Hampir seluruh anggota keluarga Nusa ikut menunggu dengan cemas di luar ruangan tindakan. Nusa sendiri tidak bisa masuk karena memang itu termasuk regulasi yang harus dipatuhinya. Dia hanya bisa masuk di bagian pintu operasi depan, dan sisanya Nusa tidak masuk karena sterilitas dan demi kenyamanan pasien lain juga. Nusa bisa merasakan betapa dinginnya suhu ruangan operasi saat Nora dibawa masuk, dia tidak bisa membayangkan bagaimana menggigilnya Nora saat ini. Terlebih, hanya sehelai kain saja yang membungkus tubuh perempuan itu tadi.
"Nusa."
Nusa seperti mendengar namanya dipanggil, tapi dia tidak merasa bahwa yang memanggil namanya ada di sana.
"Nusa, berhenti menggerakan kaki dan tangan kamu!"
Nusa menoleh. Dia mencari siapa yang menegurnya.
"Hm?"
Daniyara menekan tangan putranya dan baru Nusa sadari bahwa yang bicara padanya sejak tadi adalah mamanya sendiri.
"Mama ngomong ke aku?" ucap Nusa.
"Siapa lagi? Yang dari tadi bikin kursi tunggu geter itu kamu, Danusa!"
Nusa tidak sadar jika dia melakukan hal itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana kondisi Nora. Melihat perempuan itu masuk ruang operasi, sama dengan melihat kenangan dimana Nora mengalami kecelakaan waktu itu. Nusa tidak bisa menghentikan gerakan kakinya karena dia merasa sangat cemas menunggu Nora keluar dari ruangan itu. Dia tidak pernah membayangkan bahwa akan kembali dibuat setakut ini kehilangan.
"Oh, maaf. Aku nggak sadar ngelakuin itu."
Nusa kembali terdiam karena memikirkan kondisi Nora. Hal lain tidak akan berpengaruh kepada Nusa, hanya nama Nora yang bisa mempengaruhinya sekarang ini.
"Suami Ibu Elnora! Suami Ibu Elnora!"
Teriakan dari salah satu perawat membuat Nusa langsung bangkit dari kursinya dan segera mengikuti kemana perawat itu membawa. Di pintu bagian depan ruangan operasi, Nora terlihat belum sepenuhnya sadar meski hanya dibius separuh.
"Nora?"
Mata Nora sangat sayu, dia hanya memberikan anggukan lemas kepada Nusa. Seluruh keluarga Nusa ikut berjalan di belakang dan mereka membawa Nora di ruangan yang sudah disiapkan.
Nusa mendengarkan seluruh instruksi mengenai apa yang boleh dan tidak boleh setelah beberapa jam pasca operasi Nora. Sepanjang momen itu, Nusa memberikan fokus sepenuhnya untuk istrinya itu. Dia belum bisa memikirkan bayinya, bukan karena tidak menyayangi atau tidak menginginkannya, tapi karena dia memang ingin ada sepenuhnya untuk Nora.
"Mama mau kami bawakan makanan? Aku dan Anjani mau beli makanan."
Daniyara memberikan jawabannya dan ketika bertanya pada Nusa, dia hanya membalas seadanya. "Aku makan apa yang ada aja."
"Dia masih marah sama kamu. Udahlah, kamu bawakan aja makanan yang bisa kamu bawa. Nggak perlu kamu tanya adikmu yang masih mode nggak bisa disenggol."
Nusa tidak memberikan fokus sama sekali, dia terus menatap Nora yang begitu lemas dan tidak terlihat sanggup bicara banyak. Ah, sungguh Nusa tidak sanggup untuk melihat Nora seperti ini.
***
Nora mendapati Nusa yang masih saja setia menatapnya tanpa berpindah posisi sama sekali. Hal itu agak menyeramkan, tapi juga membanggakan. Rupanya Nusa bisa bersikap penuh dedikasi seperti ini. Kalau ini yang terjadi dulu, mereka tidak akan kehilangan anak pertama mereka, kan?
Ah, sial. Kenapa aku malah berandai lagi? Mungkin karena Nora berada di fase pasca melahirkan yang penuh dengan emosi yang mudah naik dan turun, makanya pemikiran itu kembali lagi.
"Nusa," panggil Nora.
"Hm? Ya? Kamu butuh apa?"
"Aku haus."
Nusa bergerak untuk mengambil segelas air dan mengarahkan pipet kepada sang istri. Nora minum dengan cukup banyak dan selanjutnya minta makan bubur ayam.
"Aku turun beli dulu, ya. Sebentar."
Nusa bergerak dengan cepat. Tidak mau membuat Nora menunggu terlalu lama. Melihat semua perlakuan itu, Nora menjadi tersenyum lega. Dia tidak perlu mengkhawatirkan Nusa yang akan bersikap dingin dan cuek padanya. Nora tidak harus mengemis perhatian pria itu lagi seperti dulu.
Gila. Entah kenapa Nora kembali mengingat masa itu, membuatnya tersenyum tapi air matanya mengalir.
"Aku kenapa, sih?" tanya Nora pada dirinya sendiri.
Orang-orang tidak terlihat di ruangannya, artinya memang mereka semua pergi dan hanya Nusa yang menemani. Nora sendiri tidak tahu sekarang sudah jam berapa, dan dia juga tidak berniat untuk membuka layar ponsel karena perasaannya masih campur aduk pasca melahirkan.
Ah, mengingat kondisinya yang sudah tidak lagi mengandung, Nora baru menyadari bahwa seharusnya dia menanyakan bayinya. Tidak terlihat boks bayi di ruangan itu. Artinya memang sang bayi belum dibawa kesana. Dengan perlahan, Nora menggerakan tubuhnya meski terasa tidak nyaman. Menurut perawat yang beberapa kali datang memeriksa, memang lebih bagus jika Nora mulai belajar berjalan perlahan. Kali ini Nora akan manfaatkan belajar berjalannya menuju ruang bayinya. Tanpa berpikir bahwa Nusa akan mendramatisir keadaan begitu datang ke ruangan tanpa mendapati keberadaan Nora di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
