Sejujurnya Nora kebingungan. Jika saja yang datang menemaninya untuk memeriksakan kandungan adalah Nusa sendiri, dia tidak akan sepanik dan sebingung ini. Lebih tepatnya dia tidak akan semalu ini. Membuat ruangan pemeriksaan dokter spesialis yang harusnya tidak membuka jam praktik seperti ini sungguh membuat malu bagi Nora. Tapi mau menolak pun bagaimana? Yang punya kuasa dan uang memang Nusa dan keluarganya. Garis bawahi, keluarganya! Artinya yang memberika tekanan bukan lagi Nusa seorang saja, melainkan satu keluarga Roedjati.
"Kantung janinnya ada." Si dokter berkata.
"Artinya apa, Dok? Udah langsung aja ke intinya." Nusa tampak begitu tidak sabar sama sekali.
"Hm, ya, hamil, Pak."
Nora mengamati seluruh ekspresi dari keluarga itu. Yang paling jelas adalah mereka semua menghela napas, memejamkan mata, dan tampak antara mau bersyukur atau sedih. Iya, itu benar-benar yang Nora baca. Keluarga Nusa seperti tidak sepenuhnya siap dengan kabar kehamilan Nora.
"Kita udah dapat hasilnya, Mama ikut yang lain untuk nunggu di luar. Kamu ikuti semua instruksi yang dokter sampaikan. Jangan sampai ada pembahasan yang nggak kamu ngerti tanpa penjelasan. Kamu harus jaga kehamilan Nora ini."
Begitu Daniyara keluar dari ruangan, yang bisa Nora lakukan hanyalah menatap suaminya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan kebara kehamilannya yang seperti ditahan-tahan oleh Nusa dan keluarganya.
"Kenapa keliatannya Mama nggak senang dengan kabar kehamilanku, Sa?" tanya Nora yang tidak bisa menahan diri meski tahu ada dokter di sana yang mendengarkan mereka.
"Mama memang begitu, dia nggak pernah bersikap terlalu berlebihan dengan kabar bahagia karena bahagia yang berlebihan bisa mendatangkan hal yang mengecewakan baginya."
Meski penjelasan itu terdengar tidak masuk akal, tapi tidak ada yang Nora lakukan selain menerima jawaban itu saja. Dia membiarkan Nusa untuk terus bertanya pada dokter kandungan dan mereka pulang lebih malam dari perkiraan.
Tentu saja ada perdebatan lebih dulu juga sebelum mereka benar-benar pulang ke rumah masing-masing. Daniyara memberikan pendapat kepada Nusa untuk memberikan izin agar Nora tinggal saja di rumah orangtua pria itu. Namun, seperti yang sudah-sudah, Nusa tidak mau. Dengan sedikit adegan keras kepala antara ibu dan anak, akhirnya perdebatan itu berhenti dengan Djati yang menengahi. Jika terjadi sesuatu pada kondisi kehamilan Nora, maka nantinya Nora akan dibawa tanpa memerlukan izin dari Nusa utuk tinggal bersama Daniyara agar diurus oleh wanita yang lebih pengalaman mengenai kehamilan.
"Sa," panggil Nora.
Perempuan itu duduk di pinggir ranjang dengan gaun tidur longgar yang sudah bersih dan rapi. Sembari mengamati kegiatan Nusa yang membuka komputer sebelum nantinya ikut beranjak ke tempat tidur.
"Hm?"
"Kamu bahagia nggak, sih, dengan kehamilanku ini?"
Tidak tahu kenapa Nora ingin sekali menanyakan hal ini sejak mereka sudah mendapatkan hasil yang jelas dari dokter kandungan tadi.
"Ya, bahagia, Ra. Pertanyaan kamu itu aneh sekali."
"Menurutku nggak aneh sama sekali."
Nusa langsung menoleh pada Nora yang tidak melepaskan tatapannya juga dari sang suami. Dia tahu apa yang ingin disampaikan karena perasaannya yang mendorongnya demikian.
"Kamu merasa aku nggak bahagia dengan kabar kehamilan kamu?" tanya Nusa bingung.
"Aku ngerasa reaksi kamu dan keluarga kamu sangat aneh untuk mendengar kabar kehamilanku. Aku nggak tahu apa, tapi aku jadi merasa bahwa segalanya nggak seperti pertama kalinya kalian hadapi. Reaksi kalian tadi itu kayak ... 'Ternyata benar, ini lagi yang harus kita hadapi,' gitu."
Nusa dengan cepat menggelengkan kepalanya. Pria itu tampak tidak mempercayai apa yang keluar dari mulut Nora.
"Nggak ada yang kayak gitu, Elnora. Lain kali kamu jangan memikirkan hal-hal begitu. Itu hanya karena kamu terlalu cemas dengan kehamilan kamu ini. Kalo kami nggak bahagia, untuk apa tadi aku dan Mama saling ngotot untuk menjaga kamu di rumah mana?"
Nora masih belum sepenuhnya puas dengan jawaban suaminya. Insting dari perempuan itu mengatakan bahwa kehamilannya memang bukan bagian yang ditunggu oleh siapa pun di keluarga itu. Seolah mereka sudah menebak bahwa kehamilan ini akan membawa masalah pada mereka.
Memikirkan semua itu membuat Nora tanpa sadar menitikkan airmata. Membuatnya merasakan sesak bahwa dirinya dan anaknya tidak diterima secara penuh. Emosi itu ... jelas terasa tapi tidak pernah Nora ingat pernah ada.
"Nora ... hei. Lihat aku. Nora."
Nusa memaksa agar Nora menatap pria itu. Dengan cepat Nora mengusap pipinya dan membalas tatapan Nusa yang bersimpuh sambil menggenggam tangan perempuan itu.
"Aku sangat bahagia dengan kehamilan kamu. Aku akan segera menjadi ayah. Tapi aku juga gugup, takut kalo aku ternyata nggak bisa jadi ayah yang baik utnuk anak kita. Aku tegang memikirkan penjagaan seperti apa yang harus aku lakukan untuk menjaga kamu yang sedang hamil. Tolong berhenti untuk berpikir bahwa aku nggak bahagia. Ya? Mari kita berjuang bersama untuk jadi orangtua yang baik untuk anak kita."
Nora mengangguk tanpa menyampaikan emosi yang terasa seperti meledak dalam dirinya kepada Nusa. Dia simpan segala resah dan rasa kecewa yang anehnya ada itu sendiri. Menerima pelukan dari suaminya, merasakan kehangatan tubuhnya, Nora berharap untuk bisa merasa lebih lega karena keberadaan dan kasih sayang Nusa yang jelas-jelas ada untuknya. Nora berharap bahwa apa yang dirinya takutkan bukanla hal yang perlu terus dipikirkan, yang terpenting adalah apa yang dirinya jalani bukan apa yang dirinya takutkan tanpa adanya alasan jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
Storie d'amoreThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
