31. Sebuah Skenario Tuhan

393 77 20
                                        









Gibran Athala dilahirkan dari keluarga yang harmonis. Penuh dengan kasih sayang dan perhatian tak terlewat. Ayahnya sosok yang tangguh dan bertanggung jawab. Bundanya juga perempuan anggun yang penuh kelembutan. Maka dari itu, Gibran terbentuk dari didikan kedua orang tua yang hebat.

Sikapnya yang terlalu baik banyak di salah artikan orang-orang. Gibran merupakan pribadi yang tak mudah menyakiti hati orang lain. Seringkali tak bisa mengatakan tidak dengan teganya. Dan akhirnya mengiyakan dengan senyuman lembut yang terkenal dengan ramahnya.

Dulu, Gibran pernah bermimpi ingin menjadi Dokter Bedah. Entah pikiran darimana, tapi saat ditanya guru mengenai cita-cita pemuda itu menjawab dengan lantangnya.

"Iban pengen jadi Dokter Bedah, Bu!"

Kala itu Gibran kelas lima, dan mimpinya patah ketika dia mulai mengenal dunia fotografi di pergantian tahun menuju kelas tujuh. Gibran tak ada keturunan penyuka kamera. Di keluarganya, dominan menjurus ke per-accountingan. Ayahnya staff accounting di sebuah Hotel ternama Bandung, Bunda juga pernah bekerja di sebuah perusahaan dengan bidang yang sama. Dan agaknya, Gibran menyimpulkan bahwa pertemuan orang tuanya dimulai dari sana.

Anehnya, Gibran sama sekali tak tertarik. Bukan ia tak pandai hitung-hitungan, tapi ketika hari itu Gibran menemukan titik nyamannya pada kamera temannya yang ia gunakan, Gibran langsung jatuh cinta.

Bisa memotret banyak hal menimbulkan sensasi yang menenangkan hatinya. Gibran bisa tersenyum senang ketika hasil jepretannya selalu ia lihat sebelum tidur. Dia bisa tertawa-tawa ketika ia memutar ulang rekaman bersama teman-teman.

Setidaknya untuk hari itu, Gibran menyadari sesuatu dalam videonya. Sebuah senyum manis yang tak sengaja ia rekam, menciptakan kesan indah sebagai latar belakang. Dan darisana ia penasaran.

Menjadi anak baru yang seragamnya masih putih bersih dan tak neko-neko, Gibran mulai berteman dengan Harsa dan Jaidan. Pemuda yang sikapnya bertolak belakang. Harsa si pemuda slengean yang humoris, dan Jaidan yang ambis dan perfeksionis. Gibran harus berada di antara keduanya.

Setelah rekaman video beberapa hari lalu ia tonton berulang-ulang, Gibran jadi sering mengedarkan pandangan. Dengan harapan ingin melihat sosok itu secara langsung, oleh matanya sendiri.

Dan kemudian harapannya terwujud, sebuah takdir tuhan yang entah kenapa membuat Gibran senang. Padahal secara kebetulan wajah gadis itu ikut dalam videonya, tanpa maksud apa-apa. Namun sepertinya, Gibran mulai tertarik, dan ia semakin ingin tahu lebih banyak.

Lewat jalan Tuhan, kala itu Gibran telah di tetapkan menjadi seksi dokumentasi Pramuka. Setiap Kamis, hanya dia yang berkeliling ke kelas-kelas untuk membidikkan kamera dan di setorkan pada Ketua. Sebuah keajaiban, gadis itu terlihat dalam pandangan. Menggemaskan.

Gibran tak pernah tahu namanya, dia juga belum terlihat ingin mengenal lebih jauh. Namun kendati demikian, sepertinya hatinya bergerak diam disana sejenak. Hanya untuk mendengar absen nama yang akhirnya ia tahu.

Namanya Winnie Teresia. Murid kelas tujuh A yang masih menggemaskan.

Kala itu Gibran kelas delapan, masih tak terlalu mengerti arti suka-sukaan. Gibran tak terlalu tertarik dengan hal begitu. Ia masih jatuh hati pada kamera, masih ingin memperdalam ilmu baru yang baru saja ia minati belakangan ini.

Kendati demikian, Gibran selalu mencari-cari Winnie tanpa sadar. Seolah jika tak melihatnya dalam seharian, Gibran pasti berpikir, "Kok dia nggak keliatan ya?"

Dulu, modus Gibran bukan sekedar melewati kelas Winnie jika sedang permisi. Bersama Harsa, Gibran menggiring  pemuda itu untuk mengajak anak-anak kelas nongkrong di selasar kelas. Hanya untuk melihat siapa saja yang lewat. Rezekinya, Gibran juga ada asupan rutinitas menunggu gadis mungil itu dalam pandangannya.

Feeling In Silence Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang