58. Selasar Sekolah Setelah Sidang

49 2 0
                                        











Pagi itu, rumah Iban terasa lebih ramai dari biasanya.

Meski matahari belum tinggi, aroma teh manis dan roti bakar sudah menyambut dari dapur. Gibran berdiri di depan cermin ruang tamu, mengenakan kemeja putih bersih dan celana kain hitam yang disetrika rapi. Rambutnya sudah disisir ke samping, tapi beberapa helai tetap membandel. Ia menarik napas, lalu menoleh saat suara langkah mendekat dari belakang.

"Udah ganteng banget," celetuk Bunda sambil membawakan kotak bekal berisi roti dan susu. "Jangan lupa sarapan di jalan ya. Nanti kalo perut kosong malah grogi."

Ayah menyusul dari arah teras, membenarkan rambut sang putra dengan teliti. Kemudian telapak tangannya beliau letakkan pada kedua bahu Gibran, memberi nasihat. "Sidang PKL ini bukan akhir, tapi awal dari jalan baru kamu, Ban. Bawa nama baik dirimu dan keluarga, ya."

Gibran tersenyum kecil. Matanya sempat berkaca-kaca tapi buru-buru ia tunduk, merapikan tali sepatu.

"Makasi ya, Yah, Bun. Doain Iban bisa jawab lancar, biar nanti pulangnya bisa senyum lega."

Bunda mencium keningnya, pelan tapi hangat.
Ayah menepuk pundaknya dua kali, erat.

Saat Gibran melangkah keluar, ransel di punggung, map laporan di tangan, dan harapan besar di dadanya, ia sempat menoleh kembali ke dalam rumah-ke tempat yang membesarkannya, yang akan ia tinggalkan sebentar lagi.

Di sekolah, aula kecil tempat sidang telah dipenuhi suara langkah sepatu dan suara pelan bisik-bisik siswa lain yang juga menunggu giliran. Gibran duduk di bangku paling pinggir, membuka laporan yang sudah ia cetak semalam. Sampulnya biru, rapi, dengan logo sekolah dan nama perusahaannya tertera jelas.

Dari layar ponsel yang diselipkan di bawah meja, ada pesan dari Winnie.

Dari layar ponsel yang diselipkan di bawah meja, ada pesan dari Winnie

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gibran nyengir sendiri. Mendadak rasa gugup di perutnya menciut sedikit. Dipandanginya gambar Winnie dalam diam, Gibran menarik senyuman lebar. Sial, cantik banget.

Kesadarannya kembali ketika namanya dipanggil.

Ia maju ke depan, menyodorkan laporan ke meja penguji, dan berdiri dengan tangan di samping tubuh. Di depannya, ada dua guru: Bu Tia, pembimbing PKL yang dikenal teliti, dan Pak Reki, guru produktif multimedia yang suka melempar pertanyaan teknis.

"Silakan mulai presentasinya, Gibran," ujar Bu Tia.

Gibran mengangguk. Slide mulai ditampilkan. Ia membuka presentasi dengan menjelaskan profil tempat ia PKL-sebuah studio desain lokal yang bergerak di bidang percetakan dan konten digital.

Tangannya sempat sedikit bergetar saat menjelaskan bagian desain banner promosi yang pernah ia kerjakan, tapi suaranya tetap stabil.

Saat sesi tanya jawab dimulai, Pak Reki menyipitkan mata, "Kamu bilang pernah revisi desain banner sampai lima kali. Apa itu menunjukkan kamu kurang teliti di awal, atau klien yang nggak jelas maunya?"

Feeling In Silence Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang