Maura mendesah kecewa kala panggilannya tak terangkat untuk yang kesekian kalinya. Ia kini berada di sisi jalan, sambil berkacak pinggang menatap kap mobilnya yang terbuka. Entah mengapa mobilnya tiba-tiba mogok dan sialnya nomor bengkel langganannya pun turut tak bisa dihubungi.
Maura memandang sekelilingnya yang ramai, banyak pedagang hingga pejalan kaki namun nampaknya mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Otak cantiknya berpikir cepat sambil menatap layar ponselnya yang menyala hingga nama Arvie yang berada di urutan paling atas pada kolom chatnya membuat Maura tercenung. Mungkin saja pemuda itu bisa membantunya, tapi hal itu pasti merepotkan. Arvie telah berbaik hati menjemput Stev dari sekolah meskipun dirinya baru saja keluar dari rumah sakit. Maura tidak ingin menjadi beban bagi orang lain.
Ia hendak menghubungi Kevin namun jemarinya terhenti, pria itu juga baru saja keluar dari rumah sakit.
Maura mengusap keningnya kasar, dengan hati tak karuan ia pun menekan tombol panggilan pada nomor Arvie.
'Kalau tidak diangkat dalam waktu tiga detik maka aku akan langsung mematikan panggilan,' batin Maura.
Namun kenyataannya Arvie mengangkat panggilannya tak kurang dari dua detik. Hal yang mampu membuatnya sedikit terkejut.
"Ha-halo," Maura menggigit bibir bawahnya ragu, "Arvie, maaf sebelumnya apa kau bisa membantuku?"
"Boleh, ada apa? Kau baik-baik saja?"
Maura termenung sejenak, ia menarik nafas panjang lalu berujar pelan,
"Bisakah kau menjemputku? Mobilku mogok, nomor bengkel yang biasa aku hubungi sedang tidak aktif."
"Kirim saja shareloc-mu padaku. Aku akan menjemputmu bersama Stev."
Tepat setelah Arvie menjawab panggilannya dengan nada bersahabat, Maura langsung mematikan panggilannya. Tangan lentiknya tanpa sadar menggenggam ponsel semakin erat lalu meletakkan benda itu di atas dadanya yang berdesir halus.
*
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit bagi Arvie untuk tiba di tempat Maura berada. Wanita cantik itu tengah terduduk lesu di atas kap mobil saat Stev memanggilnya heboh.
"Mommy!"
Stev berlari kecil menghampiri Maura setelah diangkat turun oleh Arvie. Tubuh kecilnya langsung hinggap di betis ramping sang ibu seraya mendongak sedih.
"Mobilna kenapa, Mommy?"
Maura mengusap sayang rambut Stev lalu beralih pada pemuda jangkung yang tengah melepas helm seraya menyugar rambut sebahunya. Ia tersenyum kecil, "Mobilnya mogok jadi tidak bisa bergerak."
Arvie melangkah mendekati keduanya seraya mengutak-atik ponsel, tak lama dirinya bercakap dengan seseorang di sebrang telepon sambil menyebutkan titik lokasinya saat ini serta plat mobil Maura.
"Oke, gece ya pak!"
Usai memasukkan ponsel pada kantung celana, Arvie tersenyum lebar pada dua orang yang sejak tadi memang tengah memperhatikan gerak-geriknya.
Arvie berdeham kering, "Aku sudah menelpon kenalan bengkel ayahku. Dia akan segera kesini, kau tidak keberatan menunggu sebentar'kan?"
Maura mengangguk paham, "Tidak apa. Terima kasih sudah membantuku dan juga Stev."
Mendengar ungkapan tulus dari Maura membuat Arvie mengangguk malu. Keduanya saling melempar senyum canggung, hingga suara cempreng Stev menginterupsi,
"Mommy ayo ke pacal malem!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Right There
RomansaArvie Jonathan (23) mahasiswa populer prodi ilkom mendadak memiliki musuh di seberang rumahnya. Bukan tanpa sebab ia membenci anak laki-laki yang dijulukinya tuyul itu, selain karena pertemuan keduanya yang tidak bisa dibilang baik, Arvie juga tidak...
