Kakek Arya beserta sekretaris yang mendampinginya pergi dari apartemen milik Arya. Arya menghela napas lega kemudian duduk di sofa sambil memijat dahinya. Aku ikut duduk di samping Arya sambil memegang punggungnya.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanyaku.
Arya tiba-tiba memelukku dengan erat, aku membalas pelukannya dengan erat dan Arya menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Baru saja aku menikmati kebersamaan kita. Kenapa kakek tua bangka tersebut harus datang mengganggu." Arya merutuk kesal.
"Mengapa kakekmu begitu ingin membuatmu datang ke rumahnya?" Tanyaku.
"Aku tidak tahu kenapa ia tiba-tiba mengancamku seperti itu. Karena memang semenjak aku menyanggupi belajar di luar negeri sesuai keputusannya, ia berjanji tidak akan menggangguku dan akan membiarkan apapun yang aku inginkan."
"Jadi, kamu pergi ke luar negeri karena keinginan kakekmu?" Tanyaku sedikit terkejut mendengar hal tersebut.
"Iya benar. Itu adalah keinginannya." Jawab Arya.
"Mungkin ia memintamu datang ke rumahnya karena sudah rindu denganmu?" Aku menerka-nerka alasan kakek Arya.
"Rindu? Aku tidak akan percaya kalau dia merasakan hal tersebut. Kamu lihat tadi sangat arogan. Wataknya akan sangat sulit untuk berubah."
"Sepertinya memang begitu. Bagaimana kalau kita istirahat saja dahulu. Kita baru datang setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Tubuh kita butuh untuk rehat. Biar itu kita pikirkan nanti."
"Aku ingin tidur bersamamu."
"Ehh.. disini ada nenek. Aku malu."
"Baiklah untuk kali tidak masalah."
***
Setelah dua minggu memikirkan keputusan yang akan ia ambil, Arya berpikir untuk datang terlebih dahulu ke rumah kakeknya. Aku pun menawarkan diri untuk ikut bersamanya. Arya menyetujui hal tersebut.
Butuh waktu sekitar 2 jam menuju rumah milik kakek Arya yang terletak di pesisir pantai. Kawasan perumahan ini dikenal sebagai kawasan elit dari yang elit.
Di perumahan ini, setiap rumah yang ada bak istana raja yang mewah. Dari luarnya saja sudah terlihat luas dan besar apalagi bagian dalamnya.
Begitu kami tiba di rumah milik kakek Arya pun, kami segera di sambut halaman yang begitu luas. Di samping kiri dan kanan ada taman bunga yang sedang bermekaran serta di tengah-tengah taman terdapat sebuah air mancur.
Kami berdua turun dari mobil ketika mobil berhenti tepat di depan pintu. Saat pintu terbuka menampilkan seorang pelayan yang terlihat cukup tua.
Untuk beberapa alasan, aku seperti mengenali pelayan tersebut. Namun entah kapan aku bertemu dengannya.
"Selamat datang tuan muda, tuan sedang menunggu anda di ruang kerjanya."
"Dimengerti."
Saat kami masuk ke dalam rumah, rumahnya begitu besar seperti terlihat dari luar. Arsitek yang ada di dalamnya cenderung bernuansa klasik. Dari pintu depan menuju ruang tengah saja jaraknya sudah sangat luas apalagi kalau semakin melihat seisi rumah.
Tukk tuukk
Arya mengetuk pintu di depan kami.
"Masuklah." Terdengar suara dari dalam.
Setelah kami masuk ruangan kerja milik kakek Arya, ia mempersilahkan kami untuk duduk.
"Hanya sekedar datang ke rumahku, apa butuh waktu yang lama untukmu memikirkannya?" Tanya kakek Arya dengan sinis.
"Aku tahu kamu ada maksud lain. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Aku sudah memenuhi janjimu untuk bersekolah diluar negeri dan kamu tidak akan mengangguku lagi." Arya bertanya dengan nada tajam
Kakek Arya dengan arogan menjawab, "Itu memang benar aku berjanji tidak akan mengganggumu, tapi maksudku adalah aku tidak akan mengganggu apapun yang kamu lakukan. Kamu itu sama keras kepalanya dengan ayahmu, jadi aku pikir untuk urusan pribadi bukanlah urusanku. Selain itu, aku tahu kamu tidak akan pernah menyetujui perjodohan."
Arya mendengus mendengar hal tersebut lalu membalasnya, "Kakek bicara seperti orang yang tidak bersalah saja. Kakek masih ingat dengan ibuku? Kakek masih ingat juga apa yang terjadi pada kami kan?"
Dengan acuh tidak acuh ia menjawab, "Aku memang ingat dia, dia akhirnya menyerah dan dengan sendirinya pergi dari kehidupan ayahmu. Seharusnya sedari awal ia sadar. Dasar wanita jalang--"
Trang
Suara nyaring tersebut berasal dari gelas yang di lempar Arya ke lantai. Arya berdiri dari tempat duduknya dengan emosi membara.
"Kakek tidak berhak untuk merendahkan ibuku. Kakek sangat tidak pantas berkata seperti itu. Kakek adalah penyebab semuanya dan kakek adalah orang yang pantas disalahkan!"
"Duduk!" Perintah kakek Arya dengan tegas.
Aku berusaha menenangkan Arya dan Arya pun kembali duduk di tempat semula.
"Jika, kita bicara lebih lama, sepertinya itu akan semakin memburuk. Aku memintamu kesini memang dengan sebuah tujuan. Aku ingin kamu menjadi penerus perusahaan."
"Apa? Penerus perusahaanmu? Apa kamu sudah kehilangan akal? Aku adalah anak dari wanita yang kamu rendahkan dan kamu memintanya untuk menjadi penerusmu? Lelucon macam apa ini?" Arya begitu keheranan dengan maksud kakeknya. Begitu juga denganku.
"Itu bukanlah sebuah lelucon."
Arya terdiam sebentar lalu berkata, "Kenapa kamu ingin aku meneruskannya? Aku tahu kamu memiliki 3 orang anak dan mereka juga sudah memiliki anak. Lalu kenapa harus aku?"
"Tidak ada alasan, yang pasti kamu harus menjadi penerusku. Bukankah itu ide yang bagus menjadi seorang direktur dari perusahaan besar? PS Entertainment bukanlah apa-apa." Di akhir kalimat Kakek merendahkan perusahaan milik Ayahnya.
"Aku tidak sudi menjadi penerusmu. Entah itu perusahaan besar atau kecil. Aku tidak mau."
"Ini bukanlah sesuatu hal yang bisa kamu tolak. Jika, kamu menolaknya, kamu akan tahu akan akibatnya." Kalimat yang keluar dari kakek terdengar seperti sebuah ancaman.
"Jangan mengancamku kakek tua!"
Kakek tersebut melihat ke arahku dan segera Arya berkata dengan tegas, "Jangan pernah menyakiti kekasihku."
"Itu tergantung dengan keputusanmu. Jika kamu menyetujuinya aku tidak akan menghalangi kisah cintamu. Selain itu aku tidak akan mengganggu PS Entertainment. Terserah kamu ingin menikahinya atau tidak. Aku hanya ingin kamu menjadi penerusku. Kali ini pikirkanlah keputusanmu dengan matang. Dan ingat satu hal, aku tidak suka untuk menunggu lama"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Catch Me If You Can
Romance[ End ] Aku, Dimas Herdian, saat di akhir makan malam bersama Arya Baskoro aku mengatakan kepadanya agar kami tidak perlu bertemu lagi. Aku tidak ingin berurusan dengan orang yang membully-ku sewaktu SMA dulu. Namun sehari kemudian aku malah kembal...