Winnie harusnya tak datang, Winnie harusnya tak peduli. Winnie harusnya langsung pulang saja. Harusnya, harusnya, harusnya ia tak menurut.
Setelah duduk diam disana beberapa menit, Winnie tak berhenti untuk tak menyesal. Banyak andai yang sulit dikeluarkan. Winnie dibuat membisu ketika Miya mengajaknya duduk disini.
Dia tak bisa menolak, hati dan pikirannya dibuat membeku. Winnie seolah dijatuhi sesuatu yang berat sampai ia mulai merasa patah. Ungkapan pengakuan Miya berhasil membuat gemuruh sesaknya semakin nyata. Perasaannya berantakan.
Di kantin yang ramai, Winnie merasa ia sendirian. Dan detik-detik berlalu hingga menit-menit melaju dengan cepat, tubuhnya tak bisa bergerak leluasa. Winnie hanya bisa menahan nafasnya yang tercekat habis.
Miya mengajaknya bertemu, memperkenalkan diri. Berceloteh tak berhenti. Dan Winnie tak tahu tujuan utama gadis itu apa. Omong kosong apa yang ia tanya kepadanya dengan sikap seolah teman yang sudah akrab?
Winnie mengakui bahwa Miya perempuan hebat. Dalam artian hebat dalam mengolah kata-kata, bersikap manifulatif. Mengembang senyum sarkas dan berakting dengan kerennya. Demi mematahkan harapan Winnie untuk Gibran.
Kenapa Winnie bisa berpikir begitu?
Satu, pertemuan dadakan ini sangat diluar dugaan. Miya datang-datang memperkenankan diri dengan bangga bahwa ialah kekasih dari Gibran Athala.
Kedua, obrolan basa-basi gadis itu terdengar suara klise dan tidak jelas. Karena ujung-ujungnya nama Gibran selalu tesebut pada bibirnya. Miya banyak menyinggung tentang kedekatannya dengan Gibran. Berusaha membanding-bandingkan perilaku pemuda itu yang jelas berbeda.
Entah Winnie harus percaya atau tidak, tapi nyatanya untuk saat ini Winnie sudah kehilangan semangat untuk menata kepingan hatinya yang mulai goyah. Dia sibuk menyimpulkan kebenaran yang menyakitinya. Merobek harapannya.
Perasaannya memburuk, hatinya berantakan. Dadanya sesak bukan main. Kupingnya panas saat Miya menceritakan Gibran dengan begitu bangganya. Dengan penuh cinta, dan pastinya melukai hatinya.
"Iban emang dari dulu tuh suka foto-foto sih, Win. Kalian satu ekskul kan, ya?"
Winnie hanya memberi jawaban dengan gumaman tak jelas. "Hm,"
"Iban kalau lagi bidik kamera tuh keren tau, Win. Kamu ngerasa nggak sih selama kalian jadi partner fotografi kemaren-kemaren?"
Partner fotografi katanya?
Hanya partner? Winnie tertawa sarkas dalam hati. Kedutan bibirnya melengkung tipis, membodohi diri. Jadi bukankah secara tak sadar selama ini Gibran menganggapnya hanya sebagai partner fotografi saja? Sesuai cerita dari mulut perempuan yang sebelumnya dekat dengan pemuda itu.
Tapi memang ada partner fotografi yang rela menjemputnya walau tempatnya jauh. Yang memberinya hadiah setiap nilai ujiannya naik. Yang di usap kepalanya ketika menangis. Yang diajak jalan-jalan setiap harinya. Yang rela menghabiskan waktu hanya untuk mengajarkannya bahasa Inggris tanpa gaji.
Memang ada?
Lantas siapa yang harus Winnie salahkan ketika ada dua pengakuan yang bertentangan menganggu pikirannya?
Ketika berbulan-bulan lamanya di perlakukan layaknya pasangan, di istimewakan. Tapi kemudian hari ini dihantam pengakuan yang menjatuhkan harapannya, mematahkan hatinya.
Winnie harus percaya siapa? Winnie harus bagaimana?
Memikirkannya, Winnie menahan tangisan sepanjang celoteh basi Miya memenuhi gendang telinganya. Kepalan tangan kecil gadis itu semakin menguat tanpa sadar, lama-lama bergetar kecil menahan emosi yang terpendam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feeling In Silence
Roman pour Adolescents❝ Sadar atau tidak, pengagum rahasia itu orang ketiga. Dan mungkinkah kamu termasuk ke dalam orang-orang itu? ❞ Started on June 2022 © Chocolalayu
