46. Ada Sesuatu Yang Berbeda

282 55 12
                                        













Pagi itu Winnie diantar Papa. Gibran mungkin paham alasannya apa, tapi Winnie juga tak bisa memberitahu dengan detail setelah kejadian nyaris ciuman di depan rumah bagaimana. Winnie tutup mulut ketika Gibran bertanya apa respons Ayah Winnie kala itu.

Gadis itu selalu saja mengelak dengan tegas. Padahal Gibran yakin ada sesuatu yang harus ia tahu. Tapi jika Winnie sendiri tak ingin terbuka, Gibran juga kesulitan sendiri. Sibuk menerka-nerka tak akan membuat keyakinannya timbul dengan jelas. Pasti ada setitik rasa tak nyaman yang membuat ia sendiri ragu.

Ketika di kantin tadi, mereka berada di meja yang sama. Winnie bersikap seperti biasanya. Makan berdua, menertawakan sesuatu yang konyol. Tapi ketika Gibran menyinggung kejadian kemarin, Winnie seolah tak ingin membahas. Gadis itu jelas menghindari topik pembicaraan itu. Dan Gibran jadi semakin curiga.

Kala tibanya pulang sekolah, ketika ramainya murid-murid yang menyeruak keluar gerbang. Gibran sudah menunggu di parkiran kantin. Kebetulan kelas Winnie hari ini di ujung dekat toilet, berdekatan dengan motor Gibran yang terparkir paling akhir karena telat, pandangan matanya menatap gadis itu yang tengah menyapu.

Winnie belum menyadari keberadaannya, sebelum pintu kelas itu tertutup dan tatap pandangnya bertemu. Menimbulkan tarikan senyum lembut Gibran yang dibalas serupa.

"Lohh?? Kak Iban daritadi disana??"

Tanya Winnie bersama langkah kecilnya menghampiri, dibalas anggukan tenang dengan kekeh lembut membersamai. "Fokus banget nyapunya, sampe nggak sadar aku nungguin disini."

Dan Winnie mendengus, "Ihh da atuh nggak tauu. Nggak di sapa mah nggak akan nyadar."

Iringan langkah kaki dari parkiran ke gerbang depan agaknya memberi sebagian kecil waktu obrolan untuk keduanya. Gibran sudah memasang helm dan menyodorkan milik Winnie untuk ia pakai juga.

Namun bukannya menerima, Winnie hanya mengulum bibir memberi ancang-ancang untuk bicara. "Kenapa?"

Ditanya seperti itu, Winnie meringis kecil. Berkata pelan dengan tak enak hati, "Aku dijemput Papa, Kak. Hari ini kayaknya aku nggak bisa bareng sama kamu dulu ya?"

Gibran mengernyit heran, "Tumben?"

"Ih masa nggak boleh? Nggak tau tuh Papa, eh kayaknya nggak hari ini aja deh. Besok-besok kayaknya mah aku dianter jemput sama Papa dulu, Kak. Nggak papa kan?"

"Kenapa?"

Ditatap tanpa henti pemuda itu, Winnie jadi tak bisa menjawab. Dia jadi bingung sendiri alasan apa yang harus ia katakan pada Gibran mengenai ini, "Eung.... mungkin.... Papa kangen anter jemput aku? Secara udah lama kan aku sama Kak Iban."

Gibran tampak tak percaya. Picingan matanya terlihat curiga. "Kok tiba-tiba? Bukannya kamu pernah bilang mau ikut nebeng sama aku sama Papa?"

Winnie melarikan pandangan, kebingungan. "Yaiya sih... tapi kan—"

"Win,"

"Iya?"

Gibran terdiam sejenak, tatapan teduhnya menyorot Winnie tanpa jeda. Ada kilat tak nyaman yang samar, terselip diantara tatap lemhutnya yg dominan. "Ada apa?"

"Hah? Apanya?"

"Kamu," Gibran menghela pelan, ditemani murid-murid yang berlalu lalang, pemuda itu menunggu jawab yang ia terka-terka. Yang membingungkan pikirannya, "Kamu kenapa?"

Winnie mengerjap, masih mempertahankan wajah (pura-pura) tak mengertinya. "Aku? Aku nggak papa kok, aku baik-baik aja."

"Nggak, aku ngerasa kamu beda hari ini."

Feeling In Silence Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang