Maura melenguh pelan saat tubuhnya terasa ditimpa suatu beban yang lumayan berat, ia menyipitkan matanya sambil mengerjap beberapa kali. Bibirnya tertarik sempurna menemukan wajah sang putra yang berada begitu dekat dengannya.
"Mommy, kenapa tidul di cini?" tanya Stev.
Maura mengernyit bingung sejenak sebelum kemudian mulai menyadari posisinya yang terbaring menyamping di atas sofa. Ah, ia teringat bahwa sepulangnya dari kantor pada pukul sepuluh malam, dirinya yang begitu mengantuk tak sanggup untuk menaiki tangga dan memilih tertidur di sofa.
"Gapapa, sayang. Mommy cuma ketiduran," sambil mengulas senyum teduh, Maura menggeser tubuhnya dan membawa Stev rebah di pelukannya.
"Mommy, kemalin Pipi jemput Stev di cekolah loh!" ucap Stev menggebu yang sedikit teredam akibat pelukan gemas sang ibu.
Maura mengangguk, "He'em. Stev suka?"
"Cuka cekali! Malah kata Pipi, hali ini mau antal Stev ke cekolah cuga!"
Maura tersedak tiba-tiba, ia mengerjap beberapa kali lalu mendongakkan wajahnya pada jam dinding yang menunjukkan pukul enam. Ia menghela nafas pelan, lalu mendudukkan diri dengan Stev di pangkuannya. Dapat Maura rasakan punggung dan lehernya yang berdenyut nyeri.
"Tidak bisa, Stev. Pipi harus berangkat kuliah," ujar Maura lembut.
Stev mendongak polos, "Kuliah icu apa, Mommy?"
"Kuliah itu seperti sekolah, sayang. Jadi Stev tidak bisa memaksa Pipi untuk mengantar atau menjemput Stev setiap hari. Nanti bisa-bisa Pipi kena marah guru dan mommynya. Stev mengerti'kan?" Maura mengusap lembut punggung sempit putranya lalu melanjutkan, "Jika Pipi punya waktu luang, Pipi pasti akan menjemput, Stev."
Stev menggembungkan pipinya lucu lantas mengangguk. Maura mengulas senyum kemudian mengangkat tubuh mungil itu, mengabaikan rasa sakitnya sendiri.
"Ayo, mandi. Nanti Stev terlambat."
Namun Stev memberontak hingga Maura menurunkannya dengan raut penuh tanya.
"Stev, mau mandi cendili, Mommy!"
Maura terkejut, "Stev bisa?"
"Ungg, bica! Mommy tolong buatkan Stev telul mata capi oce!" ucap Stev seraya berlari menaiki satu per satu tangga dengan semangat.
Senyum Maura terbit, anaknya tanpa ia sadari sedikit demi sedikit telah beranjak dewasa.
*
Usai membuat sarapan serta membasuh tubuhnya yang sedikit linu, Maura mematut dirinya di hadapan cermin. Wajahnya nampak sedikit pucat ditambah kantung gelap samar-samar di bawah mata. Tangan lentiknya lantas memoleskan make up tipis untuk menutupinya. Ia tak memiliki waktu banyak untuk sekedar memoles make up tebal pada wajah tirusnya, namun Maura dianugerahi Tuhan rupa yang nyaris menjadi idaman setiap wanita.
Wajah oval kecil dengan kedua alis rucing dan hidung lancip, serta kedua mata bulatnya yang lentik--hal yang juga diwariskannya pada wajah Stev. Tak hanya itu, bibir berisinya yang selalu tampak merona merah turut menambah kesan cantik alami pada wajah sehalus kulit bayi miliknya.
Tak jarang beberapa orang yang baru ditemuinya akan langsung menerka jika ia adalah seorang wanita karir yang masih lajang lalu berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya. Namun Maura tak menganggap mereka serius. Baginya saat ini, Stev adalah yang terpenting.
"Mommy, Stev cudah ciap!"
Usai memberikan sentuhan terakhir pada bibirnya, Maura bangkit menatap penampilannya yang dilapisi kemeja satin baby pink dengan kerah pita yang dipadukan celana berwarna hitam. Rambut panjangnya ia ikat menjadi satu hingga menampilkan leher jenjangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right There
RomantiekArvie Jonathan (23) mahasiswa populer prodi ilkom mendadak memiliki musuh di seberang rumahnya. Bukan tanpa sebab ia membenci anak laki-laki yang dijulukinya tuyul itu, selain karena pertemuan keduanya yang tidak bisa dibilang baik, Arvie juga tidak...
