Voyage : 15.4

199 24 1
                                        

Siapa yang bilang bahwa jatuh cinta dengan orang yang sama berkali-kali adalah hal yang mustahil? Itu tidak mustahil sama sekali. Buktinya Nusa menjalaninya. Dia tidak menyangka bahwa bayangan lekuk tubuh Nora bisa mengacaukan dirinya dan membuatnya kembali membayangkan tubuh Nora saat pertama kali melakukannya. Kenapa nggak ada yang berubah, sih?

Nusa bingung kenapa bentuk tubuh Nora tidak banyak berubah meski sudah memiliki anak. Parahnya, ditutupi dengan helaian tipis bikini malah semakin menambah daya tarik perempuan itu. Untung saja tadi pelatih renangnya adalah perempuan, coba saja jika laki-laki, akan langsung Nusa obrak-abrik apa pun yang mamanya siapkan. Kadar cemburu Nusa tidak akan bisa ditolerir.

Pintu kamar Nusa diketuk, saat dibuka, ada wajah Daniyara yang mendekap Dambha.

"Kenapa, Ma?"

"Gendong ini anakmu. Mama mau mandi."

"Nora kemana, Ma?" tanya Nusa yang tetap menerima Dambha untuk berganti masuk dalam gendongannya.

"Masih latihan renang. Lagian kamu ini gurus anak aja masa iri Nora terus? Kamu harus bisa mengurus Dambha kalau Nora lagi sibuk-sibuknya."

Nusa bahkan belum mengatakan apa-apa, hanya satu pertanyaan itu saja. Namun, mamanya sudah memberikan banyak kalimat panjang. Seolah Nusa tidak mau mengurus Dambha.

"Aku baru tanya Nora kemana, Ma. Tapi Mama udah bikin presepsi sendiri. Aku nanya Nora bukan buat ngurusin Dambha, tapi karena aku mau tahu ibu dari anakku dimana."

Daniyara menyipitkan kedua matanya karena bahasa yang digunakan putranya itu. "Ibu dari anak kamu. Memang dasar pintar bicara kamu ini seperti Papa kamu. Udah, urus Dambha sampai ibunya selesai latihan renang. Jangan merengek ke pengasuh juga. Kamu papanya, mulailah urus anakmu dengan baik. Bangun ikatan dengan anakmu sejak dari bayi."

Daniyara segera meninggalkan Dambha dan Nusa. Dan tentu saja itu bukan hal yang sulit. Nusa tetap bisa mengurus Dambha. Meski pikirannya tetap berlarian pada bayangan tubuh ibu Dambha.

"Mama kamu kenapa jadi ikut-ikutan latihan renang, sih? Mana pakai bikini pula. Papa jadi nggak bisa apa-apa."

Nusa rasa memang itu salah satu ide mamanya. Sengaja sekali wanita tua itu menguji keteguhan hati putranya sendiri seperti menguji sang suami.

"Nenek kamu itu punya dendam kesumat apa coba sama kakekmu? Sampai Papa juga ikutan dikasih ujian yang sama dari nenek kamu itu. Kalo aja Mama mau rujuk sama Papa, kita pindah dari sini. Pengaruh nenekmu ke Mama nggak bagus. Papa nggak suka."

Nusa benar-benar bicara sendiri karena Dambha juga tidak tampak tertarik dengan apa yang papanya ucapkan. Untungnya bayi itu tidak menangis dan sibuk menggerakan tangan dan kakinya yang gembul karena asupan ASI yang tidak kurang.

"Enak, ya, Dambha. Kamu bisa deket-deket Mama setiap hari, setiap jam. Lah, Papa? Mama kamu dideketin aja langsung jaga jarak. Padahal Papa kangen sama kelakuannya yang nggak mau Papa pergi kemana-mana. Mama itu cemburuan, sekarang bisa jadi sejauh itu perbedaaannya. Dari jaman kuliah, Mama yang ngejar Papa, loh. Sekarang ada kamu, Mama malah nggak peduli nanyain kabar Papa kalo lagi sibuk-sibuknya kerja."

Dambha menanggapi ucapan Nusa dengan ocehan sendiri yang tidak teridentifikasi arti bahasanya.

"Iya, Papa kangen sama Mama. Makanya Dambha harus bantuin Papa supaya bisa ambil hati Mama lagi. Oke?"

Nusa tersenyum karena bayinya memberikan tanggapan yang meski asing, tapi asik juga untuk didengarkan. Suara bayi Dambha mampu membuat Nusa tersenyum lebar. Begini rupanya rasanya mencintai seorang anak. Berbeda dari mencintai pasangan. Pantas saja Daniyara selalu berusaha ikut campur dan tidak mau anaknya melakukan kesalahan terlalu jauh. Karena rasa cinta orangtua untuk anaknya tetap sama besarnya meski sang anak sudah berubah dari masa kecilnya.

"Dambha anak siapa? Anak Papa Danusa. Dambha anak siapa? Anak Mama Elnora. Dambha suka makan apa? Makan susunya Mama. Dambha suka minum apa? Suka minum susunya Mama. Padahal itu kesukaan Papa. Sekarang jadi jatahnya Dambha."

"Nusa!"

Nusa menoleh dan mendapati mantan istrinya memasang wajah kesal tapi memerah. Nora mendekati Nusa dan memukul bahu pria itu.

"Kamu sembarangan banget ngajarin Dambha begitu?!"

"Aduh, aduh! Aku cuma bilang jujur. Lagian aku nggak pake bahasa yang vulgar, Ra."

Nora yang kesal pun langsung menggendong Dambha dan membawa bayi mereka untuk keluar dari kamar Nusa.

"Loh? Tadi Mama yang nyuruh aku ngasuh Dambha, Ra. Kok, malah kamu bawa?"

Nora berhenti sejenak dan menatap dengan tajam pada Nusa. "Kamu harus refleksi mulut kamu itu! Awas aja kalo besok-besok masih ngomong sembarangan!"

"Ini ceritanya aku kamu hukum? Ra? Elnora!"

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang