55. Cara Mencintai

115 8 1
                                        







Winnie : kak iban

Winnie : pulang sekolah ketemu di taman komplek rumah bisa nggak?

Semalaman pikirannya bergelut dengan kekalutan, belum lagi gundah menyerang perihal hubungannya dengan sang kekasih, kali ini Gibran dibuat terkejut ketika mendapat pesan dari Winnie beberapa jam yang lalu.

Setelah cekcok soal beasiswa yang berujung kemana-mana, Gibran dibuat mati kutu. Ia bingung untuk memulai, ucapan Winnie mengenai perasaannya yang terpendam terngiang di kepala. Kalimat kalimat penuh keraguan dan penuh luka itu menghantui pikiran.

Maka dengan langkah cepat, usai pulang sekolah hari itu Gibran dengan tak sabaran menuju taman komplek perumahannya sesuai yang dikatakan Winnie. Bayang tubuh perempuan itu terlihat membelakangi sambil menengadah memandangi langit yang kian redup.

Duduk di kursi panjang yang warnanya sudah pudar, langkah kaki Gibran menghampiri. Ada ragu yang menyerang hati serta gugup yang membersamai. Tapi mengingat adanya kesalahpahaman, Gibran dengan gentar meraih bahu sang kekasih membuat kepala perempuan itu tertoleh.

"Udah lama nunggu?"

Lontaran tanya yang hadir dari bilah bibir Gibran menjadi pembuka percakapan mereka. Yang dijawab dengan gelengan serta senyum tipis gadis itu.

"Baru kok, duduk Kak."

Rasanya benar-benar canggung. Gibran tak tahu harus memulai darimana. Banyak kata yang ingin ia ucap tapi bingung bagaimana merangkai kalimat yang pas didengar Winnie. Hening sore kala itu terpecah saat Gibran kini berani memangku tatap pada wajah Winnie yang sedikit berbeda.

"Kamu nggak keliatan di sekolah," katanya dengan ragu. Mengundang tolehan Winnie.

"Tadi pulang awal,"

"Kenapa? Kamu sakit?"

Winnie mengangguk kecil, "Masuk angin kayaknya, cuma pusing da."

Ada desah panjang setelah Winnie mengatakan itu. "Kenapa nggak bilang aku atuh?"

"Orang kerasanya tadi di sekolah, mendadak."

Gibran mengutuki diri sendiri menyadari betapa bodohnya ia kemarin. Masalah yang dia perbuat berefek pada kesehatan Winnie, sampai-sampai gadis itu pasti banyak berpikir yang tidak-tidak.

Maka dengan maaf yang ia lirihkan dalam hati, Gibran membuka jaket denim yang terpasang untuk ia pakaikan pada sang kekasih. "Kan bisa telpon aku, Win. Terus kenapa tau sakit malah nggak pake jaket, angin sore nggak bagus."

Segelitik hangat melingkupi hati sang perempuan yang diberi respons dengan keterdiaman. Gibran menarik nafas pelan, kemudian lirihan putus asanya terdengar. "Win, aku minta maaf."

Tatap sendu Gibran menyorot penuh pada perempuan yang ada dalam pandangannya. Binar cerianya hilang sejenak. Kendati begitu, Winnie hanya menunduk dalam menyiapkan mental untuk mulai mengangkat suara.

Pada tiap tarikan nafasnya, terdengar putus asa dan pasrah. Beberapa hari tanpa kehadiran Winnie, tentang hubungan mereka yang tiba-tiba memburuk, Gibran memutar otak bagaimana caranya agar ia bisa mengembalikannya dalam keadaan semula.

Manakala ia terlihat diam-diam saja, tapi perasaannya kian memberat merenungi setiap kata demi kata yang hari itu Gibran dengar dari mulut Winnie, kekasihnya sendiri.

"Maaf kalau aku selama ini kurang membagi perasaan ke kamu, Win. Bukan apa-apa, aku cuma... pengen kamu happy terus tanpa mikirin kesedihan aku, Win."

Gibran menarik nafas berat, jemarinya meraih telapak tangan Winnie untuk ia genggam dan mengusapnya lembut. "Kalo cara aku salah, tolong tegur, Win. Tapi jangan pernah sekalipun kamu ngerasa kamu nggak berguna."

Feeling In Silence Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang