VOYAGE; 4.4

463 34 5
                                        

Sampai di kediaman Roedjati bukan hal yang mudah bagi Nusa saat ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sampai di kediaman Roedjati bukan hal yang mudah bagi Nusa saat ini. Dia tidak terlalu yakin mampu diterima dengan tangan terbuka oleh keluarganya, terutama sang mama. Papanya tidak akan peduli dengan urusan rumah, pria tua itu terlalu sibuk untuk mmengendalikan perusahaan serta mengarahkan Djati untuk menjadi pecundang sejati. Kakak Danusa itu memang sangat patuh terhadap mama dan papanya, seluruh hidupnya diatur oleh orangtua, makanya ketika bersikap juga persis seperti orangtua. Jauh berbeda dari Nusa yang memiliki jalan hidup sendiri, tidak peduli dengan arahan sang papa yang kesannya memaksa. 

"Sa, aku gugup."

Nusa menggenggam tangan perempuan itu, memberikan kenyamanan hingga senyuman Nora kembali muncul. 

"It's okay, aku ada di sini. Kamu nggak perlu cemas."

Nusa mendorong kursi roda kekasihnya, saling menggenggam tangan meski agak sulit karena Nusa ingin melakukannya. Dia tidak ingin siapa pun yang sekarang ada di rumah itu melihat kedatangan mereka sebagai sepasang sahabat saja. Nusa sudah membuat keputusan dan tidak ada yang bisa mengacaukan itu.

Ketika dibukakan pintu oleh pelayan di rumah itu, wajah yang bisa Nusa kenali adalah mamanya yang sudah menunggu di sofa yang menghadap pintu. Nusa merutuki seluruh desain rumah ini. Kesan pertama saat ada tamu yang masuk adalah intimidasi, sebab jika ada tuan rumah di sana maka akan langsung mendapati tatapan penuh kuasa si pemilik rumah. 

"Elnora!" seru Daniyara begitu melihat perempuan yang pernah mengandung cucunya datang. 

"Tante--"

Pelukan Daniyara jelas mengejutkan Nora. Belum lagi wanita itu yang langsung melepaskan genggaman tangan Nusa dari Nora. Tampak sekali jika mamanya itu sedang berusaha memisahkan Nusa bagaimana pun caranya. 

"Ya, ampun, Nora ... kamu nggak apa-apa, kan? Jangan sampai kamu kenapa-napa. Karena mama nggak akan biarin itu terjadi."

Dalam pelukan itu, Nusa mendapati mamanya yang menatap dengan sinis padanya. Begitu melepaskan pelukan, Daniyara langsung menatap lembut Nora lagi. "Kamu diapain sama Nusa? Kamu nggak ada luka, kan? Bekas cae--"

"Mama, kami datang ke sini karena mau ada yang disampaikan." Nusa sudah tepat memotong kalimat Daniyara sebelum melanjutkannya ke kata caesar

"Mau bilang apa? Ini yang mau ngomong kamu atau Nora?" balas Daniyara.

"Tante Dani, jangan marah-marah ke Nusa. Ini ada hubungannya sama aku, jadi ... tolong kasih kesempatan kami bicara, Tante."

Nusa merasakan kemenangan yang diinginkannya melalui bantuan Nora. Sungguh cara seperti ini sangat mampu membuat Daniyara bungkam. Tatapan Nusa saat ini seolah mengatakan, Mama nggak bisa lawan aku kalo Nora udah begini. 

Daniyara menghela napas. Dia mencoba untuk membiarkan putranya duduk lebih dulu dan tentu saja dengan Nora yang langsung dibawa duduk dekat wanita itu tanpa peduli protes Nusa. Bukan waktunya untuk mempermasalahkan Nora harus berada di mana, yang terpenting adalah menyampaikan niatan Nusa ini sesegera mungkin. 

"Jadi, apa yang mau kamu bilang?" tanya Daniyara. 

"Aku mau menikahi Nora, Ma."

Ekspresi Daniyara langsung menggelap. Nusa tahu apa yang ada di dalam pikiran mamanya saat ini. Jika niatan ini disampaikan sewaktu Nora diketahui hamil, maka Daniyara sudah pasti setuju. Daniyara memang wanita kalangan atas, tapi dia tidak membenci kehadiran Nora. Jika wanita sembarangan yang baru dikenal oleh Nusa, mungkin mamanya akan bersikap sinis. Namun, Nora sudah menjadi bagian dari keluarga itu. Daniyara mengenalnya dalam kurun waktu yang lama. Sudah sering mengatakan juga pada Nusa bahwa mereka cocok menjadi pasangan. Namun, Nusa saja yang tergila-gila dengan perempuan lain yang tak bisa digapainya. 

"Kamu ... bilang apa?"

Nusa tidak cemas dengan reaksi sang mama, tapi dia cemas dengan reaksi Nora yang tampaknya takut mendapatkan penolakan. Di pikiran Nora, penolakan dari Daniyara pasti karena latar belakangnya, padahal bukan itu. 

"Aku mau menikah dengan Nora. Mama nggak akan mempermasalahkan mengenai latar belakang keluarga Nora yang nggak sempurna, kan? Aku tahu mama suka dengan Nora, jadi nggak ada alasan untuk menolak."

Nusa menekankan kalimatnya yang menjurus pada alasan sebenarnya mengenai ketidaksetujuan Daniyara. 

"Bukan, mama nggak mempemasalahkan soal latar belakang Nora. Mama tahu kehidupannya, mama sudah anggap Nora sebagai anak mama sendiri. Yang bikin mama nggak bisa paham ... kenapa baru sekarang? Apa Nora hamil lag--"

"Nora nggak hamil, tapi aku akan melakukannya kalo mama nggak menyutujui keinginanku ini. Atau aku bisa aja nikah tanpa restu."

"Nusa, kamu kenapa bilang begitu ke mama?" Nora menengahi. "Mama, aku nggak bermaksud bersikap nggak tahu diri. Aku minta maaf karena bikin Nusa mau nggak mau memilih aku jadi pasangan."

"Nora, kamu nggak salah apa pun untuk ini. Yang salah adalah Danusa sendiri. Dia sudah terlalu lama menjunjung tinggi status persahabatan kalian!"

"Untuk itu aku mau menikahi Nora sekarang. Jadi, aku mohon, berikan kamu restu, Ma."

Dari ekspresi Daniyara sudah ada kalimat tak percaya, Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu hanya akan menyakiti Nora. Namun, Nusa tidak akan berhenti. Dia akan tetap menikahi Nora dan menebus kesalahannya. 

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang