakuin ke lo salah. Gue bohong, gue jahat. Tapi... itu semua karena bokap gue maksa. Dia paksa gue demi reputasi bisnisnya."
(Name) mendengarkan curhatan Cheryl dengan seksama. Sebagai seorang anak, (Name) merasa kasihan dan sedih karena Cheryl harus mengalami hal-hal buruk yang dilakukan oleh sang ayah, tetapi sebagai seorang korban yang dilakukan sedemikian buruknya, (Name) tak pantas untuk bersimpati pada pelaku kejahatan yang sudah mencelakainya. Tapi untuk saat ini, (Name) akan mendengarkan isi hati Cheryl yang mungkin tidak bisa ia katakan pada orang lain. (Name) akan menutup mata dan tidak mengungkit hal-hal yang sudah Cheryl lakukan padanya. Saat ini, (Name) akan menganggap Cheryl sebagai seseorang yang putus asa dan sedang memerlukan teman untuk bercerita.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!
Fanfic(Fullname), murid pindahan dari SMA Sukawaras, awalnya mengira hidupnya akan berubah lebih baik setelah masuk ke SMA Haikyuu Elite--sekolah elit dengan segala fasilitas mewah: asrama keren, gedung tinggi ber-AC, kolam renang bersih, dan bahkan lift...
