Part 6

12.6K 930 2
                                    

Hari pertama sekolah berjalan dengan lancar. Tidak ada hambatan sama sekali. Aku dan Arya pun mulai sedikit lebih dekat.

Saat jam istirahat siang, ia menajak ku makan siang di kantin. Aku pun ikut bersamanya. Saat di kantin ia lebih banyak berbicara dengan murid lain.

Sebenarnya aku juga tidak masalah. Toh ia memang terknal dan sering di kerumuni perempuan. Para murid perempuan di kelas kami pun tak henti-hentinya ingin makan di kantin bersama Arya.

“Kamu sudah pilih ekskul?“ tanya Arya

Bel pulang 10 menit lalu berbunyi. Guru pun baru saja keluar. Ini adalah hari pertama untuk ekskul juga.

Saat minggu lalu waktu mos ada acara semacam pertunjukan dari berbagai ekskul. Aku tertarik masuk ekskul basket. Namun aku takut tidak bisa berbaur dengan baik.

“Sepertinya aku akan pulang” jawabku

“Kenapa? Ekskul penting, setidaknya kamu ikut satu ekskul”

“Aku tahu, tapi aku takut untuk berbaur.“

“Ada aku. Aku akan ikut ekskul basket. Kamu mau ikut tidak? Setidaknya kamu kenal aku” kata Arya sambil tersenyum.

“Aku juga suka basket” ucapku agak pelan

“Benarkah! Kita pasti akan jadi partner yang saling melengkapi”

Aku agak terkesan dengan perkataanya. Tanpa sadar aku tersenyum.

“Tapi aku tidak semahir itu” kataku sambil menggaruk tengkukku.

“Itu tidak masalah. Semakin kamu sering berlatih, kamu akan menjadi lebih mahir”

“Sepertinya kamu cocok jadi motivator. Haha” kataku sambil terkekeh.

“Haha. Jadi, kamu ikut masuk ekskul basket?“

“Iya, aku ikut” jawabku sambil menganggukan kepalaku.

“Omong-omong kamu mau ikut aku masuk OSIS tidak?“

“Eh.. OSIS?“

“Iya.“

Kalau aku masuk OSIS sepertinya aku akan semakin sibuk. Aku lihat OSIS selalu banyak kegiatan.

“OSIS biasanya sering banyak kegiatan.“

“Ya, OSIS memang sering seperti itu. Apalagi mereka banyak rapat. Akan tetapi itu menyenangkan“

“Kenapa kamu terdengar seperti anggota OSIS?“

“Aku dulu memang anggota OSIS. Terlebih aku pernah menjadi ketua OSIS”

“Apa? Apa itu tidak melelahkan?“

“Melelahkan? Pasti iya. Akan tetapi aku merasa senang juga. Aku merasa semua lelahku akan terbayar setelah acara yang kami persiapkan berjalan dengan lancar. Bagaimana, kamu tertararik ikut?”

“Entahlah”

“Kamu bisa ikut dulu, tidak perlu jadi anggota”

“Bagaimana nanti saja”

“Ya sudah. Kita pergi ke ruangan ekskul basket saja. Sepertinya para anggota sudah berkumpul”

“Iya”

Setelah itu aku dan Arya pergi ke ruangan ekskul basket.

Hari-hari sekolah kami berjalan dengan lancar. Saat aku masuk ekskul basket pun banyak yang menyambut kami dengan ramah. Perlahan-lahan aku pun mulai bisa berbaur dengan orang lain.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan pemaluku sedikit berkurang. Itu berkat Arya. Arya selalu mengajakku kemana pun ia pergi.

Dulu orang-orang yang kenal Arya, sekarang mengenalku juga. Mereka mulai mengajakku berbicara lebih awal.

Tidak hanya itu aku juga ikut OSIS. Ternyata ikut OSIS tidak seburuk yang aku kira. Aku bisa mengenal murid lain dari berbagai kalangan.

Saat ini aku sedang ada di pinggiran lapangan basket. Langit sore cukup cerah. Cocok untuk bermain basket di luar.

Aku sedang beristirahat. Tadi aku berlatih bermain basket. Aku sudah mulai mahir, walaupun aku belum semahir Arya.

Arya sudah masuk tim basket sekolah. Ia pun segera menjadi pemain utama berkat usaha dan bakatnya. Apalagi dengan tubuhnya yang tinggi, sangat cocok untuk bermain basket. Berbeda dengan diriku yang tingginya hanya rata-rata saja.

Arya sangat fokus bermain basket sejak tadi. Ia bermain tanpa henti. Itu karena sebentar lagi akan ada kompetisi basket antar sekolah.

Sekarang Arya berhenti. Keringat banyak bercucuran dari atas kepalanya turun ke wajahnya. Entah kenapa itu membuatnya terlihat jauh lebih tampan.

Ehem.

Aku meneguk air di dalam botol minuman yang sedang aku pegang. Saat aku kembali menatap ke depan. Arya berjalan mendekat ke arahku.

“Aku mau minum” pinta Arya

“Sebentar, aku cari botol yang belum di buka”

Aku kelabakan mencari air minum yang masih baru. Namun tidak ada. Sepertinya aku harus membeli yang baru untuknya. Aku pun berdiri dari tempat dudukku.

“Kamu mau kemana?“ tanya Arya saat aku hendak pergi.

“Pergi beli minum buat kamu. Tidak ada lagi botol minuman yang baru”

“Jangan beli. Ini aja” kata Arya sambil mengambil botol minuman yang tadi aku buka dan minum. Air di dalam botol minuman tersebut tinggal sisa setengah lagi.

“Ehh.. jangan. Itu sudah aku minum tadi” kataku mencoba menghentikan Arya yang akan meminum air tersebut.

Namun Arya malah meneguk minuman itu sampai habis dengan sekali tegukkan. Setelah ia selesai minum sepertinya lebih segar.

“Tidak masalah walaupun itu bekas kamu minum.“

Akibat perkataan yang barusan diucapkannya jantungku mendadak berdegup dengan kencang. Tanpa sadar aku memikirkan kita berbagi ciuman tidak langsung dari botor air tersebut.

Sekarang pipiku mulai terasa memanas. Untung saja hari telah sore. Setidaknya aku tidak akan ketahuan kalau pipiku memerah karena disinari cahaya jingga matahari sore.

“Nanti kita pulang bersama lagi” kata Arya.

“Apa kamu tidak keberatan? Aku tidak enak kalau kamu sering mengantarku pulang”

“Aku tidak merasa keberatan. Tunggu aku sampai selesai latihan. Baru nanti kita pulang”

“Baik” kataku sambik mengangguk.

Setelah itu Arya kembali menuju tengah lapangan. Ia mengambil bola basket yang ada di lapangan dan mulai berlatih bermain basket bersama para pemain lain.

Arya memang selalu membawaku pulang bersamanya. Itu karena arah rumahku sama seperti arah menuju rumanya. Hanya saja rumahnya Arya lebih jauh lagi melewati area rumahku.

Setiap pulang Arya selalu memesan taksi online. Aku pikir ia akan di jemput mobil keluarganya. Walaupun begitu, aku tidak mendengar lagi orang lain mengatakan Arya diantar mobil mewah ke sekolah.

Apa mungkin itu hanya rumor saja?

Entahlah. Aku hanya peduli kami bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi.


To Be Continued

Tinggalkan jejak☆

[BL] Catch Me If You CanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang