BAB 61 : END

7 1 0
                                        

REVA POV :

Senyumku tidak berhentinya mengembang tatkala melihat benda yang melingkar di jari manisku, tampak indah dan bagus yang selama ini kubiarkan kosong. Perasaan senang membuncah setelah seminggu yang lalu di mana Azka melamarku dengan resmi di hadapan kedua orang tua kami, sebelumnya ia membawa ku untuk bertemu dengan orangtua nya, aku sangat kaget mendapatkan respon yang sangat baik dari Ibunya Azka yang ternyata sudah mengetahui aku jauh dari sebelum aku balik ke Indonesia, semuanya itu bermula dengan Ibunya Azka membawaku ke kamar Azka saat pria itu belum pulang kerja, memang saat itu aku berniat untuk mengunjungi Ibunda Azka secara pribadi karena hanya ingin mengenal lebih dekat bagaimana calon mertuaku, dari perbincangan kami Ibunya Azka sangat menyayangi anaknya itu, Azka memiliki tiga saudara dan ia merupakan anak tengah, dan Ibunya Azka tidak memiliki anak perempuan, semuanya hanya laki-laki.

Aku ingat saat Ibunya membawaku ke kamar Azka dimana itu merupakan salah satu ruang privasinya dari dunia luar, dengan hati setengah ragu aku mengikuti pelan dan sedikit kikuk saat Ibunya tampak santai. Di sana aku bisa menjelajah dengan bebas bagaimana dunia Azka secara pribadi yang cukup mengejutkanku, untuk kamarnya memang hanya di desain sangat sederhana, hanya beberapa tempelan foto keluarganya dan saat menuju ke sebuah bilik samping tempat tidur aku terkejut dengan sebuah bingkai berukuran kecil dimana aku menemukan foto diriku yang berpose sedang tertawa dengan tangan memegang eskrim yang berlepotan dan itu masih memakai seragam putih abu-abu, aku sendiri tidak ingat bahkan tidak adar bahwa aku pernah di foto dengan posisi seperti itu.

"Ayo ikut ibu lagi sayang," Katanya kala itu padaku saat aku memperhatikan foto itu dalam waktu cukup lama, Ibunya menarik tanganku dan membawaku ke pintu yang masih ada berada dikamar Azka yang menurutku ini adalah salah satu pintu penghubung menuju ruangan lain.

Dan, ya! dugaanku tepat sasaran, ketika pintu itu di buka lebar. Aku dikejutkan dengan pemandangan ruangan yang berukuran cukup luas bahkan lebih luas dari kamar Azka sebelumnya. Yang bikin aku tidak bisa berkata-kata adalah ruangan tersebut banyak tersimpan beberapa bingkai lukisan dan juga meja fotografi dimana aku banyak menemukan beberapa lukisan yang sudah di tempel di dinding dan juga foto hitam putih yang menurutku sangat indah. "Ini ruangan apa, Bu?" Tanyaku tanpa bisa menahan rasa penasaran setelah melihat seluruh ruangan di dalamnya.

Ibunya Azka tersenyum, ia menggenggam tanganku lembut seraya memalingkan wajahnya kedepan tampak menikmati tata ruangan. " Ini ruang karya Azka, sejak kecil dia memang sangat suka melukis dan memotret, sengaja ibu buatkan ruangan ini khusus untuknya, Azka itu pendiam tapi kalau dia sedang melukis ibu bisa lihat gimana bahagianya dia melukis, begitu juga dengan foto, dia suka hal yang berbau seni hanya saja selama ini itu hanya jadi hobinya," Jelas Ibunya Azka padaku yang membuatku melongo seketika, aku tidak ingat pria itu menyukai seni bahkan melihatnya melukis saja saat sekolah dulu aku tidak pernah, untuk foto aku baru ingat kalau Azka beberapa kali membawa kamera bahkan saat mereka ekskul dulu Azka menjadi salah satu panitia dokumentasi namun ia tidak menyangka hobinya itu sangat luar biasa dan yang entah kenapa membuatku kesal adalah kenapa aku baru tahu di saat mereka mau menikah, apakah aku setidak peduli itu dengan calon suamiku? dan entah kenapa itu membuatku semakin merasa bersalah dengan Azka, laki-laki itu sangat baik padanya bahkan selalu tahu bagaimana apa yang aku inginkan sedangkan aku sendiri begitu berpusat dengan rasa sakit sehingga tanpa sadar menjadi ego dengan orang di sekitar.

"Kenapa Azka gak jadi seniman aja, Bu? lukisan ini bagus sekali. Aku rasa dia bisa menjadi seniman terkenal karena lukisannya ini bagus sekali," Pujiku masih dengan tangan mengusap lukisan yang ada di depan dan untuk lukisan di hadapanku ini bergambar kota kota london tempat tinggalku dulu.

Semakin aku perhatikan karya lukisan Azka, karyanya banyak merujuk ke bagian pemandangan sampai dimana mataku melihat di dinding depan yang dimana sebuah lukisan dengan bingkai yang cukup besar itu tertutupi dengan kain berwarna cokelat, Aku tampak tertarik dengan lukisan yang seperti sengaja di tutupi itu sampai dimana aku di kagetkan dengan suara Ibu Azka. "Ibu tinggal dulu sebentar ya sayang, kamu boleh lihat ruangan ini. Satu lagi, Ibu rasa kamu memang harus menemukan apa yang selama ini Azka simpan buat kamu dan ibu mau kamu melihatnya sendiri," Jelas Ibu Azka padaku sambil mengelus pipiku dan aku hanya terdiam sampai Ibunya Azka sudah keluar dari ruangan meninggalkan diriku yang masih terpukau dengan ruangan ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 15 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Confession Of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang