Pagi ini Reva bangun dengan perasaan nyaman tidak seperti biasanya. Ia bahkan tersenyum ketika matanya terbuka dan melihat langit kamarnya. Kemarin ia banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Setelah sekian lama perasaan hangat dan nyaman itu datang, perasaan yang udah lama Reva cari dan ternyata itu semua datang di keluarganya.
Lagi-lagi ia merasa dirinya begitu egois dengan kejadian masa lalu di mana ia begitu jahat dengan keluarganya sendiri.
Reva membersihkan dirinya segera karena ia baru saja mendapat panggilan dari bawah untuk sarapan. Semua kegiatan pagi dia lakukan dengan santai dan saat sudah selesai ia berjalan ke bawah dan di sana sudah ada ayah dan juga Ibu tirinya yang sudah di meja makan.
"Pagi ayah, ibu." Sapanya lalu mencium pipi keduanya.
Kening Reva berkerut dan agak terkejut ketika tangan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, saat ia mencoba mengendurkan pelukan tersebut mata nya membulat besar saat melihat adik tirinya, Kanaya.
Ia tertawa senang lalu memeluk tubuh adiknya itu setelah sekian lama, beberapa bulan yang lalu saat ia balik ke Jakarta pertama kalinya ia mendapatkan kabar bahwa adiknya ini tidak bisa balik ke rumah mereka karena tidak mendapat izin saat magang. Kali ini bertemu dengan adilnya setelah sekian lama dan tentu saja banyak perubahan dari Kanaya secara langsung ketimbang saat ia melihat nya di dunia virtual.
"Kamu pulang juga?" Tanya Reva setelah memperhatikannya dari atas sampai bawah.
Kanaya mengangguk pelan sambil tertawa geli ketika ia mengintip dari tubuh Reva dan melirik ke arah Ayah dan Ibu yang memicingkan matanya seperti menduga-duga.
"Sebenarnya tengah malam itu aku udah sampai rumah kak, dan sayang banget semalam kakak udah tidur duluan jadi yang dapat suprise pertama itu ya ayah dengan Ibu." Jelas Kanaya diiringi tawa kecilnya.
Bibir Reva mengerucut ke depan lalu melihat ke arah ayah dan ibu yang tampak senang melihat interaksi kami berdua. "Gak adil ih!! Seharusnya aku yang beri kejutan kenapa malah aku yang dapat sih?"
Ayah menjawab. "Kanaya pulang juga di luar rencana, iya kan Bu? Kemarin katanya pulangnya dua hari kemudian terus waktu ayah kabari kamu balik dari london, Kanaya gak jawab apa-apa ehh gak taunya tengah malam udah muncul aja dia di depan pintu, ayah pikir kuntilanak karena berantakan rambutnya semalam,"
Kanaya memukul lengan Ayah dengan pelan lalu ayah tergelak dengan ucapannya. "Kok kuntilanak sih, Yah? Mana ada kuntinak secantik aku." Balas Kanaya percaya diri sambil mengibaskan rambutnya yang hari ini di gerai.
Reva akui setelah melihat adiknya secara langsung adik tirinya ini tampak lebih dewasa dan tentu makin berparas cantik. Rambutnya panjang kelihatan terawat dan juga kulit adiknya putih beraih. Reva yakin adiknya ini pasti banyak yang tertarik padanya.
"Yaudah duduk dulu gadis-gadisnya Ayah, kita sarapan dulu. Sudah lama ayah gak ngerasain makan pakai komplit gini," Pinta Ayah dan di iyakan oleh keduanya untuk duduk di kursi kosong berhadapan dengan ayah mereka.
Sejak tadi Reva menyadari kalau Kanaya sedang mencuri pandang ke arahnya dan kali ini ia mendapati sekali lagi bahwa adiknya itu menatapnya dengan sorot bahagia. "Kamu bahagia banget ya ketemu kakak?" Tanya Reva langsung disertai senyuman.
Ia mengambil centong nasi kemudian meletakkan nya di atas piring adiknya yang mengangguk semangat. Satu persatu lauk di atas meja ia taruh di atas piring Kanaya. "Aku senang balik ke rumah ada Kakak, makasih ya kak udah putusin untuk kembali ke Jakarta." Jawab Kanaya dengan tulusnya membuat Reva menggigit pipi dalamnya menahan keinginan untuk kembali nangis, entah kenapa setelah kembali ke sini kadar hormon sensitiv dalam dirinya menjadi meningkat.
Reva mengelus puncak kepala adik tirinya. Rasa sayang itu tumbuh setelah permasalahan di keluarga mereka selesai dan ia sudah melihat adiknya ini seperti adik kandungnya sendiri.
"Kakak berterima kasih juga kamu karena udah mau temenin ayah dan Ibu saat kakak gak ada di rumah,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Confession Of Love
Roman d'amour"Dia itu sebenarnya lemah tapi ia tidak pernah memperlihatkannya" ****** aku benci dia dan akan selamanya ia menjadi rivalku! dia yang selalu membuatku mendadak kesal dengan kehadirannya yang terbilang sangat sempurna yang membuatku semakin benci d...
