Cinta segiempat? Mungkin itu kata yang tepat yang tengah melanda empat orang yang terperangkap akan cinta yang saling tidak terbalaskan. Azzam yang awalnya di jodohkan dengan Nayla, hingga keduanya menentang perjodohan tersebut karena ternyata Nayla...
Hai semuanya 😍 bagaimana kabarnya hari ini? Bismillah Bunnes mau update cerita TSC yaaa 😆😉 kawal sampai ending yuk 🥰
~SELAMAT MEMBACA~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa lo bilang? Refleks? Nggak salah? mungkin lo mau modus sama gue! Ngaku lo!" Balas Ziya masih tidak terima.
Azzam menarik nafasnya, gadis di hadapannya benar-benar menguji kesabaran nya.
"Untuk apa saya modus dengan perempuan seperti kamu? Lebih baik saya modus dengan ayam."
Setelah mengatakan itu, Azzam meninggalkan Ziya sendirian di bawah pohon jambu. Sedangkan Ziya meremat tangannya karena ucapan dari Azzam barusan.
"DASAR KODOK LO!" Teriak Ziya melihat punggung Azzam meninggalkan dirinya.
Ia membenarkan hijab pashmina miliknya, dirinya melihat sekelilingnya yang tampak sepi. Tanpa berlama-lama dirinya segera pergi sebelum ada setan yang menemaninya.
Sepanjang jalan, Azzam mengusap dadanya karena masih mengingat kejadian barusan.
"Mas Azzam kenapa?"
Suara dari Farhan membuat Azzam memberhentikan langkah kakinya, terlihat Farhan tengah duduk di gazebo dan meminum teh. Azzam mengulas senyumnya, ia melangkah menemui Farhan yang merupakan santri senior di ponpes ini.
"Utamakan salam Han," tegur Azzam.
Farhan nyengir kuda, ia lupa mengucapkan salam. "Assalamualaikum, mas Azzam kenapa kok mukanya lecek gitu? Kayak cucian kotor aja."
Azzam turut duduk di samping Farhan. "Waalaikumsalam, memangnya muka saya lecek?"
Farhan menggelengkan kepalanya seraya terkekeh, mana mungkin wajah setampan Azzam bisa lecek layaknya cucian kotor? Hal yang mustahil.
"Bercanda mas, memangnya ada masalah apa?" Tanya Farhan penasaran seraya meraih teh miliknya untuk di minum.
"Saya lagi kesel sama santriwati baru di ponpes ini." Jawab Azzam seraya meraih teh yang hendak di minum oleh Farhan.
"Eh, itu teh saya mas." Farhan terkejut karena teh nya di rebut secara tiba-tiba.
"Maaf Han, refleks."
Farhan memutar bola matanya malas, dirinya hanya bisa pasrah karena mau bagaimanapun Azzam adalah cucu pengampu ponpes ini, dan juga sahabat Farhan sejak kecil.