41. Kita dan Dunia

343 71 24
                                        
















Hari pertama jadian, Winnie merasa ia freak abis.

Winnie tau ini lebay, tapi nyatanya memang menyebalkan. Canggungnya masih terasa, dan ia kira Gibran juga sama halnya. Namun pemuda itu lebih bisa mengendalikan diri seolah bersikap biasa saja meskipun kadang terlihat kedua telinganya memerah gemas.

Sedangkan Winnie selalu menjadi pihak yang gampang sekali salah tingkah. Rona merah di kedua pipinya selalu tak terhindari. Meskipun dalam sambungan telepon, yang bahkan wajahnya saja tak tampak dalam pandangan sekalipun.

Contohnya malam ini. Ketika Sabtu-Minggu kemarin ia habiskan dengan tidur panjang dan mempersiapkan diri bertemu tatap Senin besok dengan Gibran. Winnie kentara sekali gugupnya.

"Aku baru pulang."

Suara Gibran mengawali detik-detik jam pada layar, Winnie meraih bantal, menyahut kecil, "Mandi meren."

"Mau ini, tadi ngabarin dulu kamu."

"Udah malem tapi, jangan deh. Nanti osteoporosis."

Winnie mendengar tawa kecil disana, "Bentar doang. Asli gerah, Win."

"Tapi udahnya minum air anget ya, Kak?"

"Iya siap."

"Yaudah gih sana, makin malem makin nggak baik. Ini udah ada iklan rokok loh, Kak."

"Kenapa iklan rokok?"

"Karena iklan rokok tayangnya jam 10 keatas."

Winnie menarik senyuman lebar ketika Gibran terbahak keras, "Bener juga ya, aku baru tau da. Rajin amat kamu Win ngafalin iklan rokok."

"Udah sana, Kak Iban katanya mau mandi."

Suara decakan halus Gibran mengudara, "Iya ih mau. Kamu meni nggak sabaran pisan. Nggak suka aku telponin gini?"

Mendengar itu, Winnie jadi menegakkan tubuh. Kelopak matanya melebar pelan terkejut, "Eh? Nggak kok. Maksudku nggak gitu, Kak Iban."

"Eh kaget gitu?" Gibran menyahut dengan intonasi yang sama, kemudian tawa kecilnya terdengar. "Becandaaa."

"Ish, aku kira Kak Iban marah."

"Nggak lah, masa cuma gitu doang marah. Yaudah deh aku mandi dulu ya, Win. Kamu langsung tidur aja, udah malem."

Winnie bergumam, masih mendengarkan grasak-grusuk Gibran di seberang sana yang entah sedang apa. "Jangan lupa air angetnya diminum, Kak Iban. Biar nggak masuk angin."

"Iyaaa."

Jawaban panjang pemuda itu menimbulkan kekeh lembut Winnie yang mendengarnya. Winnie sudah ingin menekan tombol merah sebelum seruan Gibran terdengar kembali, "EHHH BENTAARR."

"Kenapa, Kak Iban?"

Lagi, grasak-grusuk pemuda itu memenuhi gendang telinganya. Winnie hanya menunggu beberapa detik sejenak yang kemudian suara Gibran terdengar lebih jelas, "Besok ada rencana dianterin Papa kamu nggak?"

"Nggak tau. Kenapa? Mau ngajakin bareng?"

"Nanya aja, tapi hayu da besok bareng aku. Sekalian mau ngasih stiker buat ditempelin di helm kamu."

"Ihh mauu."

Gibran terkekeh, "Besok sama aku aja ya berarti?"

"Iya boleh."

"Yaudah aku mandi dulu, kamu tidur Win."

"Siap."

"Satu lagi, Win." Winnie menaikkan alis, "Apa?"

Feeling In Silence Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang