Kak Gibran : Win, ini iban hehe
Kak Gibran : Lupa nggak tc in ke kamu, padahal kontaknya udah lama disimpen
Kak Gibran : Oiya, jumat nanti kamu mau nggak liat-liat kamera? Aku mau kosongin jadwal nih, biar nggak batal lagi
Hari itu, Kamis malam. Pesan Gibran menjadi pesan paling ia tunggu-tunggu notifikasinya. Cukup panjang mereka bertukar pesan, memberikan candaan, kemudian berakhir dengan selamat malam. Sesederhana itu memang, tapi Winnie dibuat tidur nyenyak.
Mungkin ini awal bagi mereka. Masih terdengar ambigu, tapi entah nantinya bagaimana. Hanya waktu yang menentukan.
Patokan Winnie mendekati Gibran awalnya hanya sekedar ingin keberadaannya terlihat. Rasanya dulu ia pernah bilang bahwa dikenal Gibran juga itu sudah cukup. Namun nyatanya, hanya bualan semata.
Winnie ingin egois. Dia ingin mencoba berjuang, walau di tengah gempuran semangat yang membara mendekati pemuda itu, ia harus merasa patah berkali-kali. Melihat eksistensi Miya yang seringkali ia lihat bersama Gibran di waktu-waktu tertentu.
Lalu lihatlah sekarang, Winnie sudah berani memulai percakapan pesan di media sosial dengan pemuda itu. Sekedar membalas cerita, bertanya seputar fotografi yang berkedok modus ingin berbalas pesan.
Suatu harapan yang menjadi kenyataan.
Kecanggungan dan kegugupan yang mendera kian sirna perlahan. Berganti dengan kesenangan setiap tatapan mata mereka bertemu di tengahnya rapat Fotografi pulang sekolah kala itu.
Winnie mulai bisa mengontrol diri sendiri. Dia sudah bisa mengobrol tanpa harus berkeringat dingin setelahnya. Menjadikan semangat mendapatkan Gibran semakin membara.
Lalu hari itu, Winnie mulai menyukai Fotografi. Bukan hanya karena Gibran juga menyukainya, tapi ini murni dari dalam dirinya sendiri yang merasa nyaman dengan dunia alih kamera ini.
Winnie sudah menemukan minat yang harus ia perjuangkan selain mendapatkan Gibran.
Winnie menyukai sekolah ini. Orang-orang di dalamnya. Meskipun butuh beberapa waktu yang harus ia terima.
Kali ini bukan tentang Gibran Athala saja. Ini tentang minat, mimpi dan upaya mewujudkannya. Di dampingi sosok Gibran sebagai acuan untuk membakar semangat, pemuda itu seolah datang untuk membuka pikirannya.
"Kak Iban!"
Tolehan serempak ia lihat saat Gibran tampak berjalan bersama teman-temannya. Dilihat dari rambut mereka yang lembab, juga hanya mengenakan sandal, sudah dipastikan mereka pulang Jum'atan. Dan Winnie agak menyesal menyapa dengan ceria disaat Gibran bersama teman-temannya.
Meskipun Gibran balas melambai dan tak lupa senyuman manis pada bibirnya, Winnie terkekeh samar memekik nyaring kembali. "Kak Iban jangan lupa pulang nanti ya!"
"Iya, nggak lupa kok, Win."
Winnie dengan wajah memerahnya yang menahan malu, berlari begitu saja setelah mengacungkan jari oke dengan riang. Melupakan tatapan teman-teman Gibran yang sudah heran duluan.
Ini tidak terlalu berlebihan kan? Winnie hanya sekedar mengingatkan, agar rencana kamis malam terlaksanakan. Supaya janji Gibran tak jadi bualan semata. Untuk nasib hati Winnie juga nantinya.
Lalu berikutnya, saat bel pulang terdengar, gadis belia itu sudah menunggu di parkiran sekolah. Dekat dengan motor merah milik Gibran Athala, si pujaan hatinya. Dia beberapa kali bersenandung kecil dengan riang. Winnie juga beberapa kali mematut diri di cermin kecilnya yang selalu ia bawa. Menunjukkan senyum lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feeling In Silence
Teen Fiction❝ Sadar atau tidak, pengagum rahasia itu orang ketiga. Dan mungkinkah kamu termasuk ke dalam orang-orang itu? ❞ Started on June 2022 © Chocolalayu
