[43] Kado Ulang Tahun dari Arvie

504 30 0
                                        

Pukul tujuh pagi Arvie turun dari kamarnya dengan penampilan bak mayat hidup. Semalam suntuk ia tidak tidur dan melampiaskan emosinya dengan marathon anime. Tubuh tingginya kini dibalut jaket abu-abu terang dengan celana levis panjang. Rambutnya nampak basah namun Arvie membiarkannya tertutupi oleh kupluk jaket.

Sesampainya di ruang makan, Arvie mengindahkan sang ayah serta Karin yang bercengkrama hangat sembari memakan sarapannya serta sang ibu yang berkutat di balik kompor. Pura-pura tak merasakan tatapan tajam sang ayah, Arvie berjalan membuka kulkas demi mengeluarkan sebuah kue yang masih tertutupi kotaknya dengan apik.

Ia pandangi kotak bening itu sejenak hingga tepukan di bahunya membuat Arvie terjingkat.

"Buat Stev ya?" tanya sang ibu dengan senyum lembut.

Arvie mau tak mau ikut memasang senyum tipis lalu mengangguk pelan, ia lantas memberikan kotak cantik itu pada sang ibu.

"Tolong berikan kue ini untuk Stev, Bu. Arvie mohon," pintanya sendu.

Melihat binar penuh harap dari bola mata sang putra sematawayang membuat Ningsih luluh. Ia lantas melirik sejenak sang suami yang sejak tadi menatap interaksi keduanya kemudian mengangguk.

"Paperbag di tanganmu juga untuk Stev?" tanya wanita itu penuh perhatian yang diangguki Arvie. Diberikannya paper bag besar berwarna kuning itu pada sang ibu, di dalamnya terdapat sebuah kotak berukuran sedang yang entah isinya apa.

"Kemarin Stev ulang tahun. Ini hadiah dari Arvie."

Bu Ningsih tersenyum mengerti lalu mematikan kompornya dan menggenggam paperbag serta kue yang diberikan oleh sang putra.

"Ibu akan memberikannya sekarang. Kau sarapanlah dulu," tuturnya.

Namun Arvie bergeming, ia masih muak jika harus berhadapan dengan sang ayah. Pria tua yang selama ini Arvie kira selalu berada di pihaknya dan mendukung segala keinginannya ternyata tak lebih dari seorang pria egois yang menyebalkan.

"Arvie tidak lapar, Bu. Hari ini Arvie izin pergi sama Zidan," ucapnya datar.

Sang ayah yang mendengar ucapannya itu lantas berdeham kencang, "Kau tidak lapar atau memang berniat sarapan di rumah tetangga seberang kita?"

Arvie membeku dengan kedua tangannya yang mengepal erat. Bagaimana mungkin pria tua itu tahu?

"Arvie memang tidak lapar. Terserah ayah mau percaya atau tidak," jawabnya dingin.

"Baiklah," sahut sang ayah dengan nada santai yang menyebalkan.

Sambil menahan rasa dongkol Arvie pergi dengan langkah lebar menuju motornya diikuti sang ibu di belakang sana. Ia memanaskan mesin kendaraan roda dua itu sejenak dan menahan mati-matian kepalanya untuk tidak melongok pada rumah di seberangnya.

Tetapi melihat sang ibu yang keluar dari gerbang rumahnya menuju rumah tersebut membuat Arvie akhirnya menatap rumah itu lagi. Alisnya mengkerut begitu menemukan sebuah mobil lambhorgini mewah terparkir di depan sana--mungkin mobil milik si bule sialan jadi-jadian.

Dengan cekatan Arvie lantas memakai helmnya lalu bersiap membawa motornya keluar dari rumah. Namun belum sempat ia berbelok pergi, sebuah pekikan familiar terdengar kencang menembus helmnya.

"Pipi!"

Stev dengan langkah tergopoh-gopoh berlari seraya membawa kotak hadiah pemberiannya. Rambut anak itu bahkan bergoyang kesana-kemari menandakan empunya yang berlari antusias. Senyum lebar yang menampilkan deret gigi susu itu sontak menular pada Arvie, namun mendapati lebam biru di sebelah pipi Stev membuat hatinya sedikit berdenyut.

Right ThereCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang