Part 29

6.9K 547 0
                                    

"Sertifikat rumah? Nenek tidak memberikannya bukan?" Tanyaku 

Nenek hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaanku. Diam berarti jawabannya adalah 'ya'.

"Kenapa Nenek memberikan sertifikat rumah kepada mereka? Nenek tahu, itu adalah satu-satunya yang kakek tinggalkan kepada nenek sebelum ia meninggal." Kataku dengan kesal. Mengapa Nenek begitu mudah memberikan itu kepada mereka. 

"Iya, Nenek tahu itu. Itu memang satu-satunya harta peninggalan suami nenek. Tetapi paman dan bibimu telah berjanji tidak akan meminta uang ke kita atau mengganggu kita lagi."

Itu adalah suatu kebohongan. Mana mungkin paman dan bibiku akan menepati janji tersebut. Mereka akan selalu membutuhkan uang

"Apa nenek sudah lupa? Nenek sudah memberikan banyak hal kepada mereka, dimulai dari uang simpanan hingga emas simpanan Nenek juga. Semuanya nenek serahkan kepada mereka."

Paman dan bibi memang selalu memaksa meminta uang dan emas kepada Nenek. Nenek yang terpaksa karena paman adalah anaknya akhirnya dia berikanlah uang dan emas kepada mereka

"Mereka bilang ini yang terakhir kalinya. Nenek kasihan kepada kamu yang terkena dampaknya oleh mereka. Nenek tahu mereka meminta uang dari hasil gajimu." Kata Nenek dengan nada sedih. 

"Tapi nenek seharusnya tidak memberikan rumah tersebut. Aku tahu nenek sangat mencintai kakek dan rumah tersebut." Kataku masih tidak terima Nenek memberikan rumah tersebut.

"Sekarang kamu jauh lebih berharga buat nenek. Nenek ingin mencoba membantumu juga. Maafkan Nenek karena paman dan bibimu bersikap seperti itu. Itu salah nenek karena tidak mendidik dan menegur pamanmu dengan benar." Kata Nenek menyesal. Mendengar itu membuatku terenyuh. Aku mendekat ke arah Nenek lalu memeluknya dengan erat, kemudian berkata, "Jangan salahkan nenek. Nenek itu tidak salah apapun. Merekalah yang salah." Nenek pun membalas pelukanku.

"Kamu cucu terbaik yang Nenek punya"

Setelah itu nenek pergi ke kamar dan tidur di ranjang. Pasti nenek juga merasa kelelahan setelah apa yang terjadi.

Aku benar-benar tidak terima paman dan bibi menerima rumah tersebut. Mereka tidak pantas mendapatkannya setelah apa yang mereka lakukan.

Tidak akan mengganggu dan meminta uang lagi? Itu adalah omong kosong belaka. Mereka pasti tidak akan berhenti sampai di sini.

Walaupun nenek merelakannya demi diriku agar tidak direpotkan lagi oleh paman dan bibiku. Tapi tetap saja aku merasa tidak bisa membiarkan itu begitu saja.

Maka dari itu aku mencoba menghubungi momer paman yang selalu ada di bagian yang tidak terjawab. 

Ring~

Terdengar nada dering berbunyi, namun panggilanku tidak di jawab. Aku mencobanya lagi, namun aku mendapatkan hasil yang sama hingga aku mencobanya untuk kesekian kalinya.

Sekarang pukul 7 malam saat aku melihat jam dinding yang berada di ruang tengah. Dari sini menuju rumah nenek berjarak sekitar 5 jam. Bila aku datang ke sana malam ini juga, kemungkinan itu akan sangat kemalaman. Maka dari itu aku mengubur niat untuk pergi ke sana malam ini juga.

Seminggu kemudian di pagi hari yang cerah ini aku sudah bersiap pergi. Tadi nenek kembali bertanya kemana aku akan pergi, namun aku berbohong dan berkata pergi bermain dengan temanku. Padahal aku akan pergi ke rumah nenek, kalau nenek tahu itu, ia pasti akan melarangku dan bilang ia sudah ikhlas memberikannya.

Sekitar tengah siang dimana matahari benar-benar ada di atas kepalaku akhirnya bus yang aku tumpangi berhenti di tempat yang aku tuju. Dari terminal bus ini aku hanya perlu naik angkot satu kali lagi hingga akhirnya bisa tiba di rumah nenek.

Saat sudah tiba di rumah nenek, aku menatap rumah bernuansa bangungan khas belanda tersebut cukup lama. Banyak kenangan indah bersama nenek disana. Namun banyak kenangan pahit juga disana. Aku merindukannya.

Aku berjalan ke arah pintu dan mengetuk pintu tersebut 3 ketukan.

Tuk tuk tuk

"Paman… Bibi…"

"Permisi…"

"Paman… Bibi…"

Aku memanggil nama mereka. Namun tidak ada yang menyahut dari dalam. Aku pun mencoba mengetuk pintunya kembali. 

Tidak lama aku mendengar langkah kaki yang semakin terdengar jelas seiring berjalannya mendekati pintu.

Trek.

"Anda siapa?" 

Tanya wanita yang berada dihadapanku. Wanita tersebut terlihat baru saja bangun tidur karena ia menguap sambil menggosok matanya.

"Maaf, kenapa anda tinggal disini?" Dahi wanita tersebut berkerut setelah mendengar pertanyaanku.

"Ini rumah saya. Apa yang salah dengan itu?" Tanya wanita tersebut tidak terima dan sedikit kesal.

"Maaf, maksud saya… Anda kenal Pak Hadi dan Ibu Tina?" Tanyaku

"Tidak. Saya tidak kenal mereka."

"Lalu, kenapa anda bisa beli rumah ini?"

"Saya beli lewat orang lain."

"Bagaimana bisa?" Gumamku

"Apa yang kamu katakan? Kamu mengganggu orang saja. Pergi dari sini. Sepertinya ini modus penipuan terbaru."

"T-tunggu. Saya hanya berniat baik dan tidak berniat buruk."

"Mana saya tahu. Apalagi mana ada maling teriak dia maling."

"Saya pemilik lama rumah ini."

"Cepat tinggalkan rumah ini atau mau saya suruh suami saya untuk mengusir kamu secara paksa?" Ancam wanita tersebut. Dengan berat hati aku memutuskan untuk pergi dari sini.

"Maaf telah mengganggu waktu anda. Permisi." Kataku pamit

Duk

Pintu rumah tersebut ditutup dengan keras sehingga sedikit membuatku tersentak. Setelah itu aku pergi menjauh dari sana dan memutuskan untuk pulang.

Aku mengepalkan tanganku. Ternyata paman dan bibi telah menjual rumah ini. Aku terlambat. Seharusnya aku datang lebih cepat dan mencoba menghentikan mereka menjual rumah ini.

Aku benar-benar menyesal. Kalau saja minggu lalu aku menyusul mereka segera, mungkin rumah itu tidak akan di tinggali orang lain.

Rumah tersebut sangatlah berharga. Walaupun Nenek mengatakan mengikhlaskannya, namun aku masih berat.

Saat orang tuaku masih ada dan kakek juga ada, aku sering menghabiskan waktu disana. Rumah tersebut masih memiliki kenangan berharga bersama orang tuaku.

Aku berbalik melihat rumah tersebut untuk terakhir kalinya.

"Ayah.. Ibu.. Hik…."kataku dengan lirih dan dengan perlahan kedua air mataku meluncur dari kedua mataku.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Catch Me If You CanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang