H-30 Keberangkatan Gibran
"Ke sekolah sama siapa, dek?"
Pagi itu, meskipun belakangan ini suasana sekolah tampak tak kondusif Winnie tetap pergi. Kadang-kadang, Winnie hanya melamun ditemani Nania yang ingin menonton pertandingan yang tak ada habisnya. Tapi kadang juga, Winnie hanya diam di kelas menunggu Gibran datang dan mengajaknya pulang.
"Sama Kak Iban."
Suasana meja makan pagi itu sama seperti biasanya. Namun kali ini, Winnie tampak tak begitu ceria. Mengundang keheranan sang kepala keluarga. "Kenapa atuh kalo sama si aa mah malah cemberut gitu."
Winnie akhirnya menoleh, mengembungkan pipinya sebentar lalu bersandar malas ke sandaran kursi. "Pa, Ma. Waktu dulu masih pacaran... pernah LDR, nggak?"
Satu pertanyaan, tapi cukup membuat ruang makan pagi itu mendadak terasa agak melambat putarannya. Namun begitu, Mama menoleh cepat, ekspresinya seperti habis dipancing hal seru mencoba mencairkan suasana. "Hooo... pertanyaan serius pagi-pagi. Kenapa nanyanya gitu, sayang?"
Winnie hanya menarik senyum kecil, lalu memainkan tali tasnya.
Papa menyandarkan tubuh ke kursi, lalu memandangi istrinya sambil tersenyum. “Pernah dong. Mama dulu kuliah di Bandung, Papa kerja di Jakarta. Dua minggu sekali baru ketemu.”
“Tapi tiap hari nelepon,” sela Mama sambil tertawa, “Pakai wartel, mana sinyal suka ilang. Kalau udah kangen banget, Papa naik travel cuma buat ketemu sejam doang, terus balik lagi.”
Winnie mendengarkan, tapi senyumnya tidak selebar biasanya. Matanya menerawang, seolah sedang membayangkan Gibran jauh dari jangkauan, dan itu... pasti menyedihkan.
Papa melirik putrinya. “Kenapa, takut Kak Iban ninggalin adek pas udah jauh?”
Winnie buru-buru menggeleng. “Nggak, cuma... ya gitu. Rasa-rasanya beda aja gitu, Pa.”
Mama menyentuh tangan Winnie yang ada di atas meja. “Wajar, Dek. Tapi jarak itu bukan penentu akhir hubungan. Yang penting dua-duanya sama-sama tahan uji.”
Winnie menunduk, lalu mengangguk pelan. Tapi dalam hati, ia tahu: teori memang mudah, tapi praktiknya kadang bisa semenyiksa itu. "Aku kuat gak ya, Ma?"
Pertanyaan itu meluncur pelan, hampir seperti bisikan, tapi cukup jelas untuk membuat ruang makan pagi itu sejenak hening. Mama tak langsung menjawab. Ia menatap putrinya dengan lembut, seolah sedang mengukur kedalaman resah di balik mata Winnie.
“Yang Mama tahu, adek anak yang paling bisa tahan banting,” ucapnya lembut. “Tapi kuat itu bukan berarti adek nggak boleh takut, sayang. Bukan berarti adek harus baik-baik aja terus.”
Winnie menggigit bibirnya, lalu tertawa kecil menutupi gugup. “Aku takut kangen, Ma.”
Papa ikut menyahut, suaranya tenang. “Berarti kamu sayang.”
Winnie mengangguk pelan, dan senyum tipis itu akhirnya muncul—senyum yang sedikit getir tapi hangat. Seperti tahu, apa pun yang terjadi nanti... rumah ini akan tetap menjadi tempat berpulang, tempat bertanya, dan tempat menumpahkan kekhawatiran, tanpa perlu ditahan-tahan.
Mama menatap putrinya lama, lalu tersenyum kecil. “Aduh, anak Mama sekarang ternyata udah gede, Pa. Padahal rasanya baru kemarin masih belajar jalan sambil narik-narik ujung baju Mama.”
Papa tertawa pelan. “Sekarang malah takut ditinggal pacarnya.”
Winnie cemberut pura-pura, tapi wajahnya masih menyisakan senyum. Tak disangkal, pagi itu—meski terasa berat—tetap hangat dengan kehadiran dua orang yang selalu jadi rumah pertama dalam hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feeling In Silence
Novela Juvenil❝ Sadar atau tidak, pengagum rahasia itu orang ketiga. Dan mungkinkah kamu termasuk ke dalam orang-orang itu? ❞ Started on June 2022 © Chocolalayu
