23. Gemuruh Sesak Yang Menggelitik

383 77 9
                                        












Selama ujian, bukan hal yang mudah bagi Winnie untuk main-main. Dia memang bukan anak ambisius yang ditekan untuk sempurna. Tapi melihat harapan Papa saat ujian tengah semester kala itu, rasa-rasanya agak tidak tahu diri jika Winnie malas-malasan, juga mengerjakan soal asal-asalan.

Kali ini Winnie menanamkan mindset yang jelas. Menata tujuan yang ingin dicapai. Menapaki titik demi titik perjalanan kehidupan yang masih abu-abu.

Hari-hari ujian berjalan membosankan. Kegiatan dari pagi hingga malam dihabiskan untuk belajar. Satu minggu penuh. Namun untungnya, ada sosok Gibran yang senantiasa memberi efek menyenangkan saat pemuda itu berbagi kekonyolan.

Alasan dibalik belajar bersama, sampai akhirnya tertawa-tawa. Hanya untuk membahas hal-hal yang menggelitik perut. Bersama secangkir teh hangat buatan Bunda dan suara merengek Geya yang kadang kala terdengar.

Hari pertama, lancar. Pelajarannya gampang, katanya. Dilanjut hari kedua dan ketiga. Namun memasuki hari keempat, saat pelajaran pertamanya adalah Bahasa Inggris, Winnie dibuat tak berkutik.

Mana bisa soal-soal yang ia hafalkan semalaman tak ada satupun disini?

Seolah tak cukup sampai sana, gadis itu diterpa kemalangan saat komputer yang dipakainya error di tengah pengerjaan soal. Membuang waktu dengan percuma ketika ia harus mengerjakan ulang.

Winnie rasanya ingin menangis kencang saat itu. Melihat beberapa teman sekelasnya satu persatu sudah keluar kelas, menimbulkan panik yang melanda. Sampai akhirnya waktu habis, Winnie harus merelakan beberapa nomor yang kosong.

Dan ia diserang keterdiaman. Gadis dengan rambut pendek hitam sebahunya menekuk wajah kecewa. Yang ditangkap jelas oleh Gibran sepulang sekolah hari itu.

"Win? Langsung pulang aja?"

"Iya."

Keterdiaman Winnie yang jarang sekali terjadi mengundang kebingungan pemuda itu. Gibran sama sekali tak mendengar ocehan riang yang biasa terlontar dan membahas banyak hal di atas motor saat perjalanan pulang.

Gadis itu hanya menatap sendu jalanan, sesekali mendenguskan hidung dan memalingkan wajah ketika merasa tatap Gibran menilik pada spion untuk melihat wajahnya.

Tadinya Winnie ingin pulang dan menangis sejadi-jadinya saja di kamar. Sebelum ia tersadar dan akhirnya suaranya terdengar saat motor Gibran tak berjalan sesuai arah ke rumah.

"Kok belok? Bukannya Kak Iban biasa ambil jalan lurus ya?"

Dan Gibran hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Membiarkan Winnie bertanya-tanya dalam diam, diterpa kebingungan. Sampai akhirnya motor merah Gibran berhenti, Winnie menengok kanan-kiri.

"Kak Iban mau beli es krim?"

Seraya menata rambut setelah helm terbuka, Gibran melirik, "Iya, nggak papa kan?"

Mau tak mau, Winnie hanya mengangguk. "Aku tunggu disini aja ya?"

"No," Gibran menyahut cepat, "Kamu juga ikut, tolong pilihin. Ayo."

Ketika pergelangan tangan Winnie ditarik lembut oleh genggaman pemuda itu, Winnie hanya membuang nafas pelan. Membiarkan rasa tak nyaman menahan tangisan berkecamuk hebat dalam dada.

"Menurut kamu enak yang mana, Win?"

Winnie melirik samar, tak habis pikir. Gibran Athala ini memang kepekaannya rendah sekali apa ia tak peduli? Tak bisakah pemuda itu sadar kalau ada yang berbeda dengannya hari ini?

Bukan Winnie yang terlalu ingin dimengerti, tapi setidaknya jangan membuat ia semakin terbebani. Winnie sudah menahan rasa tak nyamannya sedari tadi, yang ia butuhkan hanya pulang dan menangisi hari ini.

Feeling In Silence Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang