"Aku tau kamu bohong. Tapi aku tetap tersenyum untuk semua yang kamu lakukan. Aku tetap merasa bahagia karena bisa bersama dengan kamu. Karena aku sungguh-sungguh mencintai kamu, Rawi."
Rawi termenung di depan ruang tunggu pasien. Kepalanya tidak la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
24.07.2023
_______________________
Yumna menatap ponselnya dengan wajah bingung. Dia hanya bisa mendengar sekaligus melihat wajah-wajah yang sedang berdebat dan saling bersahutan. Yang lebih membingungkan lagi adalah karena dia tidak mengerti maksud mereka.
Sekarang ini, dia sedang melakukan video call dengan teman-temannya. Dia yang awalnya sedang bersantai di rumah mendapatkan panggilan video dari Nuha yang ternyata sudah terhubung dengan Raya dan Zeba. Awalnya mereka berbicara tentang masa lalu, namun setelah itu mereka sibuk berdebat perihal Zeba yang akan segera menikah dengan Gara.
"Cepet banget sih! Gara tuh tancap gas banget deh. Sabar dulu kek." Keluh Nuha.
"Itu tuh udah paling pas, Nuh." Jawab Zeba.
"Tapi aku nggak bisa batalin acara ke New York." Keluh Nuha lagi.
Jika rencana pernikahan Zeba dilaksanakan minggu kedua bulan depan, maka Nuha sudah bisa memastikan jika dia akan absen. Sebab, dua hari sebelum tanggal tersebut dia harus terbang ke New York bersama sebuah organisasi yang dia ikuti. Andai itu hanya kunjungan biasa, dia tidak akan sibuk seperti ini. Tetapi ini adalah kunjungan yang akan memberi pengaruh pada masa depan kliniknya. Kapan lagi dia bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan relasi seluas ini.
"Ini kalian berdebat untuk apa sih? Acara lamaran aja belum. Masih bisa berubah itu jadwalnya." Celetuk Yumna dengan jengah.
Nuha yang ada di seberang sana terdiam. Dia baru sadar jika tanggal cantik itu baru dipilih oleh Zeba dan Gara. Jika keluarga kedua belah pihak tidak sepakat, mereka juga akan memikirkan kembali hal itu.
"Kenapa nggak dari tadi sih, Yum. Zeba sama Nuha 'kan nggak perlu debat begitu kalo kamu nyeletuk duluan." Ujar Raya.
"Aku mana tau kalian bicara masalah apa. Orang sahut-sahutan begitu." Sanggah Yumna.
"Yumna... Makan siang yuk!"
Kepala Yumna berputar melihat ibu sambungnya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Iya, Bunda." Jawab Yumna lalu menoleh ke arah ponselnya.
"Teman-temanku semuanya, aku isi perut dulu, ya. See you." Ucap Yumna dengan manisnya sebelum menutup sambungan video.
Dia lalu turun ke bawah untuk menikmati makan siang.
***
"Kamu yakin nggak mau punya restoran sendiri?" Tanya ayah Yumna pada anaknya tersebut.
"Yakin, Pa. Yumna mau fokus di resto milik Yumna sama Nuha dulu. Yumna belum percaya diri untuk mengurus resto sendiri." Ujarnya.
"Vani setuju sama pemikiran Yumna, Mas. Lebih baik belajar dulu di resto itu sebelum membangun usaha sendiri. Yumna pasti akan belajar banyak dari temannya. Iya 'kan, Yum?"