Bab 19. Kania Lagi!

274 47 12
                                        

Bismillah,

"Mas. Yohan, Mas Tunggu sebentar."

Yohan terus berjalan. Sama sekali tidak tertarik untuk berhenti karena panggilan itu. Dia sudah hampir mencapai tangga ketika perempuan itu memanggil lagi.

"Mas Yohan!"

Berdecak kesal tapi Yohan terus melangkah. Dia tahu itu Kania. Sudah tiga hari dia menghindar dari gadis itu. Tidak membalas chat atau teleponnya yang terasa mengganggu. Chat dengan nada memelas sebenarnya membuat Yohan iba. Apalagi gadis itu lagi-lagi mengeluhkan masalah keuangan. Yohan sudah memberi pinjaman delapan juta pada Kania. Jumlah yang cukup menguras tabungannya. Apalagi dengan kondisi kafe seperti sekarang.

Untunglah pemasukan Take Mie dan I Coffee You stabil. Begitu juga Worthy Juice yang perkembangannya sangat bagus. Tapi, disiplin mengelola keuangan tetap dipegang teguh Yohan. Manajemen keuangan Semilir Angin dikelola terpisah. Dia selalu ingat warning Jo untuk masalah ini.

"Mas Yohan, aku cuma mau ngomong sebentar aja." Langkah kaki Kania terdengar ikut menapaki tangga.

"Kan! Mau ke mana?!"

Teriakan Bagas sampai juga ke telinga Yohan. Sangat bersyukur karena si barista ganteng itu menyelamatkannya lagi.

"Apaan, sih, Gas?! Aku sibuk!" elak Kania.

"Turun sekarang!" seru Bagas dengan tegas.

"Nggak bisa. Aku ada urusan," tolak Kania.

"Stok pastry amankan dulu, Kan! Baru keluyuran!" Suara berat Teguh si head chef membuat langkah Kania langsung membeku.

Gadis itu sudah berdiri di anak tangga paling atas. Dengan berat dia berbalik. Wajahnya ditekuk lalu menatap tajam pada Bagas dan Teguh yang bersedekap. Tiga orang itu bertukar tatapan tidak ramah.

"Laki-laki cerewet!" omel Kania ketika melewati Bagas dan Teguh. Sengaja membenturkan bahunya dengan bahu Teguh. Sambil menghentakkan kaki, Kania memasuki kitchen.

Setelah gadis berambut ikal itu menghilang dari pandangan, Teguh dan Bagas saling pandang. Lalu terkikik seru. Beberapa hari ini mereka memang bertugas menghalangi Kania dari memburu Yohan. Awalnya hanya Bagas yang menghadang, lalu Teguh ikut membantu tanpa diminta. Rupanya sang head chef juga risih melihat tingkah laku Kania.

Suara mengikik berhenti karena Yohan muncul di ujung tangga. Si boss mengacungkan jempolnya pada Teguh dan Bagas. Dua pegawainya itu membalas dengan kode yang sama.

Yohan memberi instruksi untuk melanjutkan misi dengan kode. Teguh dan Bagas menunjukkan jempol dan hendak berlalu.

"Gas," panggil Yohan. "Gue minta piccolo."

Setelah Bagas menyanggupi, Yohan kembali berjalan dan memasuki ke ruang kantor. Menghempaskan tubuh ke sofa favoritnya, lalu menyandarkan kepala. Beberapa hari tidak bertemu Kania lumayan membantu meringankan tingkat stress-nya. Gadis itu membuatnya terjebak. Di satu sisi merasa kasihan dengan situasi Kania, di sisi lain Yohan merasa lama-lama Kania membuatnya tidak nyaman.

Setelah memejamkan mata untuk meredakan sakit kepalanya, Yohan perlahan membuka mata lalu melirik ke meja Venita. Perempuan itu sedang menekuri ponsel sambil tersenyum. Hati Yohan serasa dicubit. Berbagai dugaan berseliweran di kepalanya.

Lagi chat sama siapa, sih, dia?! Pake senyum-senyum begitu. Lu bikin gue stress, Ven!

Yohan berdehem-dehem sambil mengeluarkan ponsel. Tidak menatap Venita tapi mengarahkan matanya pada ponsel. Padahal dia tidak sedang menggunakan aplikasi apa pun.

Menunggu beberapa detik, tapi tidak ada tanggapan dari Venita. Dari sudut matanya Yohan tahu Venita sempat mendongak, lalu kembali menatap ponselnya. Senyum tipis khas Venita terpampang lagi. Rasanya ada yang panas di dada Yohan.

Imperfect MatchTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang