Bab 41. Kamu Memang Menggemaskan!

125 12 0
                                        

Bismillah,

"Kenapa harus Venita?!"

Sebuah tinju melayang lagi. Kali ini mengenai dagu Yohan. Sudah pasti wajah lelaki itu akan dipenuhi lebam setelah ini. Sekarang rasa ngilu menjalar ke seluruh bagian wajahnya.

Hujan yang turun seolah ikut menyoraki adegan perkelahian itu. Walaupun tidak bisa dibilang perkelahian karena Yohan sama sekali tidak membalas. Dia membiarkan Andi memukulinya tanpa ampun.

"Gue cinta sama Venita. Sorry!"

Bugh

Pukulan Andi menyasar perut. Membuat Yohan tersungkur ke tanah becek. Air bercampur lumpur langsung mengotori Yohan. Dia belum sempat berdiri karena pukulan lain menghujamnya. Lalu kerah bajunya ditarik keras. Dia dipaksa berdiri dan langsung menghadapi wajah murka sahabatnya.

"Kamu brengsek, Yo! Kamu bisa milih perempuan mana saja! Kenapa harus Venita?!" Andi mendorong Yohan dan membuatnya kembali terjerembab di tanah. Kakinya sudah diangkat, siap menendang perut Yohan. Entah apa yang dipikirkan Andi, mendadak dia mengurungkan niatnya. Menendang tanah berlumpur seraya berteriak murka.

Dugaan Yohan kalau sahabatnya akan bersikap tenang seperti biasa, meleset jauh. Dia belum pernah melihat Andi semarah ini. Venita ternyata sangat berarti untuknya. Pasti!

Tapi, Venita Jayanti juga sangat sangat berarti untuk Yohan. Karena itu dia juga tidak akan mengalah.

"Aku nggak akan membiarkan kamu mengambil Venitaku, Yo. Nggak akan!" Andi mengarahkan telunjuknya pada Yohan sambil berteriak penuh tekad.

"Lu nggak tahu seberapa cinta gue sama Venita! Gue juga nggak akan mundur!" balas Yohan. yang masih terguling di tanah. Dipenuhi air bercampur lumpur dan basah kuyup karena hujan yang semakin deras.

Mendengar teriakan Yohan, Andi kembali mendekat. "Kita lihat siapa yang menang!" Mata lelaki berkulit gelap itu menyorot tajam. Wajahnya mengeras dikuasai amarah. Kedua tangannya mengepal, seolah menahan dorongan untuk menghajar Yohan sekali lagi. Sambil menggeram Andi berbalik. Berjalan menjauhi Yohan.

Dia juga cinta sama gue, brengsek!

Betapa inginnya Yohan menyerukan itu. Mengatakan pada Andi kalau Venita sudah mengucapkan cinta. Tetapi, ada sesuatu yang menahannya. Mungkin saja perasaan sakit yang tergambar di wajah Andi penyebabnya. Juga, kekhawatirannya kalau Venita akan menerima dampak.

Membiarkan dirinya tersungkur di tanah dan didera hujan yang semakin rapat, pikiran Yohan buntu. Memaki dalam hati tentang ucapannya yang ceroboh. Seharusnya dia tidak langsung mengatakan kalau mencintai Venita. Kalimat itu langsung memancing kemarahan Andi.

Tangan Yohan menghantam tanah. Sekujur tubuhnya ngilu. Tapi, hatinya lebih ngilu lagi mendengar tantangan Andi.

"Bisa bangun sendiri lu?" Tangan Jo terulur.

Tidak menjawab, Yohan menyambut uluran tangan sahabatnya. Menggeram lirih karena sakit yang langsung terasa. Walaupun sesungguhnya rasa itu masih bisa ditahan.

"Gimana?" tanya Jo seraya membantu Yohan berjalan ke tempat mereka duduk tadi.

"Dia nggak mau ngalah," sahut Yohan sambil meringis.

"Ck. Gue udah bisa nebak. Andi itu pengacara. Dia bukan tipe yang mengalah tanpa berperang dulu. Lu sih terburu-buru," kritik Jo. Suaranya sedikit dikeraskan melawan hujan.

"Bisa nggak lu jangan nyalah-nyalahin gue?! Badan gue ngilu habis dihajar, bacot lu nggak bikin gue mendingan."

"Itu salah elu," elak Jo santai.

Imperfect MatchCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang