Now Playing : Ariana Grande - We Can't Be Friends
🩵🩵
Semuanya terasa hening dengan jantung bertalu begitu kencang. Tatapan memohon dan juga putus asa di hadapanku ini membuyar semua keyakinan yang sudah kubangun semalam. Perkataan Aretha, keyakinan Azka padaku, dan juga tunangannya Dinda yang mengharapkan aku melepaskan laki-laki di hadapanku ini saat aku tiba di Indonesia waktu lalu. Jemariku bergetar dengan hebat, semua ketakutan dan kegugupan begitu tampak jelas terlebih saat ini aku sedang menggenggam sendok. Aku menutup wajahku dengan tangan. Semuanya hancur sudah, pertahanan yang selama ini aku pendam dan semua keraguan. Aku memang masih sangat mencintai laki-laki di hadapanku ini. Semuanya menjadi rumit kalau saja aku tidak kembali ke tanah air. Semuanya mungkin akan berjalan baik-baik saja kalau aku tidak kembali.
"Kita jahat, Za. Kita jahat kalau kembali bersama. Kamu gak pikirkan apa yang Dinda rasakan? dia wanita dan aku juga wanita, aku tahu rasanya bagaimana diposisi Dinda," Ujarku dengan nada bergetar masih tidak berani menatap Ezra.
Kepalaku kembali menggeleng kuat. Sepenuhnya sudah sadar, ucapan Ezra tadi cukup membuatku buyar dan bisa saja menghancurkan semuanya. Banyak hati yang terluka jika kami kembali bersama. Hal yang paling tidak bisa aku bayangkan adalah bagaimana dengan hati Azka kalau aku hancurkan kebahagiaannya dalam sekejab terlebih Azka begitu sabar menunggu sampai hatiku siap bersamanya.
"Aku gak bisa. Aku minta maaf, aku gak mau kita menjadi manusia paling egois hanya memikirkan kebahagiaan kita saja. Aku gak bisa, Za. Aku mohon lepaskan aku kali ini. Kamu hidup bahagia bersama Dinda dan aku hidup bahagia bersama Azka. Tuhan tidak takdirkan kita untuk bersama. Ikhlaskan aku demi kebahagiaan bersama." Kataku terbata, mataku menatapnya dengan wajah memohon kali ini dan Ezra ku perhatikan sudah menatapku dengan wajah pucatnya.
Air mata turun. Laki-laki ini bangkit dan berjongkok sambil menggenggam tanganku. Tangisnya pecah saat ia menguburkan wajahnya di tanganku. "Aku gak akan pernah bisa jalani semuanya tanpa kamu, Re. Kamu berarti bagi aku. Aku minta maaf karena telat perjuangin kamu kembali. Aku menyesal. Tolong beri aku kesempatan, aku gak bisa kehilangan kamu..."
Oh Ezra, andaikan posisi kita tidak sesulit ini aku pasti akan kembali sama kamu. Namun, semuanya begitu rumit.
Aku menangis tergugu. Kami berdua menangis tanpa menghiraukan pasang mata yang mungkin penasaran dengan kami berdua apalagi saat ini Ezra sedang berjongkok di hadapanku sambil terus menangis dan menggenggam tanganku dengan erat.
"Kita sudahi aja apa yang pernah terjadi di antara kita, anggap aku ini adalah masa lalu kamu dan Dinda adalah masa depan kamu. Banyak hati yang tersakiti kalau kita bersama, aku gak mau jadi perempuan yang egois. Aku harap kamu ngerti dengan keputusan aku ini." Aku menghela nafas sembari menghapus air mata di pipi dengan kasar, tangan yang tadi di genggam erat oleh laki-laki yang sedang berjongkok di depan ku ini sengaja ku lepaskan dengan terpaksa lalu bangkit dari kursi.
"Ezra, aku mohon sama kamu. Ini adalah pertemuan kita terakhir kali. Aku udah putuskan gak bisa kembali sama kamu, ada Azka yang setia tunggu aku saat ini. Aku harap kamu menghargai keputusan aku. Aku permisi." Kataku untuk terakhir kalinya lalu memutar balik tubuh tanpa mau menunggu jawaban dari Ezra.
Tiba aku ingin menyebrang jalan tanganku di cegat oleh Ezra yang lagi-lagi mengejarku dengan tatapan frustasinya. Aku menghela nafas panjang. Hal ini tidak mudah di bicarakan oleh Ezra. Aku tersenyum simpul sembari melepaskan tangannya dari tanganku.
"Aku cinta kamu Ezra, memang benar aku cinta kamu. Tapi kita tidak bisa, aku tidak bisa. Jangan lepaskan orang yang selama ini ada untuk kamu, anggap aku ini hanya orang yang mampir sebentar dalam hidup kamu, kita punya kehidupan masing-masing. Dan aku sudah mulai sayang dengan Azka, kamu dan Azka, aku akan tetap milih Azka"
KAMU SEDANG MEMBACA
Confession Of Love
Romance"Dia itu sebenarnya lemah tapi ia tidak pernah memperlihatkannya" ****** aku benci dia dan akan selamanya ia menjadi rivalku! dia yang selalu membuatku mendadak kesal dengan kehadirannya yang terbilang sangat sempurna yang membuatku semakin benci d...
