Tandai typo❤
____
Entah karena perasaan Adel atau memang sesuatu terjadi?
Pasca makan malam dua minggu yang lalu yang berakhir mereka pulang dengan perasaan bahagia ——karena sedikit banyak Adel diterima oleh papa Aksa.
Entah juga, mungkin itu hanya pendapat Adel saja.
Namun, hal itu membuat Adel senang setidaknya ketakutannya akan sosok misterius itu sedikit berkurang, although 'many' more dominate.
Beliau tidak lagi menatap Adel dengan tatapan dingin namun tidak hangat.
Mereka juga jadi sering bertemu lantaran beliau terlihat berkunjung ke Hilton tiga hari sekali, entah apa yang beliau lakukan di sana, yang pasti beliau datang untuk bekerja bukan? Maybe.
Saat kecemasan akan restu beliau, justru sekarang Adel merasakan keanehan pada Aksa.
Dia merasakan keanehan pada sikap Aksa, bukan hanya sikap, pria itu juga tampak berbeda selama beberapa hari terakhir ini.
Aksa kembali menjadi workaholic.
Aksa kembali menjadi orang maniak kerja.
Aksa kembali mengabaikan kesehatannya.
Hidup Aksa kembali tak teratur, bahkan beberapa kali pria itu melewatkan breakfast, lunch dan makan malam yang Adel siapkan.
Pria itu juga lebih sering lembur dan ketika di apartemen Aksa akan mengurung diri didalam ruang kerja, berkutat dengan kertas-kertas sialan yang sering kali membuat Adel mendumel kesal lantaran harus menunggu berjam-jam lamanya, namun ——berakhir mengenaskan, dia tertidur di sofa dan keesokan paginya dia terbangun seorang diri, tanpa Aksa, lagi.
Really a suckful day!
Adel ingin protes dan bertanya tapi dia tidak punya keberanian akan hal itu.
Ketakutannya akan kemarahan Aksa membuat Adel diam, di tambah lagi akhir-akhir ini komunikasi mereka buruk dan bahkan hal itu terus berlanjut hingga malam ini.
Kepala Adel menyandar sepenuhnya pada sofa, menengadah dan membuka mata lebar-lebar agar tak terlalap.
Kedua mata itu merah dan berair, beberapa kali Adel menguap menandakan betapa mengantuknya dia namun Adel berusaha untuk tetap terjaga meski kedua matanya sudah sangat perih.
"Sa."
Adel langsung beranjak saat pintu dibuka dari luar yang disusul dengan kedatangan sosok yang membuatnya cemas akhir-akhir ini.
Mereka saling berhadapan dengan jarak yang tak terlalu jauh, posisi itu membuat Adel melihat wajah kusut Aksa, gurat lelah terpancar diwajahnya yang penampilannya tampak berantakan.
"Lembur lagi?"
"Ya," balasnya pendek.
Adel menggigit ujung lidah mendengar jawaban singkat dan sikap cuek Aksa.
Bukan ini yang mau dia dengar!
"Kamu belum tidur?"
Aku menunggumu bodoh! "Tidak, aku belum ngantuk."
Adel masih menyunggingkan senyum meski bibirnya sangat gatal untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan namun dia memilih menahan diri.
"Oh, ok." Aksa mengangguk, dia berjalan melewati Adel yang berdiri kaku.
Hanya itu?
Apa Aksa tidak ingin bertanya mengapa Adel berdiri di sana?
Dan apa Aksa tidak bertanya kenapa Adel belum tidur padahal ini sudah larut malam?
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Crazy [ END ]
General FictionArea rawan baper Follow untuk membuat bab yang terkunci . . Bagaimana jadinya jika bawahan harus seatap dengan atasan yang dijuluki pria gay lantaran tidak pernah mengandeng wanita di usianya yang menginjak angka 30 tahun? "Pak, kita mau kemana...
![Mr. Crazy [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/334509918-64-k584861.jpg)