Part 45

5.2K 388 0
                                    

Saat aku bangun dari tidurku aku sedang berada dalam pelukan Arya. Saat aku melirik ke samping cahaya matahari dari luar berwarna jingga. Aku tidak tahu kapan kami tidur setelah malam yang panjang.

Aku menghirup udara di ruangan kamar ini dan merasa tenang. Feromon yang dihasilkan dari rut Arya telah menghilang dan hanya tersisa feromonnya yang membuatku nyaman.

Aku pun memeluk Arya dengan erat.

Setelah itu aku melihat wajah Arya yang ada di atasku. Matanya yang tajam sekarang tertutup dengan rapat. Hidungnya yang gagah tengah bernafas dengan perlahan serta bibirnya yang kemarin 'sibuk' beraktivitas.

Arya sangat tampan!

"Mau sampai kapan kamu melihatku dengan intens seperti itu?"

Aku tersentak saat mendengar pertanyaan dari Arya yang baru saja membukakan matanya.

"Sejak kapan kamu bangun?" Tanyaku sedikit gelagapan karena ketahuan menatapnya begitu lama.

"Sejak kamu memelukku dengan erat.." Jawab Arya sembari tersenyum.

"Kenapa kamu tidak bicara?" Tanyaku lagi.

"Aku masih nyaman dipeluk olehmu." Jawab Arya.

"Omong-omong sepertinya hari sudah sore, apa kamu mau makan? Mau aku pesankan makanan hotel?" Tanya Arya.

"Nanti saja. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja setelah rut semalam?" Tanyaku memastikan.

"Aku baik-baik saja. Aku sudah merasa tenang sekarang. Semalam Aku tidak tahu kalau aku akan memasuki siklus rut secara tiba-tiba." Aku menghela nafas lega mendengar jawaban Arya lalu segera menanggapinya, "Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Aku khawatir kamu akan mengalami rut yang cukup lama."

"Biasanya aku memang selalu mengalami rut cukup lama, terlebih sebelum berkencan denganmu, aku tidak pernah berkencan dengan orang lain. Jadi ini kali pertama aku menghabiskan siklus rut-ku bersama seseorang."

Aku tidak menyangka dengan jawaban Arya.

"Pasti itu sangat menyakitkan." Kataku karena kalau aku sedang heat pun aku hanya mencoba menenangkannya dengan obat. Dan walaupun obat akhirnya bekerja dengan baik, aku tetap merasa kesakitan.

"Iya, itu sangat menyakitkan. Oleh karena itu aku sangat berterima kasih kamu berada di sisiku semalam. Walaupun begitu aku juga minta maaf karena kamu harus membantuku."

"Kenapa kamu minta maaf?" Tanyaku kesal. "Aku senang membuatmu lebih mudah, terlebih semalam bukankah hal buruk." Kataku menambahkan.

"Terima kasih karena kamu selalu ada" kata Arya kemudian, "Cupp", ia mengecup keningku begitu lembut kemudian membelai pipiku dengan lembut. Aku merasa nyaman dengan perlakuannya.

"Dulu, ketika aku kecil, ibu adalah segalanya bagiku. Ia adalah ibu yang sangat baik kepadaku. Waktu itu kami tinggal di rumah yang cukup bagus. Setiap seminggu sekali ayahku selalu datang ke rumah kami.

Pernah sekali aku bertanya kepada ibuku kenapa kami tidak tinggal bersama ayah dan kenapa ayah tidak pulang ke rumah setiap hari. Padahal ibu dan ayah sangat saling mencintai. Dan setiap kali ayah akan pergi ibu selalu meneteskan air matanya. Namun mendengar pertanyaan itu ibu hanya diam tidak menjawab.

Namun saat di umurku yang sudah menginjak usia 12 tahun, perlahan aku mulai menyadari keadaan kami. Ayah sebenarnya memang ingin tinggal bersama kami, tapi ia tidak bisa.

Itu dikarenakan kakek tidak menyetujuinya. Kakek adalah orang yang keras kepala. Ia melarang Ayah dan Ibu untuk menikah karena ibu bukanlah berasal dari kalangan orang berada. Ibu hanyalah seorang gadis yang bisa lulus kuliah dari universitas bergengsi berkat beasiswa yang didapatkan dan berasal dari keluarga biasa saja. Kemudian ia bertemu dengan Ayah saat mereka magang menjadi intern di perusahaan milik kakek.

Saat di perusahaan ibu bisa beradaptasi lebih cepat dibandingkan dengan Ayah. Setahun kemudian ibu diangkat menjadi atasan Ayah berkat kerja kerasnya. 

Setelah itu mereka menjalin hubungan saat keduanya menemukan kalau mereka saling mencintai satu sama lain. Saat mereka siap untuk menjalin pernikahan, kakek tidak menyetujuinya. 

Awal aku memasuki sekolah menengah pertama, ibu mulai dekat dengan seseorang. Itu karena terkadang pria tersebut selalu membawakan buah serta makanan snack untukku setiap seminggu sekali. 

Setelah beberapa bulan dekat akhirnya ibu memutuskan untuk pergi bersama pria tersebut. Namun, aku melarangnya karena aku ingin ibu dan ayah tetap bersama. Tetapi ibu tidak mendengar permintaanku dan tetap teguh dengan keputusannya.

Waktu itu aku merasa setengah bagian dariku juga ikut hilang bersama dengan ibuku. Aku dilanda kesepian untuk waktu yang cukup karena ibu tidak ada. 

Aku pun mulai menyalahkan ibu atas keputusannya tersebut dan berjanji tidak akan pernah memaafkannya serta memutuskan hubungan dengannya. Sewaktu ia datang ke rumah pun, aku menolak bertemu dengannya dan tidak membiarkannya untuk masuk ke rumah.

Namun seiring berjalannya waktu, terkadang aku menyesali pilihanku. Selain itu aku juga sedikit menerima keputusan ibu untuk pergi bersama pria itu.

Mungkin itu memang pilihan terbaiknya bisa hidup bersama atau tinggal serumah dengan pria yang ia cintai. Daripada harus menunggu dan hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa pada harapan yang setipis tali benang."

Arya baru saja menceritakan masa lalunya yang berkaitan dengan ibunya. Awal masalah diantara mereka.

"Sekarang ia bahagia dengan keluarga kecilnya, tanpa… a-aku…" kata Arya, suaranya terdengar bergetar. 

Aku mengusap pucuk kepalanya mencoba menenangkannya, "Tidak, Arya, aku pikir ibumu tidak sepenuhnya bahagia. Ia tidak memilikimu di sampingnya. Namun pasti ibumu akan terus berdoa untuk kebahagianmu."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Catch Me If You CanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang