Untuk memahami cara mencintai Gibran, Winnie harus berani bertanya. Tentang bagaimana perasaan Gibran pada setiap harinya, bercerita apa yang memberatkan hatinya, juga mengerti waktu dimana Winnie cukup ada disampingnya saja.
Begitupula dengan perasaan sang perempuan, Gibran lebih bisa sedikit terbuka. Kala Winnie butuh pelukan, Gibran selalu merentangkan tangan. Mendekap hangat tubuh kecil pujaan hatinya, membisikkan jutaan kata-kata manis yang menenenangkan. Dia selalu hadir dalam setiap keadaan apapun, dalam situasi yang mana ketika Winnie butuh.
"Pacarku kalo lagi pake kacamata gantengnya nggak main-main,"
Winnie jadi sering blak-blakan. Dan Gibran selalu menjadi pihak yang salah tingkah. Tapi meski begitu, bersamaan dengan ucapan menggodanya, merahnya wajah si perempuan tak luput dari pandangan.
"Hei cantik, nanti pulangnya aku jemput ya. Kamu kumpul fotografi dulu kan?"
Gibran pula makin hari jarang sekali memanggil nama Winnie. Katanya panggilan baru. Ketika pertama kali bilang, delikan mata sang perempuan terlihat geli, tapi dia tertawa riang kala balasan Gibran dengan entengnya menjawab, "Kenapa atuh cantik? Marah-marah terus si cantik mah."
Dan Winnie hanya tertawa-tawa bodoh memalingkan wajah merahnya, "Apasih Kak Iban ih!"
"Heem, nanti kayaknya pulang jam 5an deh."
Gibran mengangkat alis, "Ada apa cenah?"
Seraya menghabiskan kunyahan batagor yang ia beli tadi bersama Gibran di kantin sekolah, Winnie mengedikkan bahu. "Katanyamah bakalan ada pensi gitu, OSIS minta kerja sama buat dokumnya sama kita. Terus menurut rumor sih bakal undang artis. Tapi nggak tau juga deng, akuge baru denger-denger."
Gibran mengangguk-ngangguk, "Ohh jadi mau bahas itu nanti teh?" Winnie menggumam iya, "Siapa atuh artisnya, spill."
Lagi, Winnie mengangkat bahu, "Tak tau, paling ge A Iky."
"A Iky siapa?"
"Rizky Febian ih, manya nggak tau."
Gibran mencibir pelan, mencubit hidung kecil Winnie dengan gemas. "Atuda kayak akrab aja A Iky A Iky, kamu ke aku aja jarang banget panggil Aa."
"Ih biarin we, kan kita sama-sama menghirup udara Bandung."
"Dih, emangnya sama aku nggak? Makan teh yang bener, kayak si Gege aja belepotan,"
Winnie menyengir tak berdosa, tanpa kata mendekatkan wajah untuk Gibran lap dengan jarinya. Lihat kan, meskipun mendumel, perhatian pemuda itu tetap tak akan lupa.
"Sama kamu mah udah satu hati satu jiwa raga, aman atuh."
Kelopak matanya melebar ketika tawa menggelegar Gibran memenuhi seisi kantin, mengundang tolehan serempak dari berbagai mata. Winnie kontan menepuk bahu si pemuda, "Kak Iban malu ih! Biasa aja ketawanya."
"Sumpah, aku ketawa banget," Winnie semakin menenggelamkan wajah pada lipatan tangan, "Tapi cantik, aku makin suka kamu yang blak-blakan gini tau."
"Stop panggil aku cantik,"
Gibran memperlebar senyuman, "Kenapa atuh cantik?" Winnie mendelik, sedangkan Gibran malah makin mendekatkan diri, menusuk-nusuk tangan gadis itu bersama kerlingan menggoda.
"Kalo mau cantik mah cantik aja, jangan diborong sama lucunya atuh ah,"
"Kak Iban diam!"
**
Dari waktu ke waktu, Gibran mulai sadar bahwa menghabiskan waktu dengan Winnie kali ini sedang berada di ambang batas. Terhitung tinggal beberapa bulan lagi ia lulus dan berangkat menuju Universitas luar negeri dan menjalankan program belajar beasiswa disana, Gibran jadi gelisah juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feeling In Silence
Teen Fiction❝ Sadar atau tidak, pengagum rahasia itu orang ketiga. Dan mungkinkah kamu termasuk ke dalam orang-orang itu? ❞ Started on June 2022 © Chocolalayu
