Gemilir angin berembus memberikan sensasi rasa dingin yang tiba-tiba menusuk sampai ke tulang, Reva merasakan sekujur tubuhnya kaku dan rasa cemas melihat semua orang di sekitarnya menatapnya dengan beberapa macam ekpresi dan yang lebih dominan adalah rasa penasaran tentang dirinya karena mempelai pria meneriakkan namanya di depan tamu undangan. Wajah Azka tampak menegang dengan tatapan tajam saat ia melihat Ezra tiba-tiba saja datang menghampiri mereka sehingga ia menarik tubuh Reva spontan ke belakang tubuhnya, riuh tamu yang kebingungan dengan aksi mempelai pria memenuhi seluruh isi gedung saat ini. Tubuh Reva bergetar hebat karena takut dengan kejadian tiba-tiba ini di mana ia seperti dalang hancurnya hari pernikahan kedua pengantin.
"Diam di situ, jangan mendekat!" Pekik Azka dengan suara tegas seraya tangannya memberikan isyarat agar Ezra berhenti di tempatnya. Wajah Ezra tampak terpukul dan ia menghela nafasnya panjang karena menahan ini semua sejak lama, tentu saja ia sudah memikirkan hal ini matang-matang, ia hanya tidak mau menikah dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai, ia tidak ingin menyakiti Dinda lebih dalam walaupun ia sendiri dulu pernah mencoba hanya saja hati ini tetap terus untuk Revalina.
"Zaaa-.....Please, gue...." Ujar Ezra terbata karena saat ini ia hanya melihat setengah tubuh Reva berada di balik punggu Azka.
Azka menggeram, ia mengencangkan genggamannya pada jemari Reva, takut wanita ini lari begitu saja. "Lo sama dia udah selesai, kenapa lo harus memperumit ini semua? Reva sudah ikhlaskan lo sama Dinda, dan gue udah sama Reva, Apalagi yang kurang?" Jelas Azka dengan tajam.
"Gue! Gue gak akan bisa lanjut kayak gini karena gue masih cinta sama Reva!" Teriak Ezra menimbulkan suara kejutan dari tamu undangan, Reva merasakan dirinya seperti di siram dengan air dingin mendengar pengakuan tersebut yang membuatnya tidak mampu menahan air matanya, ia takut dengan tatapan orang yang saat ini tampak menggunjingnya di tambah tatapan tidak suka semua tertuju padanya.
" Azka..." Panggil Reva dengan pelan sehingga Azka memutar kepalanya untuk melihat wanita di belakangnya yang tampak ketakutan saat ini.
Reva melihat sekilas ke arah Ezra dan juga wanita yang berada di ujung sana yang tampak cantik memakai baju kebaya pengantin, wanita itu memperhatikan semuanya dengan sorotan mata yang tampak sedih, Reva tahu persis bagaimana perasaan Dinda saat ini.
"Kamu mau buat apa?" Tanya Azka dengan nada rendah, ia tampak was-was dengan Ezra yang berada di hadapan mereka, karena ia memang ingin melindungi Reva dan juga nama baik wanita itu.
Reva menatap Azka lurus, ia tahu untuk mencintai Azka memang belum namun perasaan agar pria ini tidak meninggalkannya begitu besar, Reva sudah menyayanginya walaupun rasa cinta itu masih milik Ezra, hanya saja ia tidak ingin terus menerus menjadi alasan terbesar gagalnya pernikahan Ezra dan Dinda, cerita mereka memang sudah lama selesai saat Reva memutuskan pergi ke luar negeri saat tamat sekolah dulu.
"Aku rasa kita harus bicara dengan Ezra dan Dinda, tapi tidak di tempat ini. Hanya kita berempat." Kata Reva menjelaskan. Azka tampak mengerti, mata nya beralih ke Wildan, hebatnya Wildan seperti tahu dengan apa yang mereka rencanakan dan tanpa menunggu waktu lama ia membawa Ezra keluar aula gedung menuju private room.
Reva dan Azka sama-sama berjalan ke arah sana dengan tangan yang masih menggenggam satu sama lain, Reva tahu saat ini Azka khawatir dengan kondisi sekarang, hanya saja Rva memang mau mengakhiri semuanya dengan perasaan damai, tidak ada lagi perasaan bersalah.
Sesampai mereka di private room, Reva sudah melihat Ezra dan Dinda di sana masih di temani dengan Wildan, tak lama kemudian Dara juga menyusul. Baiklah, memang ini waktunya untuk Reva mengungkapkan semuanya.
Reva menghela nafasnya panjang, ia masih berdiri di samping Azka. Ezra pun tampak terus menatapnya, raut wajah pria itu tampak seperti frustasi. "Ezra, aku sudah menjelaskan masalah di antara kita beberapa waktu yang lalu, dan aku rasa antara kamu dan aku itu sudah selesai, aku mohon agar kamu bisa melanjutkan hidup kamu dengan baik walaupun tanpa aku di dalamnya." Jelas Reva, ia menguatkan dirinya kali ini untuk membalas tatapa Ezra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Confession Of Love
Romantik"Dia itu sebenarnya lemah tapi ia tidak pernah memperlihatkannya" ****** aku benci dia dan akan selamanya ia menjadi rivalku! dia yang selalu membuatku mendadak kesal dengan kehadirannya yang terbilang sangat sempurna yang membuatku semakin benci d...
