14. Lirih Riuh Hati Kala Itu

418 106 9
                                        









Patah hati.

Winnie sering mendengar. Dia sering menyinyir pada kakak laki-lakinya yang terlihat lemah mengurung diri di kamar. Winnie selalu menyepelekan dan mengganggapnya terlalu lebay.

Tapi nyatanya memang sakit ya?

Winnie baru merasakan, dan ini pertama kalinya. Dia tak bisa menjelaskan bagaimana perihnya saat ia mendengar suara lirih nan terluka Gibran menjawab kedekatannya dengan Miya.

Dia sering tak mengerti saat Shandika Deon-kakaknya curhat panjang lebar dengan umpatan-umpatan dilontarkan meluapkan kekesalan dan kepedihan dalam dada di balkon. Dan kini ia sendirian disini, menatapi hamparan bintang di langit gelap.

Kini Winnie paham. Patah hati memang menurunkan semangatnya. Mengikis habis kepercayaan dirinya. Juga menghancurkan harapannya.

Persis seperti kakaknya yang lebih memilih pulang ke rumah, mengurung diri di kamar, menghabiskan beberapa gelas kopi dan rokok di balkon. Berlari dari masalah, lalu kembali saat ia mulai lelah.

Winnie menarik nafas berat menyeka bulir hangat yang menetes. Dia masih duduk di ayunan rotan di luar kamar, memeluk lutut menangis dalam diam.

Dia menyukai Gibran.

Iya, itu memang mutlak. Winnie tak bisa berbohong untuk membenci pemuda itu. Sejujurnya, ada setitik kesenangan yang menggelitik hatinya saat kepala Gibran jatuh pada bahu kecilnya. Namun terlalu tertutup oleh nama Miya yang menjadi topik menyakitkan bersama pemuda itu.

Kelam malam pukul sebelas itu, Winnie masih diluar. Dia sulit memejamkan mata, kepalanya berisik. Hatinya tak nyaman. Dan juga... ia terluka.

Sudahkah ia menyerah?

Harus. Benar kan? Dari awal bahkan ia sudah kalah. Gibran tak menganggapnya lebih. Itu hanya formalitas belaka. Winnie saja yang terlalu berharap. Menerbangkan ekspetasi yang perlahan-lahan jatuh tak sampai.

Hingga menciptakan getaran perih di dada.

Winnie ingin terlupa sejenak. Membiarkan pikirannya meringan sesaat. Ini masih baru, Winnie masih tak bisa menganggapnya seperti apa. Hal yang tak pernah ia pikirkan selama ini.

"Kak Gibran, sebenarnya Miya itu siapa sih?"

Seseorang yang sepertinya punya peran yang berharga.

Seperti tokoh utama perempuan yang setia mendampingi tokoh laki-lakinya setiap saat. Sampai menciptakan akhir yang bahagia.

Si gadis yang menjadi atensi seluruh murid saat penyematan medali kejuaraan yang kemudian sorak sorai mendominasi. Menimbulkan bisik-bisik kekaguman yang kentara saat senyuman Miya terpampang di depan podium sana. Menyalimi telapak tangan Kepala Sekolah.

"Win, kamu sakit?"

"Hm?"

Sebenarnya Nania sudah heran sejak pagi. Datang-datang wajah gadis itu agak lain. Tak bersinar seperti biasanya. Lebih murung dan kurang fokus. Tapi ia membiarkan tanda tanya besar mengambang dalam pikiran. Sampai kemudian baru diutakan sekarang, Winnie malah menjawab dengan gelengan.

"Ke UKS yu, kamu kayaknya nggak enak badan gitu. Izin aja nggak papa."

Tatap mata sendu Winnie masih menyorot kesana. Sosok lain datang menghampiri, pemuda itu-kaki jenjangnya mendekat, menyorot objek dengan tekukkan lutut memposisikan letak kamera dalam genggaman.

"Nia,"

"Kenapa Win?"

"Kok Kak Iban ada dua ya?"

"Astaga, Winnie!"

Feeling In Silence Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang