VOYAGE ; 5.5

406 38 4
                                        

[Hai! Aku update lagi! Untuk yang suka baca duluan, aku juga udah upload chapter 9 full di Karyakarsa Freelancerauthor. Wah, menjelang konflik ideku makin lancar euy. Hahaha. Happy reading semuanya!]

"Sa," panggil Nora.

"Ya? Kenapa?"

Nora menyangga dagunya di atas dada sang suami dan mengucapkan hal yang agak tidak bisa membuat Nusa tenang sepenuhnya. Sebab apa yang Nora sampaikan seakan menggali jawaban jujur dari pria itu.

"Kamu tadi nyadar nggak, sih? Pas kamu bilang kamu cinta sama aku, tatapan mata kamu itu ... kayak apa, ya? Kayak ... I see there's something burning inside you."

Nusa sudah pasti tidak akan membuat jawaban yang akan menjebak dirinya sendiri. Dia mengelak pelan-pelan dengan mengatakan, "Aku bahkan udah pernah menyatakan bahwa aku memiliki rasa yang lebih dari sekedar teman atau sahabat ke kamu. Tadi itu bukan pertama kalinya aku menyatakan bahwa aku cinta kamu, Nora."

"Ya, itu memang bukan pertama kalinya. Tapi aku ngerasa beda banget. Kamu paham nggak, ketika ada perdebatan di dalam diri kamu dan kamu merasakan banyak emosi, itu semua tergambar jelas tadi. Makanya, aku kayak terhipnotis sampe nggak bisa merespon apa pun."

Nusa mengusap rambut istrinya yang tergerai, mengusap-usap pipinya dan tidak langsung menanggapi setiap tebakan perempuan itu yang memang luar biasa tepat. Nusa takut jika memang Nora mengingat sesuatu, tapi semua tebakan Nora itu memang hanya intuisi saja yang tidak bisa Nora buktikan di kepalanya. Untung saja ingatan itu tidak membuat Nora merasa terancam dengan berada di dekat Nusa.

"Aku nggak ingin membuat semua persepsi kamu itu malah membuat kamu salah sangka dengan perasaannku yang sebenarnya. Aku ini nggak mau hubungan kita dibuat kerikilnya dari hal begini. Apa pun yang membuat kamu ragu denganku  itu hanya persepsi. Aku dan kamu adalah pasangan yang saling mencintai."

"Ya, tentu kita adalah pasangan yang saling mencintai. Kalo kamu nggak cinta aku, kamu pasti nggak akan mau menikahi aku apa pun alasanya, kan?"

Duar!!!

Nusa merasakan peluru yang begitu besar dan panas mengenai tepat di jantungnya, hingga dia tidak bisa bernapas denga baik untuk beberapa saat. Nusa takut jika ucapan itu berdasarkan ingatan Nora lagi.

"Nora? Apa yang kamu bicarakan?" tanya Nusa.

"Apa? Kalo kamu nggak cinta aku, pasti kamu nggak mau nikahi—"

"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?" Apa kamu mulai ingat sesuatu?

"Aku hanya menyimpulkan sendiri, Sa. Orang mana yang mau menikah tanpa cinta? Maksudku, sekalipun di kehidupan yang nggak aku ingat, aku mencintai kamu lebih dulu dan kamu nggak, itu hal yang wajar bagi kamu untuk nggak mau menikah dengan aku. Iya, kan? Nggak cuma kamu yang akan begitu, orang di luaran sana juga akan memilih untuk menikah dengan seseorang yang mereka cinta dan mencintai mereka."

Nusa harus mengakui bahwa dia terlalu ketakutan dengan ingatan yang bahkan tidak muncul ke permukaan sama sekali. Perempuan itu tidak menunjukkan tanda-tanda mengingat masa lalunya mengenai hubungan mereka yang sangat kacau sebagai sahabat. Salah Nusa sendiri yang memaksakan diri untuk menikah dengan Nora disaat ketakutan akan ingatan Nora datang kembali alah ditutupi dengan licik olehnya sendiri. Inilah risiko yang harus Nusa hadapi, dia tidak bisa tenang sepenuhnya menjalani pernikahan akibat takut jika sewaktu-waktu Nora mengingat segalanya dan pergi meninggalkannya.

Pertanyaannya, kenapa Nusa tidak mau Nora meninggalkannya? Apa benar bahwa dia memang memiliki rasa untuk Nora? Setiap kata cinta yang disampaikannya pada Nora, apakah itu memang berasal dari alam bawah tidak sadarnya yang menyimpan perasaan untuk sang sahabat juga sejak lama? Tapi jika dia menyimpan cinta untuk Nora, kenapa dia menginginkan Geografi sebelumnya? Kenapa dia membiarkan Nora berjuang sendirian dengan kehamilannya? Kenapa dia tergila-gila dengan Geografi hingga membuat Nora berujung mengalami kecelakaan?

"Nusa? Kamu kenapa?"

Nusa menggeleng pelan dan kembali menatap istrinya.

"Berhenti menggunakan panggilan nama satu sama lain. Gimana?" ucap Nusa yang sengaja mengalihkan pertanyaan Nora.

"Terus mau panggil apa?"

Untung saja cara itu berhasil. Nusa berpura-pura untuk berpikir, dan dia mengusulkan panggilan tambahan di depan namanya. "Mas Nusa nggak buruk."

"Nggak cocok, deh. Kalo Mas Djati, itu cocok banget. Wibawa mas-masnya juga dapet banget. Kalo kamu nggak pantes."

"Kamu ini malah mengagumi kakakku! Kamu pikir aku nggak bisa cemburu?"

"Begitu aja ngambek. Iya, deh, aku panggil Mas. Karena kamu suami yang aku cinta. Mas Nuta, Mas Nusa yang aku cinta. Begitu mantap, kan?"

Dengan kompak mereka berdua tertawa. "Kamu bisa alay juga, ya, Ra. "

"Loh? Kok, manggil aku masih Nora Nora aja? Embel-embel di depannya apa?"

Nusa kembali memikirkan panggilan yang tepat. "Mon Nora?"

"Apa Mon? Monster?"

"Nggaklah. Dalam bahasa Prancis itu artinya my jadi Mon Nora, My Nora."

Nora langsung menggeleng tak suka. "Mine aja. Nggak usah Mon Mon."

Nusa kembali tertawa dibuatnya dan langsung menarik istrinya itu dalam pelukan. "Oke. Mine."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang