7. Kesabaran Azzam

2.3K 200 12
                                        

Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatu

Hai semuanya 😍 bagaimana kabarnya hari ini? Bismillah Bunnes mau update cerita TSC yaaa 😆 Bunnes belum bisa memberikan target karena kesibukan yang sulit untuk di atur waktunya 🙂 tapi Bunnes akan berusaha tetap
update cerita ini 😉 kawal sampai ending yuk 🥰

༓☾ SELAMAT MEMBACA ☽༓

Hujan turun membasahi jalanan kota metropolitan, dimana seorang gadis dengan rambut panjangnya di kepang dua tengah berlari di pinggir trotoar jalan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan turun membasahi jalanan kota metropolitan, dimana seorang gadis dengan rambut panjangnya di kepang dua tengah berlari di pinggir trotoar jalan. Hujan membasahi tubuhnya yang mungil, bahkan baju seragam sekolahnya sudah basah kuyup karena air hujan. Dirinya telat untuk di jemput oleh supir, yang membuatnya menerabas hujan.

"Pake hujan segala sih, nyebelin banget!"

Suara gerutuan kecil yang keluar dari mulut gadis tersebut, ia berlari ke halte untuk meneduh di tempat itu.

"Kira-kira kapan berhenti nya ya?" Lirih nya seraya memeluk tubuhnya yang sedikit mengigil.

"Kay."

Suara berat mampu membuat gadis tersebut menoleh ke arah sosok laki-laki berjaket kulit, dimana rambutnya sudah lepek karena hujan.

"Al?" Beo Ziya mengulas senyum lebarnya.

"Lo kok bisa ada di sini?" Tanya Al melepaskan jaket miliknya, lalu ia memakaikannya ke tubuh Ziya agar gadis tersebut tidak kedinginan.

Ziya menerima jaket tersebut dengan senang hati, dirinya duduk di kursi halte seraya melihat ke arah kendaraan yang melintas di hadapannya. Al yang melihat itu turut duduk dengan jarak beberapa meter dari Ziya.

"Supir gue lupa jemput, handphone gue baterai nya habis." Ungkap Ziya.

Al manggut-manggut paham, ia melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. Namun hujan tak kunjung reda.

"Azkayra, apa lo suka hujan?" Tanya Al seraya mengulurkan tangannya untuk merasakan rintikan hujan.

Ziya mengangguk kecil, dirinya sangat menyukai hujan namun tidak dengan tubuhnya. Jika dirinya terkena air hujan, mungkin setelahnya akan jatuh sakit.

"Gue suka, tapi tubuh gue nggak suka." Balas Ziya.

"Kay."

"Ada apa Al?"

"Gue mau ke luar kota setelah semesteran ini." Papar Al seraya melihat ke arah Ziya dengan tatapan mata teduh, bahkan air matanya hampir lolos.

"Ke...luar kota?" Tanya Ziya dengan air mata yang terbendung.

Al bangkit dari tempat duduknya, dirinya melepaskan gelang berwarna hitam. Gelang yang tampak sederhana, namun tersemat inisial namanya. Ia mengulurkan gelang tersebut ke arah Ziya dengan tangan dinginnya.

Takdir Sebuah Cinta Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang