Bismillah,
Sudah hampir jam sembilan ketika Joaquin dan Yohan selesai berbicara empat mata tentang nasib Semilir Angin. Lelaki berkulit cokelat itu akhirnya pulang, dan Yohan menyendiri di balkon. Merokok seraya membiarkan angannya berkelana.
Ruangan kantor sepi karena Rozi, Vita dan Venita pergi ke kantor manajemen Take Mie. Entah tugas apa yang diberikan Joaquin. Yang jelas ketiganya pergi setelah Joaquin berbicara serius dengan Venita. Yohan menduga Jo sengaja meminta ketiganya pergi supaya mereka bebas bicara berdua.
Langit malam semakin gulita. Hanya dihiasi kerlip lemah beberapa bintang di sisi utara. Sawah-sawah yang biasanya menyajikan pemandangan menyejukkan sudah mulai tidak terlihat. Di kejauhan sepeda motor yang melewati jalan kecil sesekali menyorotkan lampu. Cahayanya pucat seperti kunang-kunang di tengah belantara pekat.
Yohan menyedot rokoknya. Memilah-milah urusan yang tadi sempat dibicarakan dengan Joaquin. Sahabatnya itu akan menyuntikkan dana pribadi pada Semilir Angin. Yohan mati-matian menolak. Dia tidak mau merepotkan Jo sekaligus berusaha menyelamatkan ego. Sayangnya, Jo sudah mengendus hal itu. Lelaki itu terlalu mengenalnya dan sangat tahu bagaimana caranya supaya Yohan tidak menolak pertolongannya.
Tidak terasa jarum jam sudah bergerak ke angka sepuluh. Angin yang bergerak di antara batang-batang pohon asam mulai dingin. Yohan menggigil dan memutuskan menyudahi acara menggalaunya.
Baru saja kakinya memasuki ruang kantor, jantungnya sudah berdesir. Venita duduk menghadap laptop. Kelihatannya belum menyadari kehadiran Yohan. Tanpa suara Yohan mendekati perempuan itu.
"Ven," panggilnya.
Perempuan berhijab marun itu menoleh, lalu melepas kacamata anti radiasinya. Di mata Yohan gerakan itu sangat anggun. Sehingga membuat Yohan menelan ludah.
"Iya, Pak?"
"Sejak kapan lu di sini?"
"Sudah ... sekitar setengah jam yang lalu," jawab Venita sambil mengecek arlojinya.
"Ngapain aja di jalan Bandung?" Yohan menyebut alamat kantor Take Mie.
"Kak Jo cuma minta kami diskusi sama tim Take Mie dan I Coffee. Membicarakan strategi promosi, influencer lokal baru dan kafe-kafe yang bisa disurvey gaya promosinya." Venita kembali mengenakan kacamata lalu menghadap laptop.
Sementara Yohan menarik kursi milik Rozi. Lalu menghempaskan tubuhnya yang letih. "Dapet sesuatu?"
"Belum ada, Pak. Cuma ... saya ... tertarik dengan ide Dimas."
"Oh ya? Punya ide apa tuh, anak?" tanya Yohan asal-asalan.
"Tentang live music, Pak. Tapi ... itu butuh biaya." Suara Venita memelan. Dia tahu kondisi keuangan kafe.
Wajah Yohan menjadi cerah seketika. "Boleh juga idenya. Coba lu cari tahu berapa biaya untuk hire grup musik. Nggak usah yang terkenal banget, yang penting mainnya bagus. Kalo bayarannya sesuai budget kita, bisa dipertimbangkan untuk main di kafe. Nggak perlu tiap hari juga. Seminggu tiga kali aja dulu. Menurut elu gimana?"
"Oke, Pak. Saya browsing dulu besok. Sudah ada ... beberapa target sebenarnya," kata Venita hati-hati. Dia khawatir Yohan merasa dilangkahi karena dia sudah lancang mencari-cari grup musik sebelum ide itu disetujui. Ditambah dia gugup karena hanya berduaan dengan Yohan di ruangan yang berpenerangan redup ini.
Senyum tipis Yohan terbit. "Jadi lu udah ancang-ancang?! Bagus. Artinya lu punya inisiatif. Gue nggak nyangka lu udah semaju ini, Ven."
"Itu ... karena ... saya sayang ... sama Semilir Angin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Imperfect Match
Storie d'amoreWattpad Romance ID March Reading List Nggak sesuai kriteria! Kalimat yang sering diucapkan Yohan jika berurusan dengan masalah jodoh. Gara-gara kriteria yang dibuatnya Yohan malah terpuruk karena patah hati. Perempuan yang menurutnya memenuhi kriter...
