Part 54

3.5K 260 3
                                    

"Huekk… huekk…"

Aku muntah dan mengeluarkan bubur yang tadi aku makan. Perutku terasa tidak enak. Rasanya bagian dalam perutku sedang terkoyak dan aku ingin memuntahkannya. 

"Hueekk… huekkk…"

Aku kembali memuntahkan bubur tadi pagi ke dalam kloset toilet. Sekarang kepalaku mulai merasa pusing. Lalu badanku terasa kelelahan juga.

"Dimas, kamu lagi sakit?"

Arya baru saja masuk ke dalam kamar mandi dan segera berjongkok di sampingku. 

"Sepertinya begitu, badanku terasa lelah dan kepalaku sangat pusing." 

Aku menjawab dengan pelan kemudian kembali muntah.

Arya dengan lembut membelai punggungku setelah itu tangannya naik ke atas menuju tengkukku. Ia menekan bagian tersebut membantuku untuk muntah dengan lancar.

Setelah beberapa saat perutku sudah merasa jauh lebih baik dengan muntah.

Arya mengambil tisu basah lalu mengelap bibirku dengan tisu basah yang dipegangnya. Setelah itu Arya memegang dahiku dan berkata, "Kamu harus istirahat di kamar." Dengan pelan aku mengangguk.

Arya dengan perlahan mengangkat tubuhku seperti seorang pengantin lalu membawaku masuk ke dalam kamar di lantai bawah yang aku tempati dan nenek.

"Dimas, kamu kenapa?"

Nenek bertanya dengan nada khawatir saat melihat aku dibawa ke dalam kamar oleh Arya dan dengan perlahan menaruhku di atas ranjang.

"Aku hanya merasa kelelahan, Nek." 

Aku menjawab dengan pelan karena merasa tenagaku sudah tidak banyak lagi.

"Mau aku buatkan teh hangat serta ambilkan obat?"

Aku mengangguk menjawab pertanyaan Arya. Arya segera keluar dari kamar. Nenek kemudian duduk di samping ranjang.

Nenek mengusap wajahku dengan lembut. Lalu membetulkan selimut dengan menarik ke atas untuk menutupi tubuhku. 

Tidak lama Arya kembali membawa teh hangat serta obat. Kemudian dibantu oleh Arya aku makan obat serta diakhiri dengan minum teh hangat yang dibawanya.

"Arya, kamu pergi saja. Kamu tidak perlu ada di sini." Kataku dengan pelan.

"Kamu sedang sakit. Aku tidak tega meninggalkanmu."

"Aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu tidur dengan cukup. Selain itu ada nenek di sini yang bisa menjagaku."

"Tapi…"

"Pergilah dan temui Ayahmu. Ia pasti sangat membutuhkanmu."

"Baiklah, aku pergi." Kemudian Arya mengusap pipiku lalu berkata kepada nenek, "Nenek aku pamit dulu. Tolong jaga Dimas."

Nenek hanya mengangguk menjawab permintaan Arya.

Saat aku bangun dari tidurku aku merasakan tubuhku sudah jauh lebih baik. Saat aku melirik ke samping, nenek tengah berbaring tidur dengan nyenyak sekali. 

Aku mengambil ponselku yang berada di atas nakas. Saat layar ponsel hidup, di sana menampilkan jam 21.12

Krukk

Perutku berbunyi. 

Terakhir aku makan itu saat pagi dan itu semua dikeluarkan saat aku muntah. Setelah itu aku tertidur dan tidak makan apapun. Jadi pantas saja aku merasa sangat lapar.

Aku merasa ingin memakan soto ayam.

Aku rasa soto ayam yang hangat akan sangat nikmat aku makan. Kuah soto yang berpadu dengan air jeruk nipis, pedas sambal beserta dengan isinya bihun dan daging ayam suwir. Itu sangat menggiurkan.

Aku ingat bahwa di sekitar komplek apartemen Arya ada sebuah penjual soto ayam yang selalu ramai pelanggan. Aku ingin makan soto itu sekarang. 

Aku ingin memberitahu nenek, namun melihatnya tertidur dengan nyenyak membuatku enggan melakukannya. 

Saat aku keluar dari kamar pun aku merasa Arya belum pulang. Jadi aku memutuskan untuk keluar dari apartemen dan turun ke bawah. Itu tidak akan memakan waktu lama. 

Saat aku tiba di dalam ruko tersebut, ternyata dugaanku cukup benar. Ruko tersebut ramai oleh pelanggan yang datang untuk makan di tempat.

"Hai, Dimas."

Aku mencari sumber suara yang memanggilku. Dan menemukan seorang pria tengah duduk di bagian pojok ruko. 

Aku tersenyum lalu melambaikan tangan dan menjawab, "Halo Hadi."

Aku mendekat ke arahnya yang tengah duduk sendirian lalu duduk di seberangnya.

"Kamu sendirian saja?" Tanyaku

"Iya. Sama seperti kamu." Jawab Hadi

"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Emm… sepertinya ini pertemuan ketiga kita."

"Iya, benar. Ini terlihat seperti takdir. Bukankah begitu?"

"Haha… aku pikir ini hanya kebetulan saja. Omong-omong kamu sudah pesan sotonya?"

"Aku sudah memesannya. Sekarang sedang menunggu pesanannya diantarkan."

"Kalau begitu aku pesan dahulu."

Setelah selesai makan kami keluar bersama dari ruko tersebut.

"Tadi sotonya sangat enak."

"Iya, aku sangat suka dengan kuahnya. Terlebih saat ditambahkan koya, itu semakin nikmat."

"Aku setuju. Soto dengan koya dua perpaduan yang saling melengkapi."

"Hahah.. benar. Ehem."

"Kamu kenapa?"

"Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering. Padahal tadi aku sudah minum banyak."

"Itu karena kamu makan soto yang pedas."

"Kamu benar."

"Aku ada air mineral. Kamu mau?" Tanya Hadi sambil menyodorkan botol air mineral seukuran genggaman taman. 

"Ini masih di segel. Kamu tidak perlu takut." Tambahnya.

Aku melihat tutup botolnya dan memang benar. Aku pun mengambil air tersebut dan berterima kasih kepadanya. 

Saat aku akan membuka botol yang sekarang aku pegang segera ada suara yang menginterupsi, "Dimas, jangan minum airnya!"

Aku kaget melihat Arya yang berlari mendekat ke arahku dan dengan cepat kedua tanganku dipegang oleh Hadi dari belakang. Lalu satu tangannya mendarat di bibirku dengan sebuah sapu tangan. Dengan cepat kesadaranku menghilang.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Catch Me If You CanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang