Kenyataannya, hidup ini adalah tentang kembalinya pada pangkuan Tuhan.
A
T
H
A
L
A
•••••
"Makasih ya!" ucap Athala setelah turun dari motor milik Rafka.
"Kalo ada apa-apa langsung kabarin gue," pesan cowok itu pada gadis yang kini berdiri di sampingnya.
Athala mengangguk penuh semangat, "siap, Tuan!" kelakarnya. Satu tangannya membentuk tanda hormat di kening, membuat Rafka seketika merasa gemas. Cowok itu menampol pipis Athala pelan dengan senyuman manis di bibirnya.
"Sakit, Rafka!" keluhnya dengan nada bicara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
"Mau lagi?"
"Ish! Ngeselin," Athala memukul pelan pundak Rafka. "Yaudah, gue masuk dulu!" pamitnya. Setelah itu ia langsung melenggang masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Rafka yang masih menatapnya punggungnya.
Athala membuka pintu perlahan, kedua matanya mengedarkan pandangan keseluruh rumah. Hening, satu kata untuk menggambarkan suasana rumahnya. Di jam-jam saat ini tidak mungkin jika Mario dan Erna berada di rumah. Keduanya pasti telah bergelud dengan kesibukannya masing-masing yang entahlah Athala sendiri tidak pernah tau dan tidak ingin tau.
Athala melangkah kearah ruang tengah. Di sana matanya menangkap satu manusia yang memang keberadaannya sedang ia cari. Athala menghampiri gadis itu dengan segera, ada banyak hal yang ingin ia omongkan dengan gadis yang selama ini menyandang sebagai adiknya.
"Agatha!" serunya dari arah belakang.
Akibat teriakan Athala yang begitu keras sang empu langsung menoleh kearah sumber suara. Gadis itu nampak menghela nafas kasar karena merasa terganggu dengan kehadiran Athala. "Masih berani pulang juga lo, Kak?" tanyanya dengan tersenyum miring.
"Ngaku! Sebenarnya lo kan yang ngambil uang itu?" serobotnya penuh emosi. Ia sangat yakin jika sebenar Agatha yang telah mengambil uang Mario, sebab beberapa hari yang lalu ia tak sengaja memergoki gadis itu keluar dari kamar orang tuanya.
Agatha menatap tajam kearah Kakaknya, ia merasa tidak terima atas tuduhan yang baru saja Athala ucapkan.
"nggak usah memutar balikkan fakta! Kalo lo yang salah, yaudah salah aja. Nggak perlu nuduh gue," sanggah Agatha. Gadis itu hendak beranjak dari tempat duduknya, namun bahunya segera di cekal oleh Athala.
"Tunggu! Gue belum selesai." Athala mecengkram kuat bahu gadis itu, hingga sang empu sempat merintih kesakitan.
"Apaan sih!"
"Sekali lagi gue tanya sama lo! Lo kan yang ngambil uang itu?!" desak Athala. Ia hanya butuh pengakuan langsung dari mulut Agatha, karena ia perlu bukti untuk membersihkan namanya di hadapan Mario dan Erna.
"Kalo gue udah bilang nggak, ya nggak!" Agatha menepis kasar cengkraman Athala pada bahunya, "lagian Papa selalu ngasih jatah bulanan yang lebih banyak ke gue. Jadi buat apa gue ngambil duit itu, palingan juga lo yang ngambil, kan jatah bulanan lo lebih sedikit dari gue." Lagi-lagi gadis itu mengelak, sorot matanya menatap ke arah Athala penuh kebencian.
Athala menggeram marah, gadis yang usianya dua tahun lebih muda darinya ini rupanya benar-benar berhasil memancing amarahnya. Athala tidak tahan lagi, jika tidak ingat siapa gadis di depanya ini ingin rasanya ia menyumpal mulut adiknya saat ini juga.
"Anak baru kemaren omongannya udah kayak paling tau segalanya. Lo lupa gue siapa? Gini-gini gue juga kakak lo!" Athala tersenyum kecut, "bocah nggak tau atitud," celetuknya. Kemudian ia memilih pergi meninggalkan gadis itu. Rasanya percuma ia memaksa gadis itu untuk mengaku, sebab ia sudah tahu betul sifat Agatha yang keras kepala hampir sebelas dua belas denganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHALA MISERY
Teen Fiction"Gue gila!" "Gue bodoh!" "GUE NGGAK BERGUNA!" jeritnya keras. Bibirnya tersenyum hambar, meskipun matanya tak berhenti mengeluarkan air mata. Ia merasakan sesak yang begitu dasyat di dadanya. Dan lagi-lagi darah kembali mengalir dari hidungnya, Ia b...
