60. Mengobrol di Rumah Jaidan

117 11 0
                                        





H-25

Winnie baru saja turun dari motor Gibran setelah pemuda itu mengajaknya untuk ikut ke rumah Jaidan-teman sang pacar. Dari luar, sudah terlihat motor Harsa dan Argi terparkir bersama para pemiliknya di teras rumah.

Kedatangan keduanya menimbulkan tolehan serempak, "Yooo, calon penghuni negeri anime!" Harsa berseru nyaring menyambut Gibran yang datang menggandeng Winnie, "Eit, bocilnya si Iban ngikut."

Winnie menampilkan senyum kecil sebagai sapa, sedikit malu-malu karena disana juga ternyata ada pacarnya Jaidan. Perempuan cantik dengan rambut panjang itu datang dari dalam rumah, membawa beberapa gelas kosong untuk mereka yang datang.

Gibran bertos pelan pada Jaidan, "Awis tepang ah," katanya sebagai bentuk sapaan ringan. "Eh Kal, disini juga."

Kalilea-pacar Jaidan menyahut riang, "Lagi ngapel nih, orang sibuk dia. Tapi jadi agenda penyambutan yang mau ke negeri sakura katanya."

Gibran menanggapi dengan tawa, "Aduh ganggu dong ini ya?"

Jaidan yang mendengarnya menggeleng sambil nyengir, "Nggak anjay aman, malah seneng. Sekalian pamit kecil-kecilan sebelum si Iban pindah zona waktu."

"Diuk atuh, Ban. Kasian itu kanjeng ratu." Argi yang tengah mengipasi sate yang tengah dibakar berseru.

"Oh heeh," Gibran menunjuk karpet di selasar teras Jaidan malam itu, "Duduk, cantik." katanya manis, mengundang siulan menggoda dari Harsa dan yang lainnya.

"WOOOIIII!!!" serempak Harsa dan Argi berseru, disambung siulan dramatis dari Jaidan, "Baru juga duduk, udah kena gombalan kualitas Shopee Flash Sale!"

Winnie tertawa kecil sambil duduk di sebelah Gibran, menahan senyum malu-malu.

"Bener-bener ya Ban sekarang," Harsa geleng-geleng. "Dulu mah ngajak duduk cewek aja kayak ngajak rebutan bangku pas 17-an. Sekarang udah kayak Mas Gibran ngajak Mbak Cinta naik andong di Malioboro."

"Eh, jangan salah," sahut Argi, "Dulu si Iban kalo naksir cewek, modusnya ngajak ngerjain PR bareng. PR dia."

"Ceuk saha anjir? Fitnah!" Gibran mengelak, "Nggak usah didengerin deh, wadul wadul."

"Eh tapi, itu cuma strategi licik doang. Si Iban aslinya gamon dari jaman puber jir." Harsa melirik, menahan tawa ketika Gibran sudah melotot memperingati.

"OHHH!" Jaidan ikut menyahut, "Modus ke toilet kelas tujuh?Atau jadi kameramen di Kepramukaan?"

Gibran mendesis, tapi tetap tertawa-tawa. "Eh arsip negara. Sensor sensor."

Meskipun Argi belum ada di SMP yang sama, tapi ia tetap menyahut. "Meskipun urang belum ada pas kalian SMP, yakin sih gimana cemennya si Iban sama tuh cewek. Sok aing tebak," Argi memutar badan, menunjuk dengan kipas yang ada di pegangannya, "Maneh nggak pernah potbar kan pas SMP?"

"BUAHAHAHAHA!" Itu tawa keras Harsa. Jaidan juga yang dikenal kalem terpancing tawa, "Ban, aing nggak ember, Ban. Itu tebakan yang tepat."

Argi melotot, "Anying bener?"

Gibran mendadak malu, pemuda itu melirik Winnie yang hanya menaikkan alis tinggi tapi wajahnya ikut menggoda. Mengingat cerita itu, mengundang nostalgia kenangan lama yang bahkan Winnie kira cukup tak menyangka.

Kemudian Winnie hanya tertawa kecil menanggapi. Matanya melirik semua yang duduk disana. Selasar teras rumah Jaidan ramai oleh tawa Harsa dan Argi yang kini tengah membakar daging. Dan disampingnya, Kalilea tiba-tiba bertanya ringan. Sementara cowok-cowok lain udah siap saling meledek lagi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Feeling In Silence Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang