“Selamat datang Pak CEO”
Sambut para artis naungan agensi PS Entertainment saat Arya dan aku masuk ke dalam ruangan para artis. Tadi dari luar mereka terlihat sedang bersantai dan saat menyadari kami masuk mereka buru-buru berdiri.
“Terima kasih atas sambutannya. Sepertinya kalian sudah mendengar kabarnya.“
Para Artis mengangguk. Tentu saja mereka pasti akan mengetahuinya dari para karyawan lain atau manajer terlebih dahulu.
“Iya, Pak Arya. Kami dengar dari manajer kami masing-masing.“ jawab salah satu Artis. Ia adalah Mawar, aktris yang baru saja selesai berakting di salah satu film. Filmnya akan rilis 1 bulan lagi.
“Maaf saya baru bisa menyapa kalian saat ini. Kemarin saya lumayan sibuk” kata Arya
“Kita memang sama-sama sibuk, Pak Arya” aku dan yang lainnya tersenyum mendengar perkataan, Randi, aktor remaja di ruangan ini. Ia memang terlihat jenaka orangnya.
“Kamu benar. Lalu bagaimana jadwal kalian malam ini? Kalian sibuk?“ tanya Arya
“Sibuk, Pak Arya”
“Engga, Pak Arya”
Jawaban silih berganti terdengar.
“Kalau kalian sedang tidak sibuk, mari kita makan malam di restoran. Saya ingin lebih dekat dengan para aktris, aktor di bawah naungan saya.“
“Terdengar sangat menarik. Restorannya di mana, Pak Arya?. “ tanya Mawar.
Arya melihat ke arahku kemudian ia kembali menatap ke depan dan berkata. “Nanti Sekretaris Di akan memberitahu manajer kalian masing-masing di mana restorannya dan jam berapa waktunya.“
Sekarang semua orang menatap ke arahku. Aku memberikan mereka senyuman.
“Sekretaris Di, sangat imut dan tampan!“ pekik Mawar.
Aku sedikit tersanjung dengan pujian Mawar.
“Iya benar, pasti dia seorang omega. Sekretaris Di, omega bukan?“ tanya orang di samping Mawar.
'iya benar' kataku dalam hati tapi aku tidak akan memberitahu mereka.
“Sayang sekali saya bukan. Saya Beta” kataku.
“Sangat disayangkan bukan Omega dengan wajah semanis itu. Tapi walaupun Beta itu tidak masalah.“ kata Mawar.
“Ehem.. Kita sedang berada di jam kerja. Tidak seharusnya berbicara terlalu personal.“ kata Arya dengan dingin. Kenapa moodnya tiba-tiba berubah?
“Kami pergi” kata Arya tiba-tiba meninggalkan ruangan ini. Aku segera berpamitan kepada para artis di depanku dan segera menyusul Arya di belakangnya.
Hingga kami kembali naik ke lantai atas tempat kami bekerja, Arya tidak mengucap sepatah kata apapun.
***
“Kalau saya panggil kamu Mas Dimas gapapa, kan?“ tanya Mawar yang ada di sampingku. Ia menatapku dengan lekat sambil tersenyum. Matanya berbinar menunggu jawabanku.
Situasi ini bermula ketika saat aku tiba di restoran jam 7 malam. Ternyata Mawar bersama manajernya telah datang lebih awal.
Arya dan Aku pun duduk di kursi makan. Satu meja dengan Mawar. Aku lebih memilih duduk di samping Mawar di bandingkan dengan Arya.
Setelah itu Mawar selalu berbicara kepadaku. Hingga semua orang pun datang ke restoran. Dan tiba-tiba ia memintaku menyetujuinya memanggil Mas.
Sebenarnya itu tidak masalah. Akan tetapi aku hanya merasa tidak terbiasa. Ini pertama kalinya ada yang mau memanggilku seperti itu.
“Saya tidak apa-apa, tapi…” kataku
“Kita sedang tidak bekerja. Jadi tidak perlu terlalu formal” kata Mawar
“Baiklah, kalau di luar perusahaan tidak masalah.“ kataku menyetujui permintaanya.
“Mas Dimas sudah punya pacar?“ Mawar tiba-tiba bertanya seperti itu.
Mawar sepertinya menyadari tatapan Arya kepadanya. Ia kemudian melihat Arya.
“Pak Arya, kita sedang tidak di perusahaan. Jadi tidak masalah bertanya atau berbicara tentang hal personal.“ katanya. Tanpa menunggu tanggapan Arya ia kembali menatap ke arahku. Ia menunggu jawaban. Aku melihat Arya agak terlihat kesal dengan perkataan Mawar.
“Belum” kataku singkat
“Ehh.. Belum? Mana mungkin? Dengan wajah semanis ini mana mungkin tidak punya pacar. Pasti banyak perempuan yang mendekati.“
“Tidak. Belum pernah ada yang mendekati saya.“
Sebenarnya waktu dulu aku kuliah. Beberapa perempuan dan laki-laki pernah mencoba mendekatiku. Namun aku menolak mereka.
Itu karena aku takut kalau hubunganku berakhir layaknya saat Arya menghancurkanku. Aku hanya terus berteman dengan Raka saja.
“Bagaimana kalau saya jadi pacar Mas Dimas?“
Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan dari Mawar. Aku lumayan lama berpikir hingga akhirnya Mawar kembali berbicara. “Heheh. Jangan dinggap serius saya hanya bercanda.“
Aku merasa lega
“Tapi kalau dianggap serius tidak masalah. Heheh. Jangan terlalu dipikirkan.“ katanya melanjutkan. Kepribadian Mawar ini cukup aneh juga. Berbeda dengan nama dan wajahnya yang terlihat cantik.
“Sepertinya kalian sedang bersenang senang tanpaku” kata seseorang yang baru tiba. Aku menoleh ke arah sampingku. Pria ini memeluku dengan satu tangan kirinya.
Tiba-tiba dadaku sedikit menjadi sesak
“Hei, sialan. Jangan mengeluarkan feromonmu tiba-tiba!“ kesal Mawar kepada pria di sampingku ini. Ia dengan sengaja mengeluarkan feromon.
“Diam kau, sialan.“ balas pria di sampingku tanpa sedikit pun menghilangkan feromonnya.
Untung saja aku minum obat pencegah heat dengan dosis dua kali lipat saat tadi pagi.
“Hai manis. Kamu sangat wangi.“ ia berkata kepadaku sambil menghirup bagian belakang tenggukku. Segera aku menghalanginya dengan tanganku.
“Mau bermain denganku.“ katanya lagi. Namun aku mengabaikannya.
“Janggan ganggu Sekretaris Di, Ivan.“ kata Arya dengan nada tajam kepada pria di sampingku ini.
Pria di sampingku ini adalah Ivan Permana. Vokalis utama band Kstaria yang seharusnya tadi siang hadir di pertemuan.
“Ternyata ada Kepala CEO baru. Maafkan aku yang tidak menyadarinya” kata Ivan
“Kenapa kamu dan anggota bandmu tidak hadir di pertemuan hari ini?“ tanya Arya
“Kami kelupaan Pak CEO.“ jawab Ivan tidak merasa bersalah.
“Kamu lupa datang ke pertemuan tapi bisa hadir di sini” sindir Arya
Ivan terlihat menyeringai. Ia kemudian mendekatkan tubuhnya kepadaku.
“Aku ingin bertemu si manis ini” kata Ivan
“Maaf aku ijin ke toilet dulu” kataku sambil berdiri dari tempat dudukku dan pergi menuju toilet.
Saat aku di toilet aku membasuh wajahku. Setelah itu aku akan pergi keluar namun “Hei. Kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi” kata Ivan menghalangi jalan keluar dari toilet.
“Permisi, aku mau pergi” kataku sambil mencoba keluar. Namun ia mendorongku hingga jatuh tersungkur ke belakang.
“Jangan pergi dulu” kata Ivan sambil menyeringai
To Be Continued

KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Catch Me If You Can
Romance[ End ] Aku, Dimas Herdian, saat di akhir makan malam bersama Arya Baskoro aku mengatakan kepadanya agar kami tidak perlu bertemu lagi. Aku tidak ingin berurusan dengan orang yang membully-ku sewaktu SMA dulu. Namun sehari kemudian aku malah kembal...