"Eh, Kak Arvie mau ke mana?"
Arvie yang tengah membawa dua box makanan di tangannya lantas menoleh pada sosok gadis manis dari arah pintu.
"Oh, Grace. Gue mau izin keluar sebentar," ujar Arvie sambil terbu-buru mengambil dua botol air mineral.
Grace melirik box makanan di tangan Arvie lalu mengerutkan alisnya, "Tapi kak lima menit lagi kita harus mulai."
Arvie melirik arlojinya sekilas lalu kembali menatap Grace, "Elo gak bisa kalau sendiri dulu, Grace? Ini penting banget soalnya."
Tentu saja, Arvie hendak membawakan satu box makanannya pada Stev, anak itu pasti lapar.
"Gak bisa, kak. Aku takut grogi kalau sendirian, lagipula kenapa gak di telpon aja. Biar orang yang kakak cari datang ke sini."
Grace tersenyum dalam hati kala pria di depannya langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana, rautnya nampak begitu serius hingga telponnya tersambung.
"Di mana Stev?"
"Ah, dia aman'kan? Maaf, gue kayaknya gak bisa ngecek kalian sekarang. Lo datang aja ke ruang panitia."
"Yaudah, gue titip Stev sama lo, Zid. Jaga dia baik-baik."
Arvie menghela nafas lega begitu selesai mematikan panggilannya, ia menatap Grace kemudian mengangguk.
*
"Bangsat emang lo, Zid!"
Revan mengacak rambutnya frustasi, mereka bertiga baru saja membeli beberapa camilan dan tanpa sengaja meninggalkan Stev. Arvie yang baru saja menelpon Zidan dan menanyakan keadaan anak mungilnya, sontak membuat Revan menyemburkan minuman dari mulutnya.
Ketiganya kini kembali ke tempat di mana pertandingan final basket dilakukan, namun karena manusia yang mulai memadati kembali ruangan besar itu membuat ketiganya kesulitan. Zidan sudah mendatangi tempat terakhir kali Stev berada namun nihil. Anak itu tidak ada di sana.
"Anjing, lo juga kenapa gak ingetin gue sih, Van?" protes Zidan seraya menundukkan tubuhnya ke bawah, takut-takut anak itu tidak terlihat dari pandangannya.
"Ya, 'kan udah gue bilang lo stay di sini aja. Eh, malah nyusul lo, setan."
Karin yang melihat perdebatan keduanya sejak tadi hanya mengendikkan bahu tidak peduli seraya menyeruput minumannya dengan tenang, "Ribet banget sih. Nanti juga ketemu," gerutu Karin sambil membuka ponselnya.
Zidan mendelik, "Elo belum tau sih gimana si Arvie kalo ngamuk!"
Revan menghela nafasnya gusar, "Udah mending sekarang kita cari ke luar. Siapa tau belum jauh."
Ketiganya mulai mencari ke segala penjuru, berusaha menanyakan keberadaan Stev pada beberapa mahasiswa yang membuka stand makanan. Namun, tindakan itu tidak berbuah hasil karena baik Zidan, Revan maupun Karin tidak memiliki foto Stev.
"Gue mau main ke fakultas ekonomi, lo berdua lanjut aja," Karin berucap santai yang langsung mengundang tatapan sangsi dari Zidan.
"Eh, Rin. Elo jangan gini deh, nanti Arvie tau kalau lo juga ilang, kita berdua bisa abis!"
Karin mendengus, "Ya, lagian. Gue capek, gue dateng kesini buat happy-happy tapi malah ribet ngurusin bocil!"
Zidan hendak berucap namun tubuh Karin menghilang di balik lautan manusia, Revan sontak menepuk bahu Zidan pelan, "Biar gue yang kejar. Gue bakal cari Stev bareng Karin!"
Zidan mengangguk acuh, ia mengusap wajahnya kasar. Lebih baik ia datangi gerbang utama kampus saja, siapa tau anak itu ada di sana.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tiba pada detik-detik penutupan. Arvie serta Grace baru saja menyebutkan para pemenang dari beberapa Fakultas untuk Pekan Olahraga tahun ini. Tepuk tangan meriah terdengar diiringi bunyi terompet serta letusan-letusan berisik mengiringi selebrasi penutupan acara. Arvie tenggelam di dalamnya, ia tertawa-tawa bahagia hingga saat euforia itu berangsur-angsur mereda, tubuh tingginya yang lengket oleh keringat menepi sejenak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right There
Roman d'amourArvie Jonathan (23) mahasiswa populer prodi ilkom mendadak memiliki musuh di seberang rumahnya. Bukan tanpa sebab ia membenci anak laki-laki yang dijulukinya tuyul itu, selain karena pertemuan keduanya yang tidak bisa dibilang baik, Arvie juga tidak...
