Jika ada pilihan antara menjadi hidup dan mati, maka Arvie akan memilihnya sekarang juga. Ia teramat sangat malu dan canggung saat ini, kedua matanya bahkan tak sanggup menatap wajah wanita yang berdiri di sisinya. Tangan kanannya yang masih bertengger di bahu Maura bahkan belum terlepas, takut jika dilepas maka wanita itu akan menjauh pergi. Arvie bahkan khawatir jika Maura dapat mendengarkan degup jantungnya yang menggila sejak tadi.
Sebenarnya ia sudah menunggu Stev dan Maura di atas motornya--atas permintaan Maura sendiri. Ia hanya bisa memperhatikan keduanya dari jauh dengan mata menyipit, namun melihat beberapa pasang mata di sana yang menghujani Maura serta Stev bak alien nyasar ternyata mampu mengusik ketenangannya. Puncaknya ketika ia dapat mendengar sayup-sayup ucapan-ucapan kurang ajar yang ditujukan pada Maura, dan bagaimana wanita itu nampak bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa dan sialnya meladeninya dengan santai.
Ia tahu, langkahnya ini mungkin bisa saja akan membawa masalah baru bagi Maura. Tapi, Arvie bersumpah, tubuhnya bergerak di luar kendalinya. Hatinya turut merasakan sakit.
Maura berdeham pelan, "Kita sudah sampai."
Arvie tersentak lalu melepaskan tangannya dari bahu Maura, ia menelan salivanya gugup sambil menyodorkan helm yang sebelumnya dipakai Maura.
"Eum, jaketmu--" pergerakan Maura yang hendak melepaskan jaketnya terhenti ketika Arvie malah memakaikan helm pada kepalanya. Wajah keduanya teramat dekat hingga Maura bisa memandang rupa tampan anak tetangganya itu dengan jelas.
"Tidak perlu. Kau boleh memakainya."
Arvie diam-diam menghela nafasnya lega, kemudian memakai helmnya sendiri. Alasannya memakaikan helm pada Maura tak lain adalah karena tangannya yang gemetar hebat hingga membuatnya takut akan menjatuhkan benda tersebut jika tak segera dikenakan.
"Di mana letak kantormu?"
"Di Jalan Budaya nomor tiga kantor pusat Sarana Citra."
Usai mendapatkan anggukan dari Arvie, Maura lantas menyamankan duduknya. Meskipun perjalanan mereka hanya diisi keheningan, namun Maura dapat merasakan keriuhan memenuhi hati kecilnya.
"Di sini saja, Vie."
Arvie sontak memberhentikan motornya tepat di halte kantor besar tersebut, menerima helmnya kembali dari tangan Maura. Arvie menaikkan kaca helm untuk melihat suasana sekitar serta gerak-gerik Maura yang tengah membetulkan rambutnya. Wanita itu melepaskan jaketnya kemudian menyerahkannya pada Arvie,
"Terima kasih banyak," Maura mengulas senyum tipis.
Arvie balas tersenyum, "Maaf jika aku terlalu lancang, kuharap kau tidak terganggu. Nanti setelah kelasku selesai, aku akan langsung menjemput Stev."
Maura mengangguk singkat dengan rona merah di pipi kala teringat kejadian sebelumnya, Arvie yang melihat itu terkekeh pelan.
"Kau mau kujemput juga?"
Maura tersentak, "Tidak perlu! Aku akan naik taxi saja."
Arvie mengulum senyum, melirik gedung besar di sampingnya kemudian mengangguk, "Kalau begitu aku pamit. Sampai jumpa."
Ia menyalakan mesinnya kembali, lalu berbalik pergi menuju kampusnya. Meninggalkan Maura yang menggigit bibir bawahnya kuat, sejak kapan mereka memakai sebutan aku-kamu? keduanya tidak sedekat itu, bukan?
*
Di kelas, Arvie dengan semangat mengerjakan kuisnya tanpa kendala. Meskipun ia terkenal santai dan masih terlibat dalam beberapa kegiatan kampus, hal itu tidak menjadikan Arvie sosok yang melalaikan tugasnya sebagai mahasiswa. Selain otaknya yang lumayan encer dan minatnya yang serupa dengan sang ayah pada bidang broadcasting hal itu tentu menjadi motivasi besarnya untuk segera mendapatkan gelar sarjana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right There
RomanceArvie Jonathan (23) mahasiswa populer prodi ilkom mendadak memiliki musuh di seberang rumahnya. Bukan tanpa sebab ia membenci anak laki-laki yang dijulukinya tuyul itu, selain karena pertemuan keduanya yang tidak bisa dibilang baik, Arvie juga tidak...
