"Kebiasaan jelekmu ini lho, Vie. Apa susahnya luangin waktu buat makan? Sesibuk apapun kamu ya sempetin aja. Satu suap, dua suap gapapa! Kalau begini kamu ngerepotin banyak orang, bikin ibu sama ayahmu khawatir! Mana ayahmu baliknya lusa," omel Bu Ningsih seraya menyuapi potongan buah apel pada mulut sang putra.
Arvie mengulum senyum, membiarkan omelan itu terus berlanjut panjang bak kereta api. Lagipula yang diucapkan sang ibu ada benarnya, ia jadi merepotkan Maura dan Stev untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Kalau kamu begini lagi biar saja ibu gak bakal tengokin kamu."
Arvie terkekeh, "Kok gitu sih bu, kalau Arvie diculik gimana?"
"Ya, biar aja memang siapa yang mau nyulik orang kayak kamu. Sudah besar tingkahnya kayak anak kecil," Bu Ningsih menyuapkan potongan buah apel terakhir pada Arvie lalu meletakkan piring kosong ke atas nakas.
Arvie menggembungkan pipinya, "Gini-gini Arvie laku, Bu. Dari yang remaja sampe nenek-nenek banyak yang minat."
"Banyak yang minat tapi satu pun gak ada yang kamu kenalin ke Ibu," sahut Bu Ningsih yang membuat Arvie tersedak.
"Tunggu saja. Arvie bakal bawakan calon mantu sempurna buat ibu," ucap Arvie mantap.
Bu Ningsih menatapnya lalu menggeleng pelan, "Ya, asal jangan yang lebih tua dari Ibu."
Arvie tersenyum misterius, "Kalau lebih tua dari Arvie, boleh'kan?"
Wanita itu hanya membalas senyum sang putra dengan raut waspada.
"Istirahatlah. Kita pulang jam dua belas siang."
*
"Mommy."
Maura yang tengah menyiapkan bekal Stev mendengung tanpa menoleh, tubuh rampingnya nampak anggun dibalut stelan kerja berwarna hitam.
"Apa Pipi cudah cembuh?"
Gerakan Maura terhenti, ia melirik sang putra yang berdiri di dekat meja makan seraya menunduk dan memeluk tas kuningnya. Maura mendesah pelan, ini sudah kesekian kali Stev menanyakan hal yang sama.
"Belum, sayang. Pipi masih sakit, nanti kalau sudah sembuh kita jenguk, ya?"
Stev mengangguk pelan, "Pipi cakit apa mommy?"
Maura menutup tempat bekal Stev rapat kemudian meraih botol minumnya, ia menghampiri Stev, "Kata pak dokter Pipi kelelahan. Hayo, ulah siapa Pipi sakit begitu, hm?" Maura memasukkan bekal serta botol minum pada tas Stev, ia mengerling kala sang anak menggembungkan pipinya sedih.
"Tapi'kan Stev cudah minta maaf, Mommy."
Maura tersenyum, "Janji jangan diulang lagi?"
"Ungg, janji!"
"Oke, ayo kita berangkat sekarang. Nanti terlambat," ujar Maura menjulurkan sebelah tangannya yang langsung disambut antusias oleh Stev.
Maura memakaikan seatbelt pada Stev kemudian menyalakan mesin, begitu mobilnya berada di luar gerbang ia lantas berlari kecil untuk menutup gerbang dan menguncinya. Kali ini ia akan membawa kunci tersebut mengingat tidak ada tanda-tanda Bu Ningsih sudah pulang dari rumah sakit.
"Stev, pulang sekolah tunggu mommy jemput, ya?"
Stev sontak mengangguk semangat, "Yeay, dijemput mommy!"
*
Arvie kini nampak membaik, bibirnya tidak sepucat sebelumnya, ia kembali bugar setelah menginap semalam penuh di rumah sakit. Meskipun begitu, ada rasa bahagia di dalam hatinya. Ingatannya terus memutar detik-detik dirinya hilang kesadaran dengan usapan lembut dari tangan Maura di pipinya. Bagaimana raut wajah yang kerap menampilkan raut dingin itu menatapnya penuh kekhawatiran. Hati Arvie menghangat, dirinya benar-benar jatuh hati pada Maura.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right There
RomanceArvie Jonathan (23) mahasiswa populer prodi ilkom mendadak memiliki musuh di seberang rumahnya. Bukan tanpa sebab ia membenci anak laki-laki yang dijulukinya tuyul itu, selain karena pertemuan keduanya yang tidak bisa dibilang baik, Arvie juga tidak...
