'Apa aku sudah kehilangan akal!'
Aku mengumpat di dalam hati.
Tadi aku bangun dan menemukan diriku tidur berbaring di samping Arya. Aku terkejut dan dengan perlahan menjauhkan tubuhku perlahan dari pelukan Arya.
Aku kemudian mengingat kejadian semalam.
Bagaimana bisa aku berbuat seperti itu? Aku rasanya benar-benar malu dan ingin hilang dari dunia ini.
Aku kaget dengan sikapku sendiri yang semalam dengan beraninya menggoda Arya secara langsung. Selain itu aku juga mengatakan hal-hal aneh lainnya.
Rasanya ingin sekali aku berteriak.
Namun kalau aku berteriak, pastinya Arya akan bangun. Dan itu akan membuatku semakin canggung.
Aku berdiri, "Aw!" Tidak sengaja erangan sakit yang berasal dari pinggangku keluar dari mulutku. Itu akibat apa yang kami lakukan semalam. Kami melakukannya beberapa kali.
Pipiku terasa menghangat.
Segera aku memungut pakaianku tergeletak di atas lantai hotel yang semalam aku pakai. Setelah itu aku memakainya. Kemudian mengambil ponselku yang ada di meja.
"Dimas kamu mau kemana?" Aku terkejut dengan suara Arya saat hendak akan berjalan keluar.
Aku membalikkan tubuhku dengan perlahan. Arya baru saja bangun. Ia mengucek matanya, lalu menyisir rambutnya yang terlihat berantakan. Namun itu membuat kesannya semakin tampan.
"Ehem" aku berdahak mencoba mengalihkan pikiranku.
"Saya mau pulang." Kataku.
"Apa kamu ingat apa yang semalam terjadi?"
"Ehh… S-saya ingat Pak Arya." Kataku sambil menggaruk tengkuk. Aku merasa malu saat Arya kembali mengingatkan itu.
"Jangan menghindariku. Semalam kamu sudah berjanji tidak akan menyesal dan menghindariku."
'Kenapa aku berjanji seperti itu!'
"Iya, Pak Arya."
"Kalau begitu, duduklah dulu disini. Aku akan mandi terlebih dahulu. Kita makan bersama." Kata Arya
"Tidak perlu, Pak Arya. Saya bisa makan di rumah." Tolakku
"Jangan menolak."
"Baik, Pak Arya."
Saat Arya berjalan menuju kamar mandi Arya tiba-tiba menoleh dan berkata, "Jangan berpikir untuk kabur." Aku yang mendengar itu mengangguk dengan canggung. Ia benar menebakku.
Setelah itu Arya masuk ke dalam kamar mandi. Jantungku yang sedari berdegup dengan kencang perlahan mulai berangsur normal.
Semalam aku bisa berkata dan berperilaku seperti itu sepertinya akibat feromon milik Arya. Aku belum pernah seperti itu. Ini pertama kalinya bahiku. Feromon milik Arya membuatku mabuk, layaknya aku minum alkohol. Hanya saja, efek feromon Arya jauh lebih memabukan saja.
Selain itu aku ingat semalam aku pingsan saat berada di tangga darurat saat tengah berciuman dengan Arya. Sepertinya Arya dengan sengaja membuatku pingsan menggunakan obat suntik heat suppressant.
Obat tersebut ternyata cukup ampuh untuk membuat heat-ku berhenti dengan cepat hingga membuatku tidak sadarkan diri. Namun ternyata heat hanya berhenti untuk sesaat. Saat aku bangun dan memeluk Arya heat-ku kembali muncul.
Hingga akhirnya heatku berhenti setelah puas beraktifitas dengan Arya.
Biasanya kalau aku menjalani siklus heatku, aku akan merasa kesakitan. Aku akan mengalami siklus tersebut selama kurang lebih 2-3 hari berturut-turut. Namun kemarin itu tidak sesakit sebelumnya. Dan pagi ini pun tubuhku jauh lebih tenang dan bugar.
Kecuali pinggangku. Ehem.
Aku tidak menyangka Arya tidak berbuat hal yang memaksaku. Ia tidak dengan sengaja memanfaatkan siklus heat-ku. Ia malah menunggu aku menyetujui apa yang akan ia lakukan.
Setelah apa yang kami lakukan semalam. Pastinya Arya tahu adalah omega bukan?
Bagaimana ini.
"Dimas"
"Astaga!" Aku terkejut dengan suara Arya. Ia berdiri tepat berada di depanku menggunakan bathrobe. Rambutnya basah akibat air dan wajahnya sekarang terlihat lebih segar. Akibat aku tenggelam dalam pikiranku, aku tidak menyadari Arya telah selesai mandi.
Aku menatap Arya dengan lekat. Kemudian kalimat meluncur keluar tanpa aku sadari. "Apa kamu akan membuliku."
"..."
Ada hening untuk beberapa saat hingga aku akhirnya menyadari apa yang telah aku katakan. Bodoh!
"Lupakan itu, saya salah bicara." Kataku
Sekarang Arya perlahan mendekat ke arahku. Kemudian saat jarak diantara kami semakin menipis ia memegang pipiku. Telapak tangannya terasa dingin di pipiku yang hangat.
Kemudian mata kami bertemu.
Aku menelan lidahku.
"Kamu mandi dulu. Nanti kita bicara."
Sekitar 30 menit kemudian setelah aku mandi dan mengganti pakaian yang Arya bawakan untukku, kamu pergi menuju lantai bawah dimana restoran hotel berada.
"Maaf untuk semalam, saya tidak bisa menyelesaikannya dengan baik." Kataku membuka pembicaraan saat tengah berada di dalam lift.
"Tidak perlu memikirkan itu. Itu bukan salahmu." Jawab Arya
"Tapi… tetap saja. Itu adalah tugas saya pestanya harus berjalan dengan baik sampai selesai."
"Tanang saja. Saat pesta tidak ada hal buruk terjadi. Kalau pun ada, masih ada petugas hotel disana."
Ding
Terdengar suara pintu lift terbuka. Segera kami berdua berjalan keluar dan masuk ke dalam restoran hotel.
Setelah memesan makanan, kami pun duduk di kursi kosong.
"Dimas."
"Iya, Pak Arya."
"Bisa kamu panggil saya Arya saja tidak? Kita sedang tidak bekerja."
"Tapi, Pak.."
"Ayolah…"
"Baik, Arya"
Arya yang tersenyum bahagia mendengar itu. Aku yang melihat itu pun membuat jantungku berdegup dengan kencang.
"Dimas, soal pertanyaanmu tadi aku akan menjawabnya. Aku tidak akan membuli kamu. Mana mungkin aku membully kamu setelah aku bilang mencintaimu"
"..."
"Aku tahu kamu adalah Omega."
"Kalau kamu sudah tahu aku adalah omega, lalu pasti kamu akan membenciku. Aku tahu, saat kita dulu bersekolah aku pernah dengar kamu membenci Omega."
"Itu memang benar kalau aku benci Omega. Tapi, aku tidak membencimu. Entah kamu, Beta ataupun Omega. Aku tidak peduli itu. Aku hanya mencintaimu saja."
"Aku tidak percaya itu."
Arya terlihat menghela napas lalu saat akan berbicara terdengar suara lain yang datang, "Mohon maaf mengganggu, saya bawakan pesanan tadi." Kata seorang pelayan perempuan.
.
.
.
.
.
Double update😁
.
.
.
.
.
To Be Continued

KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Catch Me If You Can
Romance[ End ] Aku, Dimas Herdian, saat di akhir makan malam bersama Arya Baskoro aku mengatakan kepadanya agar kami tidak perlu bertemu lagi. Aku tidak ingin berurusan dengan orang yang membully-ku sewaktu SMA dulu. Namun sehari kemudian aku malah kembal...