Bismillah,
Yohan melangkah ke dalam resto, berhenti sebentar untuk menemukan orang yang akan ditemuinya. mestinya dia datang bersama Joaquin, tapi sahabatnya itu harus menemui calon partner lain. Jadilah Yohan datang sendirian. Merutuk dalam hati karena Jo bilang dia ditemani Mocca.
Sialan si Jo, pake pamer kalo ditemenin istri. Sementara gue garing di sini sendirian. Ck, bener-bener ya nasib jomlo.
Mata Yohan tertuju ke area smoking. Seorang lelaki melambaikan tangan. Yohan langsung menghampirinya. Duduk di sudut, di kursi yang dibatasi dinding sebatas dada orang dewasa. Dari situ pemandangan kota Batu terhampar. Kerlip lampu ratusan rumah dan bangunan yang entah apa menghibur Yohan.
"Udah lama, Pak?" Yohan menjabat tangan Pak David, calon partner Take Mie with You.
"Baru lima menit saya duduk. Tapi udah pesan espresso sama bir. Pak Yohan mau bir juga?" tanya Pak David sambil melambai pada waiter.
"Terima kasih, saya nggak minum, Pak," tolaknya halus. "Espresso saja."
Pak David mengangguk paham, lalu memesan espresso pada waiter yang dengan cepat mencatat. Tak lama dua cangkir espresso dan sebotol bir diantar. Sekilas Yohan melirik botol berwarna hijau itu. Sekeping kenangan mampir di benaknya. Cepat-cepat dia menggeleng untuk mengenyahkan kenangan itu.
"Saya sudah dapat tempatnya, Pak."
"Gimana, Pak?" Yohan mengangkat wajahnya.
"Tempat untuk buka counter Take Mie, Pak. Dua hari lalu saya sudah bilang kan kalo mau ambil yang non-premium dulu," jawab Pak David.
"Oh, iya. Terus?" Yohan menyesap espressonya pelan.
"Tempatnya dekat sekolahan, ada SMP sama SMA. Untuk tempat saya sudah deal, nah sekarang tinggal urusan dengan manajemen Take Mie," terang lelaki berumur 50-an itu.
"Oke, Pak. Containernya Pak David mau cari sendiri? Atau dari kita sekalian?" Yohan sudah fokus sepenuhnya pada pembicaraan. Calon partner baru ini adalah hasil koneksi Jo. Pak David adalah kenalan Ayah Jo. Lelaki ini mendekati masa pensiun dan ingin menanamkan uangnya untuk bisnis makanan.
"Saya serahkan sama tim Take Mie. Mas Jo juga sudah kirim contoh, desain dan harga containernya. Jadi saya terima beres dan tinggal jualannya aja, Mas." Pak David terkekeh. "Oh iya, saya juga gandeng D-Donat, loh. Kan target pasarnya remaja, kayanya donat bakal laris juga."
Mendadak jantung Yohan seperti ditabuh. D-Donat adalah usaha milik Ade. Dulu dia dan Jo yang mengajari Ade sehingga bisnis donatnya mulai berkembang pesat. Laki-laki sialan yang 'mencuri' pacarnya itu sudah memiliki sekitar sepuluh gerai donat di seluruh Malang Raya.
"Oh, ya bagus itu, Pak." Yohan tidak menemukan kata yang lebih tepat untuk menjawab Pak David. Sekadar bersopan santun saja. Dalam hati dia mengumpat, kenapa harus ada kebetulan yang seperti ini. Belum selesai umpatan yang dimuntahkan Yohan, suara seseorang yang dikenalnya menambah keras detakan jantungnya.
"Selamt malam, Pak David."
Ade yang menggandeng Lucia tersenyum lebar sembari menjabat tangan Pak David. "Saya datang sama istri, nih, Pak."
"Wah pengantin baru, selamat, Mas," kata Pak David sambil menepuk bahu Ade.
Setelah berperang dalam hati, Yohan berdiri. "Apa kabar, De?" sapanya sambil mengulurkan tangan.
Wajah Ade dan Lucia langsung berubah. Senyum yang tadinya bertengger di bibir mereka, sontak menghilang. Sedangkan Yohan malah menarik satu sudut bibirnya, tersenyum sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imperfect Match
RomanceWattpad Romance ID March Reading List Nggak sesuai kriteria! Kalimat yang sering diucapkan Yohan jika berurusan dengan masalah jodoh. Gara-gara kriteria yang dibuatnya Yohan malah terpuruk karena patah hati. Perempuan yang menurutnya memenuhi kriter...
