57. Pulang ke Rumah

80 6 0
                                        







Winnie tahu, sejak awal, hubungan mereka tak akan selamanya berdiri di tempat. Iban terlalu bercahaya untuk tidak dilihat dunia. Dan cinta, baginya, bukan soal menggenggam erat, tapi belajar kapan harus melepaskan perlahan.

Beberapa hari setelah kabar beasiswa itu datang, Winnie diam-diam mulai menghitung hari. Tapi bukan dalam hitungan senang. Lebih seperti hitungan mundur menuju kepergian.

Ia tidak menangis di depan Gibran. Bahkan saat Gibran memandangnya dengan mata penuh ragu, seolah meminta izin untuk tetap pergi, Winnie hanya mengangguk pelan dan berkata, “Aku bangga.”

Padahal, di dalam hatinya, ia ingin berkata: “Boleh nggak Kak Iban perginya nanti aja?"

Tapi ia tahu itu bukan waktunya.

Winnie bukan gadis yang suka membuat orang bimbang. Ia tahu, Gibran sudah terlalu lama memeluk mimpinya. Dan sekarang, ketika mimpi itu mengulurkan tangan, ia tak ingin jadi alasan yang menarik Gibran kembali.

Malam-malamnya kini penuh jeda. Ia sering duduk di dekat jendela kamar, melihat lampu jalan yang redup, membayangkan seperti apa hidup Gibran di tempat baru nanti. Apakah akan ada yang menyambutnya dengan tawa yang lebih hangat? Apakah suara Winnie akan tetap dikenali dalam panggilan video yang makin jarang?

Namun di balik semua kekhawatiran itu, satu hal tak pernah berubah: Ia ingin Gibran pergi dengan hati yang ringan. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah.

Dan jika suatu hari rindu itu tak cukup kuat untuk menghubungkan jarak, Winnie tetap ingin dikenang sebagai orang yang pernah berkata: “Terbang Kak Iban. Kalau lelah, aku masih ada."

Winnie tak mau berlarut-larut dalam gundah, mengingat waktu Gibran bersamanya tinggal beberapa bulan lagi.
Dia tahu, menghitung mundur hanya akan membuat semuanya terasa lebih menyakitkan. Maka kali ini, bukan hitungan yang ia peluk, tapi kehadiran. Waktu yang sedikit harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Winnie harus hidup sepenuh hati. Ia harus menjadi rumah paling hangat yang bisa Gibran ingat dari jauh nanti. Bukan dengan air mata, tapi dengan tawa, dengan momen-momen kecil yang tak akan terlupakan.

Maka dari itu, Winnie meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Mengetik beberapa kata untuk sang pujaan hati dengan perasaan yang ia yakini akan baik-baik saja.

Tepat setelah pesan itu terbaca, panggilan video masuk yang langsung Winnie terima dengan senang hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tepat setelah pesan itu terbaca, panggilan video masuk yang langsung Winnie terima dengan senang hati.

Tepat setelah pesan itu terbaca, panggilan video masuk yang langsung Winnie terima dengan senang hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Feeling In Silence Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang