[62] Pertimbangan

4.1K 530 186
                                        

Setelah menunggu hampir tiga jam dengan perasaan campur aduk, akhirnya Yaku bisa bernapas lega begitu dokter keluar dari ruang operasi.

"Pasien sudah melewati masa kritis. Untungnya dibawa tepat waktu dan langsung ditangani. Sekarang tinggal menunggu pasien sadar," jelas dokter.

Serentak, napas lega terdengar dari mereka berlima. Yaku menunduk, menangkup wajahnya, lalu mengucap syukur berulang kali.

"Terima kasih banyak, Dok!" serunya penuh rasa haru.

Dokter hanya menepuk pundaknya singkat sebelum beranjak.

"Sak… gue gak tau harus gimana lagi buat terima kasih," ucap Yaku, tiba-tiba berlutut di depan Sakusa.

"Bang, jangan gini…" Sakusa buru-buru menariknya berdiri, jelas merasa tidak enak. "Nyelametin (Name)  gue lakukan. Jadi lo gak perlu merasa berutang budi."

Yaku hanya bisa mengangguk, menepuk pundaknya, lalu menarik napas panjang. Namun sorot matanya berubah tajam.

"Gue gak akan diem aja! Cheryl udah keterlaluan—berani-beraninya nyelakain (Name)! Gue bakal lapor polisi!"

Sakusa segera menahan. "Bang, bentar. Gimana kalau kita tunggu (Name) sadar dulu? Sebelum kejadian itu, mereka sempet ngomongin sesuatu. Gue yakin (Name) gak akan setuju Cheryl langsung dilaporin."

Yaku mendengus. "Gue gak peduli! Gue bakalan lapor polisi!"

"Bang—tolong.. gue yakin (Name) punya alasannya," pinta Sakusa.

"Yak, gak ada salahnya buat dengerin Sakusa, barangkali memang (Name) punya alasan tersendiri." Sugawara buka suara, mendukung usulan Sakusa.

Suna ikut mengangguk. "Setidaknya, jangan bikin usaha (Name) sia-sia. Gue gak tau alasannya apa, tapi dia pasti punya pertimbangannya sendiri."

Daichi menambahkan dengan nada tegas, "Pikirin baik-baik, Yak."

Hening sejenak. Yaku mendesah panjang sebelum akhirnya mengangguk. "Oke, kita tunggu dia sadar dulu."

Sakusa tersenyum tipis. Yaku menepuk pundaknya lagi, sempat menatap seragam Sakusa yang masih berlumuran darah. Dahi Yaku berkerut.

"Lo ganti baju sana. Gue tau lo paling gak suka kotor kayak gini."

Baru saat itu Sakusa ikut melirik seragamnya, sadar betapa kotornya ia. Saking paniknya tadi, ia bahkan lupa dirinya sendiri.

Suna tertawa. "Fix abis ini lo bakal mandi antiseptik seember."

Iris kelam Sakusa menatap tajam pada Suna yang menyender di tembok seraya melempar seringai mengejek. Menyebalkan.

"Sana ganti baju. Sekalian cari makan juga. Gue bakal jaga di sini." Yaku kembali menyuruh, kemudian matanya beralih pada kedua temannya. "Kalian juga."

"Kita temenin lo dulu di sini. Biar Sakusa sama Suna cari makan, nanti gantian." Sugawara menyarankan.

Suna menunjuk dirinya sendiri—agak kaget, sedangkan Sakusa ikut melirik dirinya dengan sinis.

"Iya, sana cari makan. Nanti gantian. Emangnya kalian gak lapar?" tanya Daichi.

Kedua orang itu saling pandang sebelum sama-sama menghela napas dan mengangguk. Yah, meskipun terlihat enggan, Sakusa dan Suna akhirnya nurut. Keduanya beranjak dari kursi dan berlalu.

"Lo gak mau ganti baju dulu? Gue gak punya kaos sih, tapi ada jaket gue. Mau pake?" Suna menawarkan.

Mata sipitnya menatap pada seragam Sakusa yang penuh darah. Melihatnya saja sudah membuat Suna agak bergidik, apalagi kalau mengingat darah itu berasal dari gadis yang masih berbaring di dalam sana.

HAIKYUU X READERS || HIGH SCHOOL ELITE!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang